Monday, July 29, 2013

Hilya

Namanya Hilya Marwah Mahira. Lahir 24 April 2013, putri kedua tetangga saya. Rencananya menjelang akhir tahun ini, mereka sekeluarga akan boyongan ke Palu, Sulawesi Tengah, mengikuti sang abi yang dipindahtugaskan ke sana.

Namun Allah SWT berkehendak lain.

Pagi subuh tanggal 23 Juli 2013, sang ummi bangun dan mendapati Hilya sudah kembali menghadap-Nya.

Saya agak terlambat mendengar berita ini. Pagi itu, suara speaker masjid yang mengumumkan berita dukacita ini kalah oleh suara pompa air dan mesin cuci. Saya baru mendengarnya dari tetangga yang pulang takziah dan sedang melewati rumah.

Tidak percaya, itu reaksi pertama saya. A perfectly healthy baby just didn't sleep and die like that. Apalagi tiga hari sebelumnya saya masih menggendong dan menggoda tentang mode rambutnya yang lucu.

Tapi bendera kuning yang terpancang dan deretan kursi pelayat itu tak mungkin salah. Saat saya datang, Hilya sudah terbungkus kain batik di ruang depan. Di sekelilingnya, tangis pecah tak putus.

Tidak ada yang akan pernah tahu penyebabnya, mengingat sebagian besar kasus Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) juga tetap misteri.

Sungguh saya mengagumi ketabahan kedua orangtuanya, terlebih sang abi yang mendapat berita duka ini saat sedang dinas luar kota. Tak terbayang betapa remuknya perasaan mereka berdua saat kehilangan bayi mungil itu.

Selamat jalan Hilya.....

Monday, July 15, 2013

Pasar Modern Bintaro

My not-so-new fav place :D

Saya tuh malas belanja sering-sering. Kebutuhan bulanan ya dibeli sebulan sekali, biar ga tengah bulan harus beli beras. Tapi kalo kebutuhan harian maca sayur atau ikan, ga mungkin lah dibeli sebulan sekali. Busuk nanti.

Berhubung protein (daging, ayam, ikan, tahu, tempe dll) bisa disimpen dalam freezer, saya lebih suka belanja seminggu sekali. Sebelum belanja, bikin perencanaan menu seminggu, trus ditulis deh butuh apa aja. Seringnya sih, saya nggak taat sama perencanaan itu, tapi improvisasi berdasarkan apa yang sudah dibeli.

Sebelum PasMod Bintaro dibuka, ada Pasar Ceger yang duluan dibuka. Cuma entah kenapa, sampe detik ini saya ga pernah ke sana. Padahal ya tinggal naik angkot sekejap mata. Tetep saya lebih memilih ke tukang sayur.

Nah begitu si PasMod dibuka, saya mampir karena lokasinya yang memang bersebelahan dengan pasar kaget akhir pekan a.k.a weekend bazaar. Dan saya sukaaa....

Lokasinya bersih. Meski ga terlalu luas, tapi pasarnya adem karena beratap dan pencahayaannya terang. Petugas kebersihannya juga lumayan sigap. Hampir ga pernah saya lihat sampah berceceran atau air menggenang.

Kalo soal barang yang dijual, saya suka karena barangnya segar. Mereka menyediakan tempat pemotongan unggas di sebelah pasar. Jadi kayanya ayam selalu dapat segar deh. Daging juga bagus. Daging kambing juga ada, sesuatu yang kadang susah dicari :D Ikannya juga banyak macamnya. Mau teri atau salmon, mau kembung atau rajungan, hayu. Sayur juga komplit. Ibu saya sampe pernah heran lihat ada pucuk pakis di kios sayur langganan saya. Dan di sini saya nemu menjes lo. Tahu tempe menjes? Ga tau? Tanya sama orang Malang yak...:D Dua rebu dapat tiga bungkus, lumayan sekedar pemuas rindu hihihi


Soal harga, sebenarnya sama aja ya dengan tukang sayur. Kalau pun selisih, ga banyak. Malah beberapa item lebih murah ketimbang tukang sayur, lebih segar, dan lebih variatif. Tapi seringnya di sini saya cuma beli bahan protein aja, macam ayam atau ikan-ikanan. Kalo sayur segar, saya lebih memilih tukang sayur. Bukannya kenapa, kulkas ga muat dan beberapa jenis sayur ga bisa disimpen lama kan?

