Thursday, October 04, 2012

Bantal Jerapah

Saya tidak pede menggambar. Terutama sejak guru seni rupa kelas 3 SD mengatakan bahwa gambar saya jelek dan saya tidak berbakat seni. Sejak itu saya selalu meragukan kemampuan saya berkreasi. Hingga dewasa. Waktu SMP, ada tugas melukis dan guru saya tertawa terbahak-bahak melihat hasil karya saya. Dan saya pun makin nggak pede dengan yang namanya menggambar.

Dan seorang guru lain saat SMP mengatakan saya tidak akan pernah sukses karena saya nggak bisa bekerjasama dengan teman. Ceritanya waktu itu dia memberi tugas tim untuk menyusun puzzle dan saya memberi saran tentang cara menyusun. Too bad, my friends ignored me. I was a freak back then. I still am. Jadi ya saya diam saja menyaksikan teman sekelompok saya bingung menyusun puzzle yang saya sudah tahu persis cara penyelesaiannya. Dan saat itu guru saya mengatakan hal itu. I believed that, too. So teachers out there, be careful of whatever comes out your mouth.

Waktu mendaftarkan Ankaa ke TK, ada isian di formulir pendaftaran tentang harapan orangtua atas guru. Saya menulis, saya ingin Ankaa memiliki guru yang tidak pernah mematikan rasa ingin tahu dan semangatnya untuk belajar.

Yak cukup sekian nostalgia yang kurang menyenangkan. Sekarang mau pamer lagi :D


Agustus lalu, ibu saya datang berkunjung dan membelikan satu bantal baru. Katanya kami kekurangan bantal, yang mana itu pernyataan yang aneh. Sehari-hari kami hanya bertiga dan kami punya empat bantal standar, dua bantal ekstra-besar, dan empat guling. Tapi namanya juga dikasih ortu, diterima saja :D

Baru setelah itu saya sadar ini bantal ukurannya lebih gede ketimbang bantal standar. So we're one pillowcase short. Langsung deh saya keluarin stok kain sprei dari rak daan....tinggal selembar :( Warnanya abu-abu suram pulak. Sampe sekarang saya masih bingung apa sih yang saya pikirin sampe beli warna abu-abu ini? It's gloomy, sad, and ugly. Sempet sih kepikiran ke Cipadu lagi, tapi saya lagi pengetatan dompet seketat mungkin demi sepatu boots baru dan pedometer.

Jadi apa yang bisa dilakukan? Saya bikin (sedikit) lebih ceria. Ide awal saya ya memang jerapah yang lagi makan daun. Saya tahu mau bikin apa, cuma mau nggambar sketsanya tuh ragu-ragu. Dari buku Jepang oleh-oleh Iva sih ada template kepala jerapah. Ukurannya kecil banget, cuma 14x14 cm. Saya sempat memikirkan gambar burung sebagai ganti jerapah dan nggak jadi juga. Akhirnya lima menit sebelum mulai menjahit, saya ambil hp, buka Google, dan langsung ketik keyword giraffe head cartoon. Berdasarkan thumbnail yang kuecil itu, saya memberanikan diri menggambar kepala si jerapah. Ini sketsanya.


masih disusun

And....tadaaa.....


sarung bantal baru!!!


No comments: