Monday, December 24, 2012

Ankaa Cacar Air

Minggu terakhir Ankaa sekolah, gurunya mengatakan bahwa banyak siswa yang sakit cacar air. Saya berdoa aja semoga Ankaa ga ketularan.

Hari Senin, 17 Desember, sepulang sekolah Ankaa mengeluh ada sariawan di bibirnya. Satu hal yang membuat saya agak heran karena Ankaa cukup makan buah. Setelah saya lihat lagi, ada dua benjolan di dekat hidung dan di kening. Saya nggak mikir bahwa itu cacar air. Saya pikir itu karena hari sebelumnya, Ankaa makan telur puyuh terlalu banyak (dulu pernah kejadian).

Sorenya, benjolan makin banyak. Fath menyimpulkan bahwa Ankaa kena cacar air. Saya masih ragu-ragu karena saya sendiri belum pernah kena cacar air (Alhamdulillah). Kami putuskan membawa Ankaa ke dokter esok paginya.

Pagi-pagi bener, saya bawa Ankaa ke dokter. Dan vonis pun jatuh: cacar air. Dokter memberi kami Acyclovir untuk mencegah penyebaran benjolan cacar. Tetangga menyarankan salep Clinovir supaya benjolan cacar lebih cepat mengering. Saya sms dokter untuk menanyakan tentang salep ini dan blio setuju untuk memberi Clinovir. Saya harus ninggalin Ankaa karena ikut bazaar sekolah (ada titipan dagangan juga soale). Untung Fath bisa izin kantor dan balik kantor ba'da Dhuhur.

Saya tambah treatment-nya dengan air daun sirih untuk mandi, bedak Salicyl untuk mengurangi gatal, dan air kelapa hijau. 

Sampai hari Kamis, rutinitas Ankaa adalah bangun tidur-mandi-sarapan-minum obat-tidur-makan siang-minum obat-tidur-mandi sore-ngemil-makan malam-minum obat-tidur. Dan kebetulan badannya juga lemas jadi bawaannya tidur terus. Untung selera makannya juga tetap bagus meski agak sulit makan karena ada benjolan cacar di bibir.

Kesulitan lain adalah saya yang belum pernah kena cacar air. Nggak mungkin dong saya mengkarantina diri sendiri atau Ankaa. Sebagai langkah pencegahan, saya pakai masker dan sebisa mungkin menghindari kontak kulit. Ini yang bikin sedih karena sama sekali nggak bisa peluk Ankaa saat dia sakit. Tiap kali habis mandiin atau kasih obat atau apa pun yang kena kulit, saya langsung cuci tangan. Saya juga menyingkirkan semua cermin karena mental Ankaa jatuh banget saat melihat kondisi kulitnya.


Hari Jum'at, Fath pulang sebentar untuk ambil rapor Ankaa. Walikelasnya memberitahukan bahwa dari 25 anak di kelas Ankaa, ada 19 anak yang terkena cacar air. Jadi ada siswa yang kena cacar dan belum sembuh total tapi minta masuk sekolah waktu berenang. Saat diminta pulang oleh guru, walimurid ybs malah nggak terima. Dan jatuhlah 19 korban dalam sekelas.

Alhamdulillah hari Jum'at itu juga kondisi Ankaa mulai membaik. Badannya mulai segar lagi. Bekas cacarnya juga sudah mengering dan menghitam. Malah hari ini sudah mulai mengelupas dengan sendirinya.

Ringkasnya, ini treatment selama Ankaa cacar air:
  • Acyclovir 3 kali sehari selama empat hari, tapi hanya efektif jika diberikan saat cacar air baru muncul untuk mencegah benjolan cacarnya meluas.
  • Salep Clinovir, dioleskan tipis di benjolan cacar dengan cotton buds supaya benjolannya lebih cepat mengering dan tidak pecah. Kalau pecah kan malah menyebar ke mana-mana.
  • Mandi dengan rebusan air daun sirih. Saya tidak gunakan sabun atau shampoo karena kuatir proses menggosok badan bisa memecahkan benjolan cacar. Untuk bagian wajah, saya tepuk pelan dengan handuk yang dibasahi air daun sirih.
  • Bedak Salicyl untuk mencegah gatal.
  • Stop seafood dan telur. Saya coba kasih Ankaa ikan air tawar dan Alhamdulillah tidak ada masalah. Si bocah malah udah wanti-wanti begitu sembuh minta dibikinin bawal bakar spesial.
  • Banyak minum, makan buah segar, dan madu untuk menjaga daya tahan. Namanya juga lawan virus, semakin bagus daya tahan tubuh, semakin cepat virus pergi.
  • Sering cuci sprei dan handuk. Total selama seminggu ini, saya sudah cuci sprei empat kali dan handuk dua kali. 
  • Olesan parutan jagung untuk mengurangi bekas cacar air.

Semoga seminggu ke depan, bekas cacar sudah mengelupas semua. Tinggal berharap bekasnya hilang sebelum liburan sekolah berakhir. Amiin....

Update 30 Desember 2012: ternyata pake minyak zaitun lebih cepat memulihkan bekas cacar air. Jagungnya dijadiin bakwan aja :D

Sunday, December 23, 2012

Jatim Park 2 dan Pohon Inn

Setelah tertunda sebulan, akhirnya ini posting jadi juga. Fhew....

Meski asal Malang, kami sama sekali belum pernah wisata keluarga ke Batu. Sekali-kalinya ke Batu sama Fath ya waktu masih pacaran dulu. Itu juga sekedar makan indomie berdua ahak ahak. Lagian saban mudik Idul Fitri, itu kendaraan ke arah Batu banyak bener. Naga aja nggak sepanjang itu :(

Itung-itung merayakan ultah Ankaa (Oktober) dan anniversary kami yang keenam (Desember), yuk mari ke Jatim Park 2 (JP2) sekalian nginep di Pohon Inn (PI). Sengaja milih nginep di hotel karena Ankaa penasaran tentang gimana sih nginep di hotel itu? Trus denger punya denger, kebun binatang di JP2 bagus. Lokasinya juga deket ke JP1 dan Batu Night Spectacular, in case kami mau jalan-jalan malam.

Kami pilih kamar yang paling murah, tipe Superior (440k per malam). Pesen dari sebulan sebelumnya dan diminta bayar deposit 50%. Petugas reservasinya helpful dan sempat beberapa kali nelpon balik buat mengkonfirmasi.





JP2 buka jam 10 pagi. Kami beli tiket terusan (60k per person) biar bisa masuk ke Museum Satwa (MS) dan Batu Secret Zoo (BSZ) sekalian. Sebenernya ada wahana baru, Eco Green Park (40k per person). Tapi nggak dulu deh, kayanya waktunya juga ga cukup. Lagian berhubung masih baru, EGP ini nggak masuk dalam tiket terusan :(

Fath ngeyel mau menggembol ranselnya yang segede gaban. Udah dibilang titipin aja ke resepsionis, eh ga mau. Giliran check in jam 2 siang, malah mbak resepsionisnya nyaranin nitip aja. Hua ha ha ha.....makanya istri ini biar kece, mbok ya didenger :D

Wahana pertama yang dituju adalah MS. Isinya ya diorama binatang yang diperankan oleh awetan satwa. Pas masuk, kayanya kecil neh. Tapi ternyata ruangannya dibikin kaya labirin berliku-liku. Awal masuk ada dinosaurus. Setelah itu serangga, ikan, dll dll dll. Sampe sapi juga ada. Yang saya paling suka tuh diorama kutub. Kapan lagi ngelihat beruang kutub gitu :D Lightingnya juga disesuaikan dengan tema, jadi ada yang temaram gitu.


Apesnya, pas baru masuk, Ankaa minta pipis. Saya bawa Ankaa ke pintu masuk, maksudnya minta izin lewat trus ngajak Ankaa pipis di restoran hotel atau mana lah yang deket. Tapi petugasnya menolak dan memberitahu kalo toilet ada deket diorama sapi. Larilah saya nyari si sapi ini di mana. Dan ternyataaa.....itu toilet baru saya temukan setelah kurleb limabelas menit jalan cepat kebingungan. Rasanya seperti Minotaur deh :( Tolong ya manajemen JP2, itu petunjuk toiletnya diperbanyak. Dan kalo bisa, lokasi toiletnya diperbanyak juga. Saya nyasar ke beberapa ruangan, nanya sana sini, sebelum akhirnya melihat tulisan TOILET. Untungnya toiletnya bersih dan kering.


 



Dan coba yaaa.....waktu besoknya saya jalan-jalan pagi, ada loh toilet di sisi kanan pintu masuk. Iya sih harus disiplin keluar ya lewat pintu keluar. Untung Ankaa masih bisa nahan. Lha kalo ngompol di tengah museum saat saya lari-lari, kan repot juga. Secara itu toilet lebih deket ke pintu keluar :(

Oia jadi inget mau komen tentang salah satu diorama di MS. Itu di bagian depan, ada awetan buaya lagi  nongkrong sambil ngerokok pake pipa, berkacamata hitam, bawa hape, maksudnya apa ya? Pake kalung granat dan bertato hati pulak. Buaya darat kah? IMNSHO, kayanya kok agak nggak pantes untuk tempat wisata keluarga. 

Habis dari MS, kami makan siang kilat (beli roti bakar dan hotdog di kios sekitaran MS), trus check in. Ternyata belum bisa masuk kamar (karena belum jam dua). Yo wes, nitip barang dan masuk ke BSZ deh.

BSZ ini bersih, semacam zoo dalam ruangan. Di pintu masuk, sudah terpampang peraturan untuk pengunjung. Dan selalu, peraturan ada untuk dilanggar, yes? Lagi jalan, kok bau asep ya? Ndilalah ada yang ngerokok :( Tolong yaaa, baru berapa meter dari pintu masuk. Dan kayanya petugas BSZ nya entah sungkan entah nggak tahu, nggak negur juga. Mungkin lain kali, itu rokok dikunci dulu dan baru bisa dibuka di pintu keluar. Ga enak bo, lagi lihat-lihat, eh harus tutup hidung bukan karena bau pup si binatang tapi karena ada orang buta aksara lagi ngerokok.

Yak, cukup sudah untuk omelan tentang rokoknya. Lagian mudiknya ke Malang, kota tempat entah berapa industri rokok (besar dan rumahan). What can I say? Semua balik lagi ke individunya.

Di BSZ, ada beberapa binatang yang dikandangin bersama. Mungkin karena ga saling membahayakan. IMHO, ini bagus. Saya jadi bisa mengenalkan tentang simbiosis pada Ankaa :D

Awal masuk di BSZ kan di area semi-outdoor. Trus bisa lanjut ke indoor yang isinya hewan air. Ankaa seneng banget lihat ada poster Nemo segede gaban. Yep, dia suka Nemo tapi nggak pernah mau nonton sampe tuntas karena selalu nangis saat adegan Nemo (pura-pura) mati.

Di BSZ, ada beberapa layar sentuh berisi informasi dan potongan film aneka binatang sesuai tema areanya.  




Habis di area ikan, kami memutuskan balik ke hotel. Ankaa udah capek dan hujan pula. Daripada tertahan di dalam BSZ kan mending leyeh-leyeh di kamar. Toh udah waktunya check in.

Masuk kamar, kok yaa capeknya si bocah ilang. Itu segala barang yang ada, dicek satu demi satu. Sayang lemarinya ga bisa dibuka, kayanya lagi rusak ato gimana gitu. Menurut petugas PI, lemarinya emang lagi agak masalah.

Kami dapat kamar dengan view kota Batu. Di depan teras, ada semacam rongga yang tembus keluar. Saya coba panjat dan sebenernya kalo nekat, bisa kok turun lewat situ dan mendarat persis di area depan hotel.

Kayanya sih, kalo booking kamar tipe Deluxe (550k) atau Executive (990k), bisa dapat view  ke arah BSZ. Enak kali ya malam-malam ngelihat harimau dll :D

Buat makan, kami nyoba ke Resto Jungle Fastfood. Berhubung belum jam makan, resto sepiii banget. Cuma kami aja yang datang. Kalo menurut jadwal, harusnya di jam kami makan tuh ada atraksi dalam resto, tapi karena lagi sepi, ya atraksi ditiadakan. Alasan pegawainya, itu atraksi butuh daya listrik gede. Hemat listrik gitu :D Ya sud gpp deh, yang penting makan dulu sambil ngelihat leopard dan rusa (restonya di sisi dalam kandang leopard dan rusa).

Niat semula, kami mau ke BNS. Sayang harus batal karena hujan superderas sejak sore. Ya akhirnya menghabiskan malam dengan ngendon di kamar. Ankaa tidur cepet karena sudah kecapean (hari sebelumnya dolan ke Selekta). Saya dan Fath pun putar otak karena ini kali pertama Ankaa tidur di bed ukuran kecil. Lha dia kan tidurnya lasak, di bed gede aja bisa nggelundung.

Awalnya Ankaa saya suruh pake selimut, minimal badannya tertahan selimut. Eh malah dia nggak bisa tidur karena kepanasan (padahal AC dah dinyalain dan di luar sedang hujan). Akhirnya Fath berinisiatif naroh bantal sofa di antara dua bed. Minimal kalo dia jatoh ke sisi kiri, masih ada bantal dan kalo jatoh ke sisi kanan, ada sofa. Tapi Fath masih nggak tenang. Akhirnya dia nggeser kursi panjang dan diposisikan di antara dua bed dan dilapisi bantal sofa. Gara-gara kejadian ini, saya jadi agak kuatir kalo suatu saat Ankaa kos dan dapatnya bed kecil. Apa nggak benjut-benjut ni bocah yak?

Oia, dilarang nurunin kasur yah, ada denda 200k. Extra bed 220rb.

Besok paginya, kami jalan pagi sampe ke EGP. Rada heran juga karena gerbangnya terbuka. Kalo melipir pelan-pelan, bisa masuk kali ya he he he. Tapi Ankaa malah minta ngelihatin katak yang lagi berjemur di kolam. Dasar bocah kota, nggak pernah lihat katak :D

Waktu sarapan, atraksi di resto dimulai. Ternyata atraksinya itu berupa tiruan kondisi hutan dan (sebagian) area makan yang berputar. Sarapannya lumayan enak. Sayang smoking area nggak dipisah (nah lo, masih ngomel perkara rokok lagi).

Habis sarapan, kami packing trus turun ke lobi. Niatnya mau ngelanjutin BSZ. Khusus bagi tamu hotel, bisa masuk lagi asal minta stempel ke resepsionis dan gelang terusannya jangan dicopot. Lumayan juga, bayar 60k bisa buat dua hari :D






Berhubung udah puas dengan bagian awal BSZ, kami langsung ke area Afrika dan lanjut ke tempat bermain anak. Ada kids pool yang sejak sebelumnya sudah diincer Ankaa. Kirain kolamnya bisa dipake berenang, ternyata cetek banget. Ya sekedar biar anak bisa main air aja. Ankaa sampe bilang kalo kolamnya nggak seru he he he.

Setelah si bocah puas main air, lanjut ke area permainan. Sebagian wahananya gratis kok. Fath pengen ngajak Ankaa main bom bom car tapi si petugas nggak merekomendasikan karena Ankaa terlalu mungil. Takut cedera gitu...Wah baru sekali ini loh ada petugas tempat rekreasi yang perhatian soal ini :D Makasih banget.

Sebagai gantinya kami naik...Flying Dumbo he he he. Aseli masa kecil kurang bahagia. Trus Fath nyoba main bola (adu tendangan bebas) dengan membayar 2k sajah. Dan suami saya yang ngakunya striker hebat itu cuma sekali berhasil mengenai sasaran ha ha ha.

 Untung hari sebelumnya udah ke BSZ, jadi nyampe di tempat-tempat permainan tuh masih sepi. Lha yang main cuma Ankaa sendirian :D

Selanjutnya Ankaa naik wahana kuda-kudaan yang mengelilingi kandang kuda poni. Pas nyampe di situ, sebenernya petugasnya lagi nggak di tempat. Untung ada petugas kebersihan yang membantu mencari si petugas wahana.

Keluar BSZ, pas udah menjelang Dhuhur dan waktu check out. Habis shalat, langsung deh pulang. Niatnya sih kalo mudik ke Malang lagi mau ke sini lagi karena ada banyak wahana yang belum dijelajahi dan masih penasaran ama BNS.

Plus nya JP2 dan PI:
  • Ada shuttle bus ke JP 1 (gratis).
  • Kalo nginep di PI, bisa gratis masuk dengan minta stempel, asal gelang tiket nggak dicopot.
  • Lokasi cukup bersih. Biasanya kan tempat rekreasi identik dengan ceceran sampah :D
  • Parkiran cukup luas.
  • Makanannya acceptable dan cukup variatif, baik yang di resto maupun di kios. Nggak sampe yang bikin melotot karena saking mahalnya dan nggak bikin senewen karena rasanya. Habis beberapa kali ke tempat rekreasi, entah harganya atau rasanya atau dua-duanya bikin melotot :D
  • PKL suvenir ditata rapi di tenda-tenda. Jadi nggak bertebaran atau seliweran. Toko suvenir JP2 sendiri lumayan lengkap dan harganya masih masuk akal. 
  • Di BSZ sendiri, kalo ogah jalan kaki, bisa sewa sepeda listrik (lupa harganya).

Minusnya JP2 dan PI:
  • Aturan larangan merokok kurang tegas. 
  • Tempat shalatnya jauuuuuh dan untuk menuju mushalla, harus lewat tempat parkir tanpa ada atap. Fath gagal shalat Maghrib di mushalla karena hujan superderas. Mungkin bisa disediakan tempat shalat yang lebih dekat.
  • Lokasi ATM terpisah. Kalo nggak salah, ATM BCA berlokasi paling deket sama lobi hotel. Nah ternyata, ada juga ATM BRI tapi lokasinya lebih ke arah pintu masuk parkir. Ada baiknya dijadiin satu.


Friday, December 07, 2012

Demo

Fath pernah cerita, suatu hari saat naik KRL, dia berdiri dekat beberapa penumpang. Dari penampilannya, mereka (maaf) tampaknya pekerja biasa dengan pendapatan pas UMP saja. Tapi obrolannya dong, tentang ganti BB, Android dll dll. Saya nyengir denger cerita itu karena saya tahu handphone Fath udah jadul, beli seken pulak :D

Saya suka ngenes kalo buruh lagi pada demo menuntut kenaikan upah lah, hapus outsourcing lah, atau minta tunjangan kesehatannya dibayarin. Udah bikin macet, malah ngerepotin banyak orang yang notabene juga buruh, dan menuai kejengkelan pulak dari masyarakat. Mbok ya dipikir, misalnya nih demonya bikin macet. Trus orang yang terimbas macet pada marah-marah dan doain yang jelek-jelek dan doanya terkabul. Ya jangan kaget kalo tuntutannya ga terwujud.

Saya sangat setuju bahwa pengusaha punya kewajiban membayar upah pegawainya dengan layak. Jangan mau untung gede tapi buruhnya ditindas.

Tapi buruh juga punya kewajiban bekerja dengan sungguh-sungguh. Lha kalo dikit-dikit demo (yang mana otomatis bolos kerja), masa iya mau digaji penuh? Kalo PNS ketahuan pulang cepet, dibilangnya makan gaji buta. Emang bolos kerja buat demo ga makan gaji buta?

Dan lagi, konsumsi itu harusnya disesuaikan dengan pendapatan. Bukan pendapatan yang mengikuti konsumsi. Karena konsumsi (apalagi keinginan) cuma langit batasnya. Mau gaji dinaikin 1000% pun, kalo dipake buat gonta ganti smartphone, motor, atau belanja belenji, ya ga bakal cukup.

Saya juga heran dengan penolakan buruh atas iuran kesehatan, yang mana ujung-ujungnya buat mereka juga. Hasil gugling-gugling, iuran yang harus ditanggung buruh tuh sekitar 22 ribu per bulan. Misalnya si buruh ini laki-laki dan merokok sebungkus sehari. Dia cukup stop ngerokok dua hari dan lunas deh itu iuran. Masa iya sih sanggup kredit motor keluaran terbaru, gonta ganti hape, beli pulsa buat internetan, tapi iuran kesehatan ga sanggup? Coba dihitung, biaya pengobatan jaman sekarang tuh gede loh.

Saya sering berandai-andai, kapan ya ada semacam pelatihan pengelolaan uang. Biar para buruh juga belajar cara mengelola keuangan mereka dengan baik. Biar mereka benar-benar bisa memisahkan antara kebutuhan dan keinginan, biar ga ada lagi besar pasak dari tiang. Dan supaya ga dikit-dikit demo minta gaji naik.


Wednesday, December 05, 2012

Mudik Mudik

Akhirnya bisa juga posting plus onlen. Setelah meninggalkan blog tercinta sekian lama *uhuk...lagian ada yang baca gitu?*

Ceritanya kami abis mudik. Pas Idul Fitri kan udah ga mudik. Trus mau mudik Desember, harga tiket kan membubung tinggi. Ditambah lagi, Alhamdulillah pas November ini kakungnya Ankaa pulang haji. Ya sut, mari lah mudik.


Untuk pertama kalinya, kami nyoba naik Citilink, turun Juanda. Daan....kapok. Pertama, counter check in nya Citilink emang cuma dikit ya? Aseli itu antrean penumpang panjaaang bener. Dan entah ada berapa penumpang yang tiketnya angus karena telat check in. Fath antre kurleb 45 menit.

Kedua, ga dapat makan. Ya tau sih, penerbangan low fare. Tapi masa iya sih permen satu aja ga dapet?

Ketiga, entah faktor pesawat entah faktor pilot, yang jelas kali ini saya sampe mual. Untung ga sampe muntah. Coba ya, cuaca cerah ga ada hujan ga ada apa gitu. Tapi dikit-dikit berasa goyang dombret. Pas mau landing, berasa anjlok berkali-kali.

Lain kali mending turun langsung Abd. Saleh deh. Lagian kalo turun Juanda, masih harus ngelewatin Lapindo dll dll dan itu bikin capeknya dobel.

Selama di Malang, kami malah ga banyak jalan-jalan. Ke Batu pun karena udah booking Pohon Inn (review menyusul....kalo sempat). Selebihnya ya banyakan di rumah. Fath sempat jalan-jalan pun karena saya suruh ke tukang pijit langganannya. Heiran, lagi liburan kok malah tensinya drop.

Pas mau balik ke Jakarta, nyaris gagal bawa bakso karena pedagang daging pada mogok. Kata ibu saya, harga daging tembus 74 rebu sekilo. Coba yaaa, di Jakarta itu 100 rebu!!! Kalo dah gini, kadang jadi pengen pindah ke Malang. Biaya hidup jelas lebih ringan :D Tapi jalani saja, banyak-banyak bersyukur.

Btw, waktu berangkat mudik, kan kami pilih pesawat pagi *harga tiket lebih murah :D* Untuk pertama kalinya juga ngerasain naik taksi yang melaju di kecepatan 120 km/jam tapi tetap nyaman. Usut punya usut, ternyata si bapak sopir taksi-nya mantan sopir truk ekspedisi Jawa-Sumatera. Pantesaaaan......

Thursday, November 01, 2012

Xtrans oh Xtrans

Selasa lalu, saya nganter mertua ke bandara Soekarno-Hatta. Mereka mau balik ke Malang. Rencananya, begitu mertua masuk ruang tunggu, saya dan Ankaa balik ke Bintaro naik XTrans. Mertua naik pesawat dari Terminal 1C j.

Jam sepuluh pagi, saya ke counter XTrans di Terminal 1C, nanya jadwal XTrans yang sekitar jam 11-an. Kata petugasnya, ada yang jam 11.45. OK, kami reserve satu seat. Saya nanya tuh, bayarnya harus saat itu juga atau pas mau berangkat. Kata si petugas, ntar aja pas mau berangkat.

Jam 11.30, saya ke counter XTrans. Daaan....si mas dengan entengnya bilang kalo mobilnya udah berangkat. Saya komplain dong, lha tadi infonya jam 11.45. Dalih si petugas, si sopirnya dateng kecepetan, jadi berangkat lebih awal. Dan ngejawabnya dengan ogah-ogahan gitu, dengan nada seolah mengatakan "lo telat, so what?" dan matanya teruuus aja ke handphone. Aseli pengen saya rebut trus lempar tu hape. Nyepelein banget.

Kalo gitu, kenapa ga bilang jadwalnya kuranglebih jam 11.45?


Setelah itu, Fath nanyain jam keberangkatan berikutnya. Si petugas nggak jawab malah asik main handphone dengan senyam senyum. Kami kesal dan akhirnya saya dan Ankaa pulang naik taksi.

Coba ya, kalo penumpang telat, ditinggal. Giliran si sopir kecepetan, tetep ditinggal juga.

Yang paling bikin kesel tuh bukan karena ditinggalnya. Tapi sikap si petugas XTrans. Dia menyepelekan, nggak informatif. Bahkan saat memberitahu kalau kami ketinggalan mobil pun, dia nggak melihat ke arah kami. Matanya terus aja ke hape sambil asik ngetik sesuatu.

Ga lama setelah saya naik taksi, Fath telepon. Rupanya ada mobil Xtrans jurusan Bintaro baru masuk. Kata keneknya, mobil mereka untuk keberangkatan jam 12.15.

Misalnya, si petugas Xtrans tadi kasih tahu dengan baik kalau ada mobil lain jam 12.15, saya mau loh nungguin. Tapi karena sudah terlanjur kesel sama attitude-nya, ya saya tinggal saja. Pelayanan pelanggan itu ada harganya, jendral.

Terkepung

Disclaimer: eksperimen ini sama sekali tidak bersifat ilmiah. Dilakukan semata-mata karena campuran rasa penasaran, ingin tahu, iseng, dan sedikit keprihatinan. Waktu diukur dengan fitur stopwatch di handphone Samsung GTC-3150. Waktu tempuh tidak memperhitungkan proses menyeberang jalan semata-mata karena lalu lintas pagi hari kerja itu kejam, Jendral. Yang jelas, tiap sampai di depan (atau di seberang) satu minimarket, tombol lap ditekan.

Waktu pertama kali tinggal di daerah Ceger sini, swalayan yang ada itu baru Harmony, Ahadmart, Alfamart PJMI, dan Indomaret STAN. Dan akhir pekan ini, di bekas warung padang samping Ahadmart, berdirilah Alfamart baru. Somehow, saya langsung menghitung jumlah minimarket yang tersebar dari dekat Perum Jurangmangu Indah (PJMI) sampai Pondok Safari (PSI). Total ada tiga Indomaret, dua Alfamart, satu Alfamidi, satu swalayan Harmony, dan satu Ahadmart.


Pagi ini, saya melakukan eksperimen sederhana. Saya berjalan kaki dari Indomaret PJMI sampai Indomaret PSI. Saya menghitung waktu tempuh dari Indomaret PJMI-Indomaret PSI plus waktu tempuh antar-minimarket. Saya hanya menyeberang sekali ke arah PJMI dan dari situ saya mulai menghitung waktu. Saya nggak menyeberang jalan kalau minimarket berada di seberang jalan. Lalulintas pagi cukup mengerikan, sodara. Saya pengen tahu, bukan pengen celaka.

Kenapa Indomaret? Karena dua-duanya ada di PJMI dan PSI :D Semacam mengapit gitu. Kan daerah melipirnya saya ya situ-situ aja.

Indomaret PJMI dan Alfamart PJMI lokasinya berseberangan, jadi saya hitung satu kali. Demikian juga dengan Alfamart baru yang memosisikan diri persis di sebelah Ahadmart. Berdasarkan peta di Google Map, jarak antara Indomaret PJMI-Indomaret PSI sekitar 850 meter.

Dan inilah hasilnya.