Puas belanja, yuk makan. Cobain ke Pecel Pincuk Bu Ida (pernah dikupas di Kompas Minggu). Enyak :D Anehnya, saya malah ga pernah pesen pecel. . Tahu pecelnya enak karena nodong punya Fath atau ibu saya. Saya malah pesen....rujak cingur! Yang jual sampe heran, kok ada yang sarapan rujak cingur pake cabe dua :D Namanya juga tombo kangen Mas..:D Yang nyesek, mendol-nya mihil. Dua rebu aja gitu. Mending duitnya kasih saya, trus beli tempe dan bikin mendol sendiri deh :D Rawonnya acceptable dan dagingnya melimpah, jamu beras kencur dan kunyit asamnya enak. Saya masih penasaran ama lodeh dan urap-nya. Bumbu pecelnya juga bisa dibeli terpisah, kalo ga salah Rp40 rebu per bungkus. Boleh nyicip dulu, mau varian yang mana.

Persis di sebelah Bu Ida, ada Soto Pak Ace. Soto campurnya enyak. Yang punya kolesterol ati-ati yah. Full jeroan dan santan :D Waktu itu Ankaa makan soto daging bening dan habis bis.

Banyak sih tempat makan lain, tinggal diputerin aja :D Pernah lagi Haikal nyoba empal gentong dan katanya enak. Ada lagi yang kayanya gabungan dari banyak pedagang makanan deh, jadi jualannya nano-nano. Mulai dari soto lamongan sampe gado-gado betawi. Saya pernah coba gado-gado dan rujak manisnya, lumayan. Meski mungkin saking ramenya, si mas lupa saya pesen gado-gado tanpa cabe dan rujak cabe dua. Jadilah Ankaa kepedesan dan saya ngerasa hampa tanpa cabe.

Yang kurang enaknya, parkir motor. Kalo mau yang teduh, ya parkir di BTC. Tapi harus jalan, meski ga jauh. Kalo mau deket banget sama pasar, ya parkir di lahan ex-weekend bazaar. Kalo abis hujan, licin banget. Lokasi parkir mobil juga sebenarnya sami mawon. Antara di halaman pasar, BTC, atau ya di lahan ex-weekend bazaar itu.

Kesukaannya Ankaa di sini? Tak lain tak bukan los daging babi. Heran, demen banget dah nunjuk sambil teriak kenceng-kenceng: Bi, itu daging babi ya? Kan ga enak sama yang jual :P

Sunday, July 07, 2013

It's Just So You


Waktu lagi hunting info rumah, saya bikin semacam daftar. Isinya lokasi, luas tanah dan bangunan, harga, plus CP berikut nomer HP yang bisa dihubungi dan (kalo dari iklan online), link iklannya. Ada kali 30 tempat, kaya mau dibeli semuanya aja :D

Daftar itu saya tunjukin ke Fath dan sama dia ditambahin dong dengan simulasi KPR dari entah berapa bank, baik syariah maupun konvensional plus besar DP yang harus disiapkan, berikut besar cicilan untuk 10 dan 15 tahun. Saya yang ngeliat sampe siwer sendiri ngeliat file excel seribet itu.

It's just so him.

Misalnya butuh beli barang, Fath bakal bikin daftar  yang sesuai kebutuhan, nentuin anggaran, trus bikin deh tabel plus minusnya komplit dengan spesifikasi. Masih ditambah dia bakal nyari review tentang masing-masing item. Dari situ baru dia nentuin mau beli yang mana :D

It's just so him.

Kemarin, sabun di kamar mandi habis. Saya minta Fath ambil refill sekalian minta diguntingin, biar tinggal saya tuang. Dan dia gunting ya persis di garis titik-titik. He cut it precisely on the line. Padahal kalo saya, entah digunting lebih besar biar nuangnya cepet, atau malah di sisi yang ga ada titik-titiknya :D

And again, it's just so him.

Anggaran belanja harian saya letakkan di amplop, saya kasih tanggal peruntukannya. Seringnya sih, duit belanja minggu kesekian, kepake di minggu kesekian. Pembenaran yang saya pake: fluktuasi harga yang tak terduga di tingkat pedagang sayur sebagai imbas rumor tak jelas tentang kenaikan harga BBM, ketersediaan pasokan, dan permainan spekulan :D Udah gitu, recehan saya suka berceceran di mana-mana. Kapan itu saya nemu selembar 20 ribuan di saku tas superjadul yang udah nggak saya pake selama setahun lebih :D Saya bilang lumayan, Fath bakal bilang: kebiasaan buruk. 

Suatu hal yang nggak bakal kejadian pada Fath.

Dompet Fath rapi jali. Uang kertas ditata dengan urutan sesuai nominal, menghadap ke sisi yang sama, dan sesuai tingkat "kekumalan" :D Dana untuk keperluan harian ditaruh di amplop sesuai tanggal dan peruntukannya. Dan nggak ada ceritanya dana untuk bayar tiket KRL dipake buat beli bensin. Aