Saturday, March 27, 2010

Suamiku

Suamiku pegawai pajak, bagian Penelaah Keberatan. Golongan III A. Pulang pergi dengan motor bebek biru kesayangan yang sudah menemaninya entah sejak kapan. Masuk jam 07.30 pagi, pulang kantor jam 17.00. Kalau load-nya lagi tinggi, lembur di rumah. Heran deh, kok matanya nggak siwer ya liat kertas segitu banyak?

Setiap pagi, sebelum berangkat, aku selalu bilang hati-hati. Maksudnya hati-hati di jalan. Sesampai di kantor, Fath pasti nelpon ngabarin kalo dah nyampe. Dan saat itulah aku bilang Hati-hati lagi. Maksudnya hati-hati dengan pekerjaan, jangan keluar jalur. Jangan menerima apa pun yang bukan hak-nya, meski itu hanya satu rupiah. Mungkin atasan nggak tahu, tapi Yang Di Atas kan Mahatahu.

Alhamdulillah penghasilan Fath mencukupi kebutuhan kami, meski sekarang aku memilih untuk tidak bekerja lagi. Karena aku yang pegang semua rekening, aku tahu persis berapa saldo di rekening kami. Berapa yang masuk, berapa yang keluar.

Sejak sebelum nikah, ada aja yang bilang enak jadi istri orang pajak, cepet kaya. Waktu itu sih rada kesel, karena yah u know lah...ada yang tersirat. Tapi lama-lama kuanggap doa aja. Ya semoga bener-bener cepet kaya, dengan cara yang halal tentunya.

Dan sekarang aku bisa bilang, aku merasa kaya. Rumah kontrakan kami terletak di kompleks yang aman dan tenang. Bukan di pemukiman padat yang sesak dan rawan kebakaran. Meski perlu perbaikan di sana sini, tapi rumah ini masih bisa melindungi kami dari panas dan hujan. Setiap bulan aku bisa mengatur anggaran rumahtangga dengan tenang, bisa menyisihkan sekian persen untuk tabungan dan persiapan sekolah Ankaa kelak. Masih bisa menyisihkan sedikit dana untuk sekedar nonton atau makan-makan.

Mungkin untuk standar beberapa orang, kami nggak kaya. Tapi kami tenang. Nggak capek melihat ke atas yang hanya akan bikin leher sakit dan pandangan berkunang-kunang.

Tetaplah jujur, Suamiku sayang. Akan butuh waktu memulihkan citra instansimu, tapi jangan menyerah. I love you......


*dan Gayus atau siapa pun yang demen nilep, moga-moga kalian bisulan di pantat dan nggak sembuh-sembuh seumur hidup [kejam mode ON]*

Thursday, March 18, 2010

2 Things I Hate About Bintaro

1. Tidak ramah pejalan kaki
Trotoarnya sempit, banyak yang rusak, dan kebanyakan dipake buat parkir lah, ato usaha. Contoh paling nyata, coba deh ke depan sekolah Pembangunan Jaya. Bener-bener ga ada. Yang ada malah semak pohon apa lah itu. Kapan itu aku jalan kaki dari Bank Muamalat ke Bintaro Plaza. Sepanjang depan sekolah PJ, doaku cuma satu: ga ada kendaraan yang mepet karena mau ga mau aku harus jalan di aspal!!! Bahkan di jalan yang baru dibangun, i.e sekitar Giant CBD Bintaro, trotoarnya minim. Mungkin pengembang atau siapa pun lah yang bertanggungjawab urusan pertrotoaran itu mikirnya gini: orang Bintaro ke mana-mana bakal naik mobil, jadi buat apa bikin trotoar? Katanya Bintaro Go Green, Ecommunity, blah blah blah, tapi ga memfasilitasi orang yang mau jalan kaki.

Aku nggak ngarepin trotoar yang luebar macam di Sudirman-Thamrin. Tapi setidaknya buatlah trotoar di mana dua orang pejalan kaki bisa berpapasan tanpa salah satu harus ngalah. Sebel.

Itu baru trotoarnya. Coba tengok penyeberangan jalan. Sangat sedikit, kalo emang ga mau dibilang nggak ada. Kalo lagi mau nyeberang di sekitar CBD Bintaro, aku harus bener-bener nunggu lamaaaa banget. Daripada kesamber. Dan apesnya, kendaraan juga cuek beibeh. Malah ngebut aja gitu. Sebodo amat ada zebra cross atau nggak. Mau nyeberang rame-rame juga ga ngefek, lha pernah tuh udah rame-rame tetep aja ada yang ngebut. Jalanan di Bintaro kan rata-rata lebar dan mulus. Apes dah jadi pejalan kaki.

Kalo emang zebra cross ga mempan, bikin jembatan penyebrangan deh.

2. 21-nya menyebalkan
Entah kenapa Bintaro 21 demen banget sama film-film yang mengandung kata dendam-hantu-setan-pocong-perawan-darah-cium-dll-dll-dll. Minggu ini mending, ada My Name Is Khan, tapi tetep ada film dengan judul nggak banget: Dendam Pocong Mupeng. Malah pernah empat teater isinya film ga jelas gitu. Grrrrr..................

Wednesday, March 03, 2010

Bedtime Stories (2)

Matematika dasar
Aku: "Dongeng tentang anjing...mm...besar atau kecil?"
Ankaa: "Ncil" *baca: kecil*
Aku: "Anjing kecil yang namanya..."
Ankaa : "Guk guk"
Aku: "Si guk guk warna bulunya..."
Ankaa: "Utih otat" *baca: putih coklat*
Aku: "Kakinya guk guk ada...."
Ankaa: "Dua"
Aku: "Kok anjing kakinya dua?"
Ankaa: "Dua epan, dua akang, jadi etat" *baca: dua depan, dua belakang, jadi empat*

Matematika dasar a la Ankaa.

Sate kelinci
Ankaa: "Mi, onen inci" *baca: Mi, dongeng kelinci*
Aku: "OK, ini dongeng kelinci kecil yang masuk ke ladang pak tani. Bla bla bla ......." *Peter Rabbit, anyone?*
Aku: "Nah si kelinci berlari secepat mungkin menghindari kejaran Pak Tani...sampai tidak melihat jebakan di depannya. Si kelinci pun terjebak dalam perangkap"
Fath: "Wah enak tuh, tinggal ditangkep trus disate"
Ankaa: *seketika menangis ga rela kelincinya disate*

Grrr.....coba yaaa...Udah ga pernah ndongeng, ngrecokin mulu.

***

Dongeng buat Ankaa jadi menu wajib menjelang tidur. Mulai dari dongeng ngarang sendiri i.e. ular pink hijau yang kehujanan dan jerapah baik hati, sampe dongeng yang idenya dari buku. Untung dulu waktu kecil aku dikasih buku dongeng binatang nan tebel. Jadilah sukses waktu Ankaa minta dongeng macan tutul* atau tikus dan kucing**. Sering juga idenya ngambil dari buku-buku Ankaa dengan sedikit mengubah sudut pandang, tergantung tokoh yang lagi diinginkan. Ya kapan lagi bisa ndongeng tentang kuda nil joged atau pohon yang supergede?

Besok malam dongeng apa lagi ya?


*: macan tutul kebingungan mencari tutulnya yang hilang satu. Bukan hilang ding, dicat ama monyet nakal :D

**: tikus-tikus sepakat mengalungkan kerincingan di leher kucing supaya mereka bisa mengetahui kedatangan si kucing. Masalahnya: siapa yang mau jadi sukarelawan pengalung kerincingan?