Monday, December 24, 2012

Ankaa Cacar Air

Minggu terakhir Ankaa sekolah, gurunya mengatakan bahwa banyak siswa yang sakit cacar air. Saya berdoa aja semoga Ankaa ga ketularan.

Hari Senin, 17 Desember, sepulang sekolah Ankaa mengeluh ada sariawan di bibirnya. Satu hal yang membuat saya agak heran karena Ankaa cukup makan buah. Setelah saya lihat lagi, ada dua benjolan di dekat hidung dan di kening. Saya nggak mikir bahwa itu cacar air. Saya pikir itu karena hari sebelumnya, Ankaa makan telur puyuh terlalu banyak (dulu pernah kejadian).

Sorenya, benjolan makin banyak. Fath menyimpulkan bahwa Ankaa kena cacar air. Saya masih ragu-ragu karena saya sendiri belum pernah kena cacar air (Alhamdulillah). Kami putuskan membawa Ankaa ke dokter esok paginya.

Pagi-pagi bener, saya bawa Ankaa ke dokter. Dan vonis pun jatuh: cacar air. Dokter memberi kami Acyclovir untuk mencegah penyebaran benjolan cacar. Tetangga menyarankan salep Clinovir supaya benjolan cacar lebih cepat mengering. Saya sms dokter untuk menanyakan tentang salep ini dan blio setuju untuk memberi Clinovir. Saya harus ninggalin Ankaa karena ikut bazaar sekolah (ada titipan dagangan juga soale). Untung Fath bisa izin kantor dan balik kantor ba'da Dhuhur.

Saya tambah treatment-nya dengan air daun sirih untuk mandi, bedak Salicyl untuk mengurangi gatal, dan air kelapa hijau. 

Sampai hari Kamis, rutinitas Ankaa adalah bangun tidur-mandi-sarapan-minum obat-tidur-makan siang-minum obat-tidur-mandi sore-ngemil-makan malam-minum obat-tidur. Dan kebetulan badannya juga lemas jadi bawaannya tidur terus. Untung selera makannya juga tetap bagus meski agak sulit makan karena ada benjolan cacar di bibir.

Kesulitan lain adalah saya yang belum pernah kena cacar air. Nggak mungkin dong saya mengkarantina diri sendiri atau Ankaa. Sebagai langkah pencegahan, saya pakai masker dan sebisa mungkin menghindari kontak kulit. Ini yang bikin sedih karena sama sekali nggak bisa peluk Ankaa saat dia sakit. Tiap kali habis mandiin atau kasih obat atau apa pun yang kena kulit, saya langsung cuci tangan. Saya juga menyingkirkan semua cermin karena mental Ankaa jatuh banget saat melihat kondisi kulitnya.


Hari Jum'at, Fath pulang sebentar untuk ambil rapor Ankaa. Walikelasnya memberitahukan bahwa dari 25 anak di kelas Ankaa, ada 19 anak yang terkena cacar air. Jadi ada siswa yang kena cacar dan belum sembuh total tapi minta masuk sekolah waktu berenang. Saat diminta pulang oleh guru, walimurid ybs malah nggak terima. Dan jatuhlah 19 korban dalam sekelas.

Alhamdulillah hari Jum'at itu juga kondisi Ankaa mulai membaik. Badannya mulai segar lagi. Bekas cacarnya juga sudah mengering dan menghitam. Malah hari ini sudah mulai mengelupas dengan sendirinya.

Ringkasnya, ini treatment selama Ankaa cacar air:
  • Acyclovir 3 kali sehari selama empat hari, tapi hanya efektif jika diberikan saat cacar air baru muncul untuk mencegah benjolan cacarnya meluas.
  • Salep Clinovir, dioleskan tipis di benjolan cacar dengan cotton buds supaya benjolannya lebih cepat mengering dan tidak pecah. Kalau pecah kan malah menyebar ke mana-mana.
  • Mandi dengan rebusan air daun sirih. Saya tidak gunakan sabun atau shampoo karena kuatir proses menggosok badan bisa memecahkan benjolan cacar. Untuk bagian wajah, saya tepuk pelan dengan handuk yang dibasahi air daun sirih.
  • Bedak Salicyl untuk mencegah gatal.
  • Stop seafood dan telur. Saya coba kasih Ankaa ikan air tawar dan Alhamdulillah tidak ada masalah. Si bocah malah udah wanti-wanti begitu sembuh minta dibikinin bawal bakar spesial.
  • Banyak minum, makan buah segar, dan madu untuk menjaga daya tahan. Namanya juga lawan virus, semakin bagus daya tahan tubuh, semakin cepat virus pergi.
  • Sering cuci sprei dan handuk. Total selama seminggu ini, saya sudah cuci sprei empat kali dan handuk dua kali. 
  • Olesan parutan jagung untuk mengurangi bekas cacar air.

Semoga seminggu ke depan, bekas cacar sudah mengelupas semua. Tinggal berharap bekasnya hilang sebelum liburan sekolah berakhir. Amiin....

Update 30 Desember 2012: ternyata pake minyak zaitun lebih cepat memulihkan bekas cacar air. Jagungnya dijadiin bakwan aja :D

Sunday, December 23, 2012

Jatim Park 2 dan Pohon Inn

Setelah tertunda sebulan, akhirnya ini posting jadi juga. Fhew....

Meski asal Malang, kami sama sekali belum pernah wisata keluarga ke Batu. Sekali-kalinya ke Batu sama Fath ya waktu masih pacaran dulu. Itu juga sekedar makan indomie berdua ahak ahak. Lagian saban mudik Idul Fitri, itu kendaraan ke arah Batu banyak bener. Naga aja nggak sepanjang itu :(

Itung-itung merayakan ultah Ankaa (Oktober) dan anniversary kami yang keenam (Desember), yuk mari ke Jatim Park 2 (JP2) sekalian nginep di Pohon Inn (PI). Sengaja milih nginep di hotel karena Ankaa penasaran tentang gimana sih nginep di hotel itu? Trus denger punya denger, kebun binatang di JP2 bagus. Lokasinya juga deket ke JP1 dan Batu Night Spectacular, in case kami mau jalan-jalan malam.

Kami pilih kamar yang paling murah, tipe Superior (440k per malam). Pesen dari sebulan sebelumnya dan diminta bayar deposit 50%. Petugas reservasinya helpful dan sempat beberapa kali nelpon balik buat mengkonfirmasi.





JP2 buka jam 10 pagi. Kami beli tiket terusan (60k per person) biar bisa masuk ke Museum Satwa (MS) dan Batu Secret Zoo (BSZ) sekalian. Sebenernya ada wahana baru, Eco Green Park (40k per person). Tapi nggak dulu deh, kayanya waktunya juga ga cukup. Lagian berhubung masih baru, EGP ini nggak masuk dalam tiket terusan :(

Fath ngeyel mau menggembol ranselnya yang segede gaban. Udah dibilang titipin aja ke resepsionis, eh ga mau. Giliran check in jam 2 siang, malah mbak resepsionisnya nyaranin nitip aja. Hua ha ha ha.....makanya istri ini biar kece, mbok ya didenger :D

Wahana pertama yang dituju adalah MS. Isinya ya diorama binatang yang diperankan oleh awetan satwa. Pas masuk, kayanya kecil neh. Tapi ternyata ruangannya dibikin kaya labirin berliku-liku. Awal masuk ada dinosaurus. Setelah itu serangga, ikan, dll dll dll. Sampe sapi juga ada. Yang saya paling suka tuh diorama kutub. Kapan lagi ngelihat beruang kutub gitu :D Lightingnya juga disesuaikan dengan tema, jadi ada yang temaram gitu.


Apesnya, pas baru masuk, Ankaa minta pipis. Saya bawa Ankaa ke pintu masuk, maksudnya minta izin lewat trus ngajak Ankaa pipis di restoran hotel atau mana lah yang deket. Tapi petugasnya menolak dan memberitahu kalo toilet ada deket diorama sapi. Larilah saya nyari si sapi ini di mana. Dan ternyataaa.....itu toilet baru saya temukan setelah kurleb limabelas menit jalan cepat kebingungan. Rasanya seperti Minotaur deh :( Tolong ya manajemen JP2, itu petunjuk toiletnya diperbanyak. Dan kalo bisa, lokasi toiletnya diperbanyak juga. Saya nyasar ke beberapa ruangan, nanya sana sini, sebelum akhirnya melihat tulisan TOILET. Untungnya toiletnya bersih dan kering.


 



Dan coba yaaa.....waktu besoknya saya jalan-jalan pagi, ada loh toilet di sisi kanan pintu masuk. Iya sih harus disiplin keluar ya lewat pintu keluar. Untung Ankaa masih bisa nahan. Lha kalo ngompol di tengah museum saat saya lari-lari, kan repot juga. Secara itu toilet lebih deket ke pintu keluar :(

Oia jadi inget mau komen tentang salah satu diorama di MS. Itu di bagian depan, ada awetan buaya lagi  nongkrong sambil ngerokok pake pipa, berkacamata hitam, bawa hape, maksudnya apa ya? Pake kalung granat dan bertato hati pulak. Buaya darat kah? IMNSHO, kayanya kok agak nggak pantes untuk tempat wisata keluarga. 

Habis dari MS, kami makan siang kilat (beli roti bakar dan hotdog di kios sekitaran MS), trus check in. Ternyata belum bisa masuk kamar (karena belum jam dua). Yo wes, nitip barang dan masuk ke BSZ deh.

BSZ ini bersih, semacam zoo dalam ruangan. Di pintu masuk, sudah terpampang peraturan untuk pengunjung. Dan selalu, peraturan ada untuk dilanggar, yes? Lagi jalan, kok bau asep ya? Ndilalah ada yang ngerokok :( Tolong yaaa, baru berapa meter dari pintu masuk. Dan kayanya petugas BSZ nya entah sungkan entah nggak tahu, nggak negur juga. Mungkin lain kali, itu rokok dikunci dulu dan baru bisa dibuka di pintu keluar. Ga enak bo, lagi lihat-lihat, eh harus tutup hidung bukan karena bau pup si binatang tapi karena ada orang buta aksara lagi ngerokok.

Yak, cukup sudah untuk omelan tentang rokoknya. Lagian mudiknya ke Malang, kota tempat entah berapa industri rokok (besar dan rumahan). What can I say? Semua balik lagi ke individunya.

Di BSZ, ada beberapa binatang yang dikandangin bersama. Mungkin karena ga saling membahayakan. IMHO, ini bagus. Saya jadi bisa mengenalkan tentang simbiosis pada Ankaa :D

Awal masuk di BSZ kan di area semi-outdoor. Trus bisa lanjut ke indoor yang isinya hewan air. Ankaa seneng banget lihat ada poster Nemo segede gaban. Yep, dia suka Nemo tapi nggak pernah mau nonton sampe tuntas karena selalu nangis saat adegan Nemo (pura-pura) mati.

Di BSZ, ada beberapa layar sentuh berisi informasi dan potongan film aneka binatang sesuai tema areanya.  




Habis di area ikan, kami memutuskan balik ke hotel. Ankaa udah capek dan hujan pula. Daripada tertahan di dalam BSZ kan mending leyeh-leyeh di kamar. Toh udah waktunya check in.

Masuk kamar, kok yaa capeknya si bocah ilang. Itu segala barang yang ada, dicek satu demi satu. Sayang lemarinya ga bisa dibuka, kayanya lagi rusak ato gimana gitu. Menurut petugas PI, lemarinya emang lagi agak masalah.

Kami dapat kamar dengan view kota Batu. Di depan teras, ada semacam rongga yang tembus keluar. Saya coba panjat dan sebenernya kalo nekat, bisa kok turun lewat situ dan mendarat persis di area depan hotel.

Kayanya sih, kalo booking kamar tipe Deluxe (550k) atau Executive (990k), bisa dapat view  ke arah BSZ. Enak kali ya malam-malam ngelihat harimau dll :D

Buat makan, kami nyoba ke Resto Jungle Fastfood. Berhubung belum jam makan, resto sepiii banget. Cuma kami aja yang datang. Kalo menurut jadwal, harusnya di jam kami makan tuh ada atraksi dalam resto, tapi karena lagi sepi, ya atraksi ditiadakan. Alasan pegawainya, itu atraksi butuh daya listrik gede. Hemat listrik gitu :D Ya sud gpp deh, yang penting makan dulu sambil ngelihat leopard dan rusa (restonya di sisi dalam kandang leopard dan rusa).

Niat semula, kami mau ke BNS. Sayang harus batal karena hujan superderas sejak sore. Ya akhirnya menghabiskan malam dengan ngendon di kamar. Ankaa tidur cepet karena sudah kecapean (hari sebelumnya dolan ke Selekta). Saya dan Fath pun putar otak karena ini kali pertama Ankaa tidur di bed ukuran kecil. Lha dia kan tidurnya lasak, di bed gede aja bisa nggelundung.

Awalnya Ankaa saya suruh pake selimut, minimal badannya tertahan selimut. Eh malah dia nggak bisa tidur karena kepanasan (padahal AC dah dinyalain dan di luar sedang hujan). Akhirnya Fath berinisiatif naroh bantal sofa di antara dua bed. Minimal kalo dia jatoh ke sisi kiri, masih ada bantal dan kalo jatoh ke sisi kanan, ada sofa. Tapi Fath masih nggak tenang. Akhirnya dia nggeser kursi panjang dan diposisikan di antara dua bed dan dilapisi bantal sofa. Gara-gara kejadian ini, saya jadi agak kuatir kalo suatu saat Ankaa kos dan dapatnya bed kecil. Apa nggak benjut-benjut ni bocah yak?

Oia, dilarang nurunin kasur yah, ada denda 200k. Extra bed 220rb.

Besok paginya, kami jalan pagi sampe ke EGP. Rada heran juga karena gerbangnya terbuka. Kalo melipir pelan-pelan, bisa masuk kali ya he he he. Tapi Ankaa malah minta ngelihatin katak yang lagi berjemur di kolam. Dasar bocah kota, nggak pernah lihat katak :D

Waktu sarapan, atraksi di resto dimulai. Ternyata atraksinya itu berupa tiruan kondisi hutan dan (sebagian) area makan yang berputar. Sarapannya lumayan enak. Sayang smoking area nggak dipisah (nah lo, masih ngomel perkara rokok lagi).

Habis sarapan, kami packing trus turun ke lobi. Niatnya mau ngelanjutin BSZ. Khusus bagi tamu hotel, bisa masuk lagi asal minta stempel ke resepsionis dan gelang terusannya jangan dicopot. Lumayan juga, bayar 60k bisa buat dua hari :D






Berhubung udah puas dengan bagian awal BSZ, kami langsung ke area Afrika dan lanjut ke tempat bermain anak. Ada kids pool yang sejak sebelumnya sudah diincer Ankaa. Kirain kolamnya bisa dipake berenang, ternyata cetek banget. Ya sekedar biar anak bisa main air aja. Ankaa sampe bilang kalo kolamnya nggak seru he he he.

Setelah si bocah puas main air, lanjut ke area permainan. Sebagian wahananya gratis kok. Fath pengen ngajak Ankaa main bom bom car tapi si petugas nggak merekomendasikan karena Ankaa terlalu mungil. Takut cedera gitu...Wah baru sekali ini loh ada petugas tempat rekreasi yang perhatian soal ini :D Makasih banget.

Sebagai gantinya kami naik...Flying Dumbo he he he. Aseli masa kecil kurang bahagia. Trus Fath nyoba main bola (adu tendangan bebas) dengan membayar 2k sajah. Dan suami saya yang ngakunya striker hebat itu cuma sekali berhasil mengenai sasaran ha ha ha.

 Untung hari sebelumnya udah ke BSZ, jadi nyampe di tempat-tempat permainan tuh masih sepi. Lha yang main cuma Ankaa sendirian :D

Selanjutnya Ankaa naik wahana kuda-kudaan yang mengelilingi kandang kuda poni. Pas nyampe di situ, sebenernya petugasnya lagi nggak di tempat. Untung ada petugas kebersihan yang membantu mencari si petugas wahana.

Keluar BSZ, pas udah menjelang Dhuhur dan waktu check out. Habis shalat, langsung deh pulang. Niatnya sih kalo mudik ke Malang lagi mau ke sini lagi karena ada banyak wahana yang belum dijelajahi dan masih penasaran ama BNS.

Plus nya JP2 dan PI:
  • Ada shuttle bus ke JP 1 (gratis).
  • Kalo nginep di PI, bisa gratis masuk dengan minta stempel, asal gelang tiket nggak dicopot.
  • Lokasi cukup bersih. Biasanya kan tempat rekreasi identik dengan ceceran sampah :D
  • Parkiran cukup luas.
  • Makanannya acceptable dan cukup variatif, baik yang di resto maupun di kios. Nggak sampe yang bikin melotot karena saking mahalnya dan nggak bikin senewen karena rasanya. Habis beberapa kali ke tempat rekreasi, entah harganya atau rasanya atau dua-duanya bikin melotot :D
  • PKL suvenir ditata rapi di tenda-tenda. Jadi nggak bertebaran atau seliweran. Toko suvenir JP2 sendiri lumayan lengkap dan harganya masih masuk akal. 
  • Di BSZ sendiri, kalo ogah jalan kaki, bisa sewa sepeda listrik (lupa harganya).

Minusnya JP2 dan PI:
  • Aturan larangan merokok kurang tegas. 
  • Tempat shalatnya jauuuuuh dan untuk menuju mushalla, harus lewat tempat parkir tanpa ada atap. Fath gagal shalat Maghrib di mushalla karena hujan superderas. Mungkin bisa disediakan tempat shalat yang lebih dekat.
  • Lokasi ATM terpisah. Kalo nggak salah, ATM BCA berlokasi paling deket sama lobi hotel. Nah ternyata, ada juga ATM BRI tapi lokasinya lebih ke arah pintu masuk parkir. Ada baiknya dijadiin satu.


Friday, December 07, 2012

Demo

Fath pernah cerita, suatu hari saat naik KRL, dia berdiri dekat beberapa penumpang. Dari penampilannya, mereka (maaf) tampaknya pekerja biasa dengan pendapatan pas UMP saja. Tapi obrolannya dong, tentang ganti BB, Android dll dll. Saya nyengir denger cerita itu karena saya tahu handphone Fath udah jadul, beli seken pulak :D

Saya suka ngenes kalo buruh lagi pada demo menuntut kenaikan upah lah, hapus outsourcing lah, atau minta tunjangan kesehatannya dibayarin. Udah bikin macet, malah ngerepotin banyak orang yang notabene juga buruh, dan menuai kejengkelan pulak dari masyarakat. Mbok ya dipikir, misalnya nih demonya bikin macet. Trus orang yang terimbas macet pada marah-marah dan doain yang jelek-jelek dan doanya terkabul. Ya jangan kaget kalo tuntutannya ga terwujud.

Saya sangat setuju bahwa pengusaha punya kewajiban membayar upah pegawainya dengan layak. Jangan mau untung gede tapi buruhnya ditindas.

Tapi buruh juga punya kewajiban bekerja dengan sungguh-sungguh. Lha kalo dikit-dikit demo (yang mana otomatis bolos kerja), masa iya mau digaji penuh? Kalo PNS ketahuan pulang cepet, dibilangnya makan gaji buta. Emang bolos kerja buat demo ga makan gaji buta?

Dan lagi, konsumsi itu harusnya disesuaikan dengan pendapatan. Bukan pendapatan yang mengikuti konsumsi. Karena konsumsi (apalagi keinginan) cuma langit batasnya. Mau gaji dinaikin 1000% pun, kalo dipake buat gonta ganti smartphone, motor, atau belanja belenji, ya ga bakal cukup.

Saya juga heran dengan penolakan buruh atas iuran kesehatan, yang mana ujung-ujungnya buat mereka juga. Hasil gugling-gugling, iuran yang harus ditanggung buruh tuh sekitar 22 ribu per bulan. Misalnya si buruh ini laki-laki dan merokok sebungkus sehari. Dia cukup stop ngerokok dua hari dan lunas deh itu iuran. Masa iya sih sanggup kredit motor keluaran terbaru, gonta ganti hape, beli pulsa buat internetan, tapi iuran kesehatan ga sanggup? Coba dihitung, biaya pengobatan jaman sekarang tuh gede loh.

Saya sering berandai-andai, kapan ya ada semacam pelatihan pengelolaan uang. Biar para buruh juga belajar cara mengelola keuangan mereka dengan baik. Biar mereka benar-benar bisa memisahkan antara kebutuhan dan keinginan, biar ga ada lagi besar pasak dari tiang. Dan supaya ga dikit-dikit demo minta gaji naik.


Wednesday, December 05, 2012

Mudik Mudik

Akhirnya bisa juga posting plus onlen. Setelah meninggalkan blog tercinta sekian lama *uhuk...lagian ada yang baca gitu?*

Ceritanya kami abis mudik. Pas Idul Fitri kan udah ga mudik. Trus mau mudik Desember, harga tiket kan membubung tinggi. Ditambah lagi, Alhamdulillah pas November ini kakungnya Ankaa pulang haji. Ya sut, mari lah mudik.


Untuk pertama kalinya, kami nyoba naik Citilink, turun Juanda. Daan....kapok. Pertama, counter check in nya Citilink emang cuma dikit ya? Aseli itu antrean penumpang panjaaang bener. Dan entah ada berapa penumpang yang tiketnya angus karena telat check in. Fath antre kurleb 45 menit.

Kedua, ga dapat makan. Ya tau sih, penerbangan low fare. Tapi masa iya sih permen satu aja ga dapet?

Ketiga, entah faktor pesawat entah faktor pilot, yang jelas kali ini saya sampe mual. Untung ga sampe muntah. Coba ya, cuaca cerah ga ada hujan ga ada apa gitu. Tapi dikit-dikit berasa goyang dombret. Pas mau landing, berasa anjlok berkali-kali.

Lain kali mending turun langsung Abd. Saleh deh. Lagian kalo turun Juanda, masih harus ngelewatin Lapindo dll dll dan itu bikin capeknya dobel.

Selama di Malang, kami malah ga banyak jalan-jalan. Ke Batu pun karena udah booking Pohon Inn (review menyusul....kalo sempat). Selebihnya ya banyakan di rumah. Fath sempat jalan-jalan pun karena saya suruh ke tukang pijit langganannya. Heiran, lagi liburan kok malah tensinya drop.

Pas mau balik ke Jakarta, nyaris gagal bawa bakso karena pedagang daging pada mogok. Kata ibu saya, harga daging tembus 74 rebu sekilo. Coba yaaa, di Jakarta itu 100 rebu!!! Kalo dah gini, kadang jadi pengen pindah ke Malang. Biaya hidup jelas lebih ringan :D Tapi jalani saja, banyak-banyak bersyukur.

Btw, waktu berangkat mudik, kan kami pilih pesawat pagi *harga tiket lebih murah :D* Untuk pertama kalinya juga ngerasain naik taksi yang melaju di kecepatan 120 km/jam tapi tetap nyaman. Usut punya usut, ternyata si bapak sopir taksi-nya mantan sopir truk ekspedisi Jawa-Sumatera. Pantesaaaan......