Tuesday, October 23, 2012

Akhir Perjalanan

Waktu hamil Ankaa, Fath membelikan saya sneakers sebagai hadiah ulangtahun. Dulu sih dibeli karena kaki saya cenut-cenut saban naik KRL dengan sepatu ngantor. Setelah melahirkan, sepatu itu agak terlupakan. Dulu pernah terpakai waktu ke Gintung. Pernah saya pakai waktu ikut aerobik yang cuma bertahan tiga bulanan, setelah itu nganggur. Kadang-kadang terpakai kalau kami olahraga bareng.

Begitu saya mulai rutin jalan pagi, si sepatu pun rutin dipakai lima hari seminggu, satu jam sehari. Dan setelah sebulan, sepatu lama pun menyerah. Sol-nya pecah dan mengganggu kenyamanan selama berjalan. Sempat saya paksakan selama seminggu, akhirnya saya yang menyerah. Kata Fath, namanya juga sepatu udah lebih tua dari Ankaa. Lagian sepatu itu memang sepatu casual, bukan sepatu khusus untuk jalan atau lari. Jadi ya nggak salah sepatunya juga.


Dan hari ini, perjalanan si sepatu lama pun berakhir. Makasih sepatu. Maaf ya selama ini sudah di-abuse dengan semena-mena.

Dan makasih suami, yang sudah mengikhlaskan uang makannya untuk beli sepatu baru. Janji deh sepatu yang ini nggak di-abuse :D 

pecah

penampilan terakhir

Saturday, October 13, 2012

Batik Messenger Bag

I've been eyeing this tutorial for I don't know how long. And finally I made it :)

With some mistakes, for sure. 

My first mistake was completely ignored my notes on this tutorial which I wrote a long time ago. I used the wrong type of zipper!!!

Dan saya baru sadar di tahap akhir yang berakibat saya harus bongkar bagian retsletingnya :( Untuuung udah punya retsleting yang sesuai, meski warnanya salah. Lha dulu saya pengen bikin tas ini dengan kain ungu kombinasi garis keunguan. Kedua kain itu akhirnya berakhir sebagai baju Ankaa karena ternyata terlalu tipis buat dijadiin tas.


catetan yang sudah saya tulis entah kapan (dan terabaikan)
Selain itu, saya kehabisan benang :( Nggak tahu kenapa, Omura, toko langganan saya kehabisan benang dengan nomer yang sama. Sementara di Ollys, mereka nggak jual benang merk Astra. Jadi separo tas ini pake benang nomer 433, separo lagi pake benang putih :D

Setelah perjuangan penuh keringat dan darah, akhirnya jadi juga ini tas. Meski saya geli sendiri kalau lihat warna retsleting yang ga matching sama kainnya :D 

bagian dalam



zippered pocket

tampak depan
retsleting yang ga matching


Saya bikin tas ini pake bahan belacu dipadu sisa bikin rok Kartini Ankaa. Tutorialnya saya ambil dari blog ini.





Friday, October 05, 2012

Minggu Ketiga

Sudah masuk pekan ketiga saya rutin berjalan kaki. Rutenya nggak jauh-jauh, masih di sekitar Ceger. Kadang kalo lagi semangat, dari PJMI, alih-alih belok kanan ke arah kampus STAN, saya justru belok kiri sampe Bintaro Plaza. Dari situ baru puter balik ke arah kampus STAN.

Biasanya sih sampai rumah, kaki cenut-cenut. Saat itu saya bersyukur banget bisa jalan tanpa beban. Sepanjang jalan, saya selalu ketemu tukang sayur, tukang bubur, atau tukang ketoprak. Belum lagi tukang barang bekas dan pemulung. Mereka jalan kaki karena memang harus jalan kaki. Kalo nggak, mereka nggak dapat penghasilan. Sedangkan saya berjalan kaki karena suka, karena ingin. Dan saya nggak perlu mendorong gerobak segede gaban.

Waktu jalan kaki pula, saya jadi suka ngebayangin saya dan Fath dua puluh tahun lagi. Habis sering banget saya papasan dengan pasangan bapak-ibu yang sudah sepuh tapi masih mesra. Perasaan sih, kalo saya jalan sama Fath, banyakan debatnya deh.

Saya juga jadi hafal di mana saya bisa nebeng kalau alam memanggil. Emang enak jalan cepet karena nahan hasrat ke toilet? Untuuung ada minimarket yang buka 24 jam, toiletnya bersih, dan punya sabun cuci tangan. Penting itu, habis seringkali toilet nggak dilengkapi wastafel dan sabun cuci tangan :(

Saya juga jadi mencermati ritme orang di rute yang saya lalui. Mahasiswa yang berangkat kuliah (hiks, jadi pengen kuliah lagi), ibu-ibu yang ngeriung di tukang sayur, dan orang laper yang antre di tukang nasi uduk. Yang lebih saya cermati lagi, ternyata pejalan kaki itu bener-bener makhluk kasta terendah ya. Trotoar minimalis dan rusak (!), harus melipir biar nggak disamber motor, dan susah banget kalau mau menyeberang jalan, meski sudah di zebra cross. Kapan-kapan deh saya foto itu rute dengan trotoar rusak.