Indomaret (dan Alfamart) PJMI-Swalayan Harmony: 2 menit
Swalayan Harmony-Indomaret STAN: 4 menit 47 detik
Indomaret STAN-Alfamidi: 30 detik (nyaris berhadapan)
Alfamidi-Ahadmart (dan Alfamart): 1 menit
Alfamart-Indomaret PSI: 1 menit 50 detik

Total waktu tempuh saya sekitar  10 menit 7 detik. Melewati delapan tempat perbelanjaan.

Itu dengan jalan kaki. Waktu tempuh akan jauh lebih cepat kalau naik kendaraan.Sebagian minimarket (dan swalayan) dilengkapi dengan fasilitas ATM dan buka 24 jam. Sebagian buka dari jam 7 atau 6 pagi.

Pertanyaan besar saya, kok bisa izinnya keluar? Kok bisa ada enam minimarket, satu swalayan, dan satu midimarket ada dalam radius ga sampai satu km? Gimana dengan nasib toko-toko kecil yang nggak punya modal kuat?
Indomaret PJMI
Alfamart seberang PJMI

Harmony Swalayan



Indomaret seberang kampus STAN

Alfamidi

Ahadmart

Alfamart di sebelah Ahad

Indomaret di sebelah PSI
Jadi yuk sebisa mungkin mulai belanja lagi di toko kelontong dekat rumah masing-masing. Mungkin harga barangnya selisih sedikit, tapi kan hemat bensin :D Plus mendukung usaha kecil dan moga-moga tetangga kita ga kehilangan mata pencaharian.

Tuesday, October 23, 2012

Akhir Perjalanan

Waktu hamil Ankaa, Fath membelikan saya sneakers sebagai hadiah ulangtahun. Dulu sih dibeli karena kaki saya cenut-cenut saban naik KRL dengan sepatu ngantor. Setelah melahirkan, sepatu itu agak terlupakan. Dulu pernah terpakai waktu ke Gintung. Pernah saya pakai waktu ikut aerobik yang cuma bertahan tiga bulanan, setelah itu nganggur. Kadang-kadang terpakai kalau kami olahraga bareng.

Begitu saya mulai rutin jalan pagi, si sepatu pun rutin dipakai lima hari seminggu, satu jam sehari. Dan setelah sebulan, sepatu lama pun menyerah. Sol-nya pecah dan mengganggu kenyamanan selama berjalan. Sempat saya paksakan selama seminggu, akhirnya saya yang menyerah. Kata Fath, namanya juga sepatu udah lebih tua dari Ankaa. Lagian sepatu itu memang sepatu casual, bukan sepatu khusus untuk jalan atau lari. Jadi ya nggak salah sepatunya juga.


Dan hari ini, perjalanan si sepatu lama pun berakhir. Makasih sepatu. Maaf ya selama ini sudah di-abuse dengan semena-mena.

Dan makasih suami, yang sudah mengikhlaskan uang makannya untuk beli sepatu baru. Janji deh sepatu yang ini nggak di-abuse :D 

pecah

penampilan terakhir

Saturday, October 13, 2012

Batik Messenger Bag

I've been eyeing this tutorial for I don't know how long. And finally I made it :)

With some mistakes, for sure. 

My first mistake was completely ignored my notes on this tutorial which I wrote a long time ago. I used the wrong type of zipper!!!

Dan saya baru sadar di tahap akhir yang berakibat saya harus bongkar bagian retsletingnya :( Untuuung udah punya retsleting yang sesuai, meski warnanya salah. Lha dulu saya pengen bikin tas ini dengan kain ungu kombinasi garis keunguan. Kedua kain itu akhirnya berakhir sebagai baju Ankaa karena ternyata terlalu tipis buat dijadiin tas.


catetan yang sudah saya tulis entah kapan (dan terabaikan)
Selain itu, saya kehabisan benang :( Nggak tahu kenapa, Omura, toko langganan saya kehabisan benang dengan nomer yang sama. Sementara di Ollys, mereka nggak jual benang merk Astra. Jadi separo tas ini pake benang nomer 433, separo lagi pake benang putih :D

Setelah perjuangan penuh keringat dan darah, akhirnya jadi juga ini tas. Meski saya geli sendiri kalau lihat warna retsleting yang ga matching sama kainnya :D 

bagian dalam



zippered pocket

tampak depan
retsleting yang ga matching


Saya bikin tas ini pake bahan belacu dipadu sisa bikin rok Kartini Ankaa. Tutorialnya saya ambil dari blog ini.





Friday, October 05, 2012

Minggu Ketiga

Sudah masuk pekan ketiga saya rutin berjalan kaki. Rutenya nggak jauh-jauh, masih di sekitar Ceger. Kadang kalo lagi semangat, dari PJMI, alih-alih belok kanan ke arah kampus STAN, saya justru belok kiri sampe Bintaro Plaza. Dari situ baru puter balik ke arah kampus STAN.

Biasanya sih sampai rumah, kaki cenut-cenut. Saat itu saya bersyukur banget bisa jalan tanpa beban. Sepanjang jalan, saya selalu ketemu tukang sayur, tukang bubur, atau tukang ketoprak. Belum lagi tukang barang bekas dan pemulung. Mereka jalan kaki karena memang harus jalan kaki. Kalo nggak, mereka nggak dapat penghasilan. Sedangkan saya berjalan kaki karena suka, karena ingin. Dan saya nggak perlu mendorong gerobak segede gaban.

Waktu jalan kaki pula, saya jadi suka ngebayangin saya dan Fath dua puluh tahun lagi. Habis sering banget saya papasan dengan pasangan bapak-ibu yang sudah sepuh tapi masih mesra. Perasaan sih, kalo saya jalan sama Fath, banyakan debatnya deh.

Saya juga jadi hafal di mana saya bisa nebeng kalau alam memanggil. Emang enak jalan cepet karena nahan hasrat ke toilet? Untuuung ada minimarket yang buka 24 jam, toiletnya bersih, dan punya sabun cuci tangan. Penting itu, habis seringkali toilet nggak dilengkapi wastafel dan sabun cuci tangan :(

Saya juga jadi mencermati ritme orang di rute yang saya lalui. Mahasiswa yang berangkat kuliah (hiks, jadi pengen kuliah lagi), ibu-ibu yang ngeriung di tukang sayur, dan orang laper yang antre di tukang nasi uduk. Yang lebih saya cermati lagi, ternyata pejalan kaki itu bener-bener makhluk kasta terendah ya. Trotoar minimalis dan rusak (!), harus melipir biar nggak disamber motor, dan susah banget kalau mau menyeberang jalan, meski sudah di zebra cross. Kapan-kapan deh saya foto itu rute dengan trotoar rusak.

Pernah ya, saya mau menyeberang ke arah kampus STAN di Bintaro Sektor 3. Saya nunggu lalu lintas rada sepi sambil berdiri di trotoar, persis di depan zebra cross. Dan tahu-tahu ada Honda Freed putih berhenti persis di depan saya. Yak bener, dia berhenti di zebra cross. Dari dalam mobil keluar seorang ABG, langsung masuk Lawson sementara si Honda Freed tetap di situ dengan cueknya. Padahal ya, kalau dia mau maju barang semeter dua meter aja, masih ada kok tempat kosong. Tapi ya sudahlah, bisa beli mobil bagus bukan berarti bisa menghargai pengguna jalan yang lain kan?

Gara-gara kejadian itu, saya kepikiran sesuatu. Gimana kalau salah satu syarat punya SIM adalah menjadi pejalan kaki selama seminggu (takutnya kalo sebulan kelamaan). Jadi yang apply SIM disuruh merasakan suka duka pejalan kaki. Moga-moga ntar waktu mereka bener-bener di balik kemudi, mereka bisa menghargai hak pejalan kaki.

Jalur favorit tetep di jogging track kampus. Sepi, paving block masih rata, dan banyak pohon. Saya paling suka menikmati hangatnya sinar matahari jatuh di wajah. Satu hal itulah yang membuat saya bisa mengusir rasa malas jauh-jauh.

Berikutnya, saya pengen beli pedometer biar tahu berapa jarak yang saya tempuh tiap hari. Nabung....nabung....nabung.....

Thursday, October 04, 2012

Bantal Jerapah

Saya tidak pede menggambar. Terutama sejak guru seni rupa kelas 3 SD mengatakan bahwa gambar saya jelek dan saya tidak berbakat seni. Sejak itu saya selalu meragukan kemampuan saya berkreasi. Hingga dewasa. Waktu SMP, ada tugas melukis dan guru saya tertawa terbahak-bahak melihat hasil karya saya. Dan saya pun makin nggak pede dengan yang namanya menggambar.

Dan seorang guru lain saat SMP mengatakan saya tidak akan pernah sukses karena saya nggak bisa bekerjasama dengan teman. Ceritanya waktu itu dia memberi tugas tim untuk menyusun puzzle dan saya memberi saran tentang cara menyusun. Too bad, my friends ignored me. I was a freak back then. I still am. Jadi ya saya diam saja menyaksikan teman sekelompok saya bingung menyusun puzzle yang saya sudah tahu persis cara penyelesaiannya. Dan saat itu guru saya mengatakan hal itu. I believed that, too. So teachers out there, be careful of whatever comes out your mouth.

Waktu mendaftarkan Ankaa ke TK, ada isian di formulir pendaftaran tentang harapan orangtua atas guru. Saya menulis, saya ingin Ankaa memiliki guru yang tidak pernah mematikan rasa ingin tahu dan semangatnya untuk belajar.

Yak cukup sekian nostalgia yang kurang menyenangkan. Sekarang mau pamer lagi :D


Agustus lalu, ibu saya datang berkunjung dan membelikan satu bantal baru. Katanya kami kekurangan bantal, yang mana itu pernyataan yang aneh. Sehari-hari kami hanya bertiga dan kami punya empat bantal standar, dua bantal ekstra-besar, dan empat guling. Tapi namanya juga dikasih ortu, diterima saja :D

Baru setelah itu saya sadar ini bantal ukurannya lebih gede ketimbang bantal standar. So we're one pillowcase short. Langsung deh saya keluarin stok kain sprei dari rak daan....tinggal selembar :( Warnanya abu-abu suram pulak. Sampe sekarang saya masih bingung apa sih yang saya pikirin sampe beli warna abu-abu ini? It's gloomy, sad, and ugly. Sempet sih kepikiran ke Cipadu lagi, tapi saya lagi pengetatan dompet seketat mungkin demi sepatu boots baru dan pedometer.

Jadi apa yang bisa dilakukan? Saya bikin (sedikit) lebih ceria. Ide awal saya ya memang jerapah yang lagi makan daun. Saya tahu mau bikin apa, cuma mau nggambar sketsanya tuh ragu-ragu. Dari buku Jepang oleh-oleh Iva sih ada template kepala jerapah. Ukurannya kecil banget, cuma 14x14 cm. Saya sempat memikirkan gambar burung sebagai ganti jerapah dan nggak jadi juga. Akhirnya lima menit sebelum mulai menjahit, saya ambil hp, buka Google, dan langsung ketik keyword giraffe head cartoon. Berdasarkan thumbnail yang kuecil itu, saya memberanikan diri menggambar kepala si jerapah. Ini sketsanya.


masih disusun

And....tadaaa.....


sarung bantal baru!!!


Monday, September 24, 2012

Hari Bolos

Pagi tadi, Ankaa mogok sekolah. Alasannya buanya banget. Mulai dari mau main aja di rumah sama Ummi, capek, sampe sedih karena tanamannya layu. Ya wes lah, ngapain juga dipaksa sekolah. Nggak ada yang mewajibkan bocah umur (hampir) lima tahun wajib datang sekolah tiap hari.

Jadi hari ini kami bersenang-senang. Usai mandi, Ankaa membantu saya mengganti tanah di pot tanamannya. Habis itu sarapan, main dakon tiga ronde (Ankaa menang dua), main tali, dan bikin chocochip cookies. Bikin kue ini nggak direncanakan. Tahu-tahu nyadar kalo sudah lama banget saya nggak melibatkan Ankaa dalam bikin kue.

Dan inilah hasilnya. Harusnya pake kismis, tapi saya nggak punya kismis dan Ankaa juga nggak suka. Kismisnya ganti chocochip (ga kreatif banget yah?). Loyangnya kurang jadi saya pake loyang pizza :D

Kata Ankaa, kukisnya enak banget. Buktinya dia langsung ngabisin separo hasil karyanya sendiri (dan satu bikinan saya). Dan itu rekor karena dia bukan penggemar makanan manis :D

Ambil adonan

Lalu dicetak

Mine :)

Hasil karya Ankaa

Saturday, September 22, 2012

Sambilan

Konon, kalau sesuatu dikerjakan karena memang cinta, karena memang minat, dan dikerjakan dengan penuh kesungguhan, Insyaallah hasilnya bagus. Udah mulai kayak motivator karir belom?

Saya selalu penasaran, kenapa sih ketua umum persatuan olahraga di Indonesia rata-rata orang "berpangkat"? Entah si ketum ternyata jendral anu, atau pejabat itu, atau bos itu, atau orang kaya ini. Kok rasanya jarang banget ada persatuan olahraga yang ketum (atau setidaknya pengurus pusat) yang dijabat oleh mantan atlet atau pelatih. Kan yang tahu persis apa dan bagaimana kebutuhan olahraga adalah orang yang memang sehari-hari berkecimpung di dalamnya.

Saya nggak meragukan kesungguhan para "pejabat" itu dalam mengurusi olahraga. Pun saya nggak meragukan kecintaan mereka pada cabang olahraga yang kebetulan mereka urus.

Pikiran saya sederhana saja. Mereka kan sudah punya pekerjaan atau aktivitas utama, apa pun itu. Apakah mereka masih punya cukup waktu, tenaga, dan konsentrasi untuk menjalankan amanah sebagai ketum persatuan olahraga tersebut.

Saya jadi bertanya-tanya, di sela-sela kesibukan dan tanggungjawab yang mereka emban, masihkah ada cukup energi untuk mengurus olahraga? Saya hanya kuatir, kesibukan utama mereka membuat cabang olahraga yang mereka urus jadi sekedar (maaf) sambilan. Atau sekedar memperpanjang CV saja. Or worse, sekedar jadi jabatan politis.

Kalau sesuatu dilakoni secara (sekali lagi, maaf) sambilan, kapan olahraga kita maju? Apa nggak lebih baik jika amanah itu diemban oleh orang yang memang seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan cintanya dicurahkan pada olahraga yang bersangkutan. Orang yang memang punya visi dan impian tentang olahraga yang ia cintai. Orang yang tahu seluk beluk permasalahan dan alternatif solusi.

Iya sih dengan "kepejabatan" (ada nggak sih istilah ini?) yang mereka miliki, mungkin ada kemudahan fasilitas dan ini itu. Tapi apa lantas fasilitas jadi jaminan prestasi? Kalau memang segala kemudahan itu jadi alasan, kok bisa ya urusan tiket ke London 2012 aja riweuh?

Suatu hal yang diurus part-time, hasilnya (sangat mungkin) tidak maksimal.

Saya dan suami mulai patah arang melihat sepakbola Indonesia. Semoga kami nggak patah arang juga melihat bulutangkis Indonesia dan cabang olahraga lainnya.

Oia, mumpung lagi ngomongin olahraga. Saya cuma nonton sekilas pembukaan dan penutupan PON Riau. Dan seketika saya membandingkan dengan London 2012. Iyaa emang nggak apple to apple. Yang saya soroti bukan persiapan (yang amburadul) atau hiburan waktu upacara kok.

Satu hal yang paling berkesan dari closing ceremony London 2012 adalah pidato Sebastian Coe. Singkat, padat, dan nyaris membuat saya berkaca-kaca. Sedangkan waktu nonton pembukaan dan penutupan PON Riau (meski sebentar), saya jadi ngantuk. Panjang dan banyak bener yak sambutannya?

Btw, Sebastian Coe mantan atlet loh. Lihat hasilnya kan?

Friday, September 21, 2012

Hasil Pilkada DKI Putaran 2

...dan Liga Champion Chelsea vs Juventus adalah.....

dua topi. Satu topi dengan lining pink buat Ankaa dan satu lagi dengan lining abu-abu buat kado ultah Gilang, tetangga depan rumah. Topi buat Ankaa dibikin saat pertandingan masuk menit 54 (yes, Chelsea seri di kandang sendiri!). Sedangkan topi Gilang dibikin mulai pertengahan quick count Pilkada DKI. Ketahuan kalo saya ga bisa njahit dengan fokus :D

bucket hat duo

Cerita sedikit. Waktu ke Mayestik, nggak sengaja saya lihat kain motif laut ini. Reflek langsung masuk toko itu. Waktu itu belom tau mau dijadiin apa, pokoknya saya pengen kain ini. Dan inilah hasilnya...

Pola dan tutorial didapat gratis dari sini.

Dan akhirnya, saya punya juga baju baru bikinan sendiri. Ceritanya udah sekilas di sini ya. Sekarang ini baju jadi andalan ke mana-mana :D