Pernah ya, saya mau menyeberang ke arah kampus STAN di Bintaro Sektor 3. Saya nunggu lalu lintas rada sepi sambil berdiri di trotoar, persis di depan zebra cross. Dan tahu-tahu ada Honda Freed putih berhenti persis di depan saya. Yak bener, dia berhenti di zebra cross. Dari dalam mobil keluar seorang ABG, langsung masuk Lawson sementara si Honda Freed tetap di situ dengan cueknya. Padahal ya, kalau dia mau maju barang semeter dua meter aja, masih ada kok tempat kosong. Tapi ya sudahlah, bisa beli mobil bagus bukan berarti bisa menghargai pengguna jalan yang lain kan?

Gara-gara kejadian itu, saya kepikiran sesuatu. Gimana kalau salah satu syarat punya SIM adalah menjadi pejalan kaki selama seminggu (takutnya kalo sebulan kelamaan). Jadi yang apply SIM disuruh merasakan suka duka pejalan kaki. Moga-moga ntar waktu mereka bener-bener di balik kemudi, mereka bisa menghargai hak pejalan kaki.

Jalur favorit tetep di jogging track kampus. Sepi, paving block masih rata, dan banyak pohon. Saya paling suka menikmati hangatnya sinar matahari jatuh di wajah. Satu hal itulah yang membuat saya bisa mengusir rasa malas jauh-jauh.

Berikutnya, saya pengen beli pedometer biar tahu berapa jarak yang saya tempuh tiap hari. Nabung....nabung....nabung.....

Thursday, October 04, 2012

Bantal Jerapah

Saya tidak pede menggambar. Terutama sejak guru seni rupa kelas 3 SD mengatakan bahwa gambar saya jelek dan saya tidak berbakat seni. Sejak itu saya selalu meragukan kemampuan saya berkreasi. Hingga dewasa. Waktu SMP, ada tugas melukis dan guru saya tertawa terbahak-bahak melihat hasil karya saya. Dan saya pun makin nggak pede dengan yang namanya menggambar.

Dan seorang guru lain saat SMP mengatakan saya tidak akan pernah sukses karena saya nggak bisa bekerjasama dengan teman. Ceritanya waktu itu dia memberi tugas tim untuk menyusun puzzle dan saya memberi saran tentang cara menyusun. Too bad, my friends ignored me. I was a freak back then. I still am. Jadi ya saya diam saja menyaksikan teman sekelompok saya bingung menyusun puzzle yang saya sudah tahu persis cara penyelesaiannya. Dan saat itu guru saya mengatakan hal itu. I believed that, too. So teachers out there, be careful of whatever comes out your mouth.

Waktu mendaftarkan Ankaa ke TK, ada isian di formulir pendaftaran tentang harapan orangtua atas guru. Saya menulis, saya ingin Ankaa memiliki guru yang tidak pernah mematikan rasa ingin tahu dan semangatnya untuk belajar.

Yak cukup sekian nostalgia yang kurang menyenangkan. Sekarang mau pamer lagi :D


Agustus lalu, ibu saya datang berkunjung dan membelikan satu bantal baru. Katanya kami kekurangan bantal, yang mana itu pernyataan yang aneh. Sehari-hari kami hanya bertiga dan kami punya empat bantal standar, dua bantal ekstra-besar, dan empat guling. Tapi namanya juga dikasih ortu, diterima saja :D

Baru setelah itu saya sadar ini bantal ukurannya lebih gede ketimbang bantal standar. So we're one pillowcase short. Langsung deh saya keluarin stok kain sprei dari rak daan....tinggal selembar :( Warnanya abu-abu suram pulak. Sampe sekarang saya masih bingung apa sih yang saya pikirin sampe beli warna abu-abu ini? It's gloomy, sad, and ugly. Sempet sih kepikiran ke Cipadu lagi, tapi saya lagi pengetatan dompet seketat mungkin demi sepatu boots baru dan pedometer.

Jadi apa yang bisa dilakukan? Saya bikin (sedikit) lebih ceria. Ide awal saya ya memang jerapah yang lagi makan daun. Saya tahu mau bikin apa, cuma mau nggambar sketsanya tuh ragu-ragu. Dari buku Jepang oleh-oleh Iva sih ada template kepala jerapah. Ukurannya kecil banget, cuma 14x14 cm. Saya sempat memikirkan gambar burung sebagai ganti jerapah dan nggak jadi juga. Akhirnya lima menit sebelum mulai menjahit, saya ambil hp, buka Google, dan langsung ketik keyword giraffe head cartoon. Berdasarkan thumbnail yang kuecil itu, saya memberanikan diri menggambar kepala si jerapah. Ini sketsanya.


masih disusun

And....tadaaa.....


sarung bantal baru!!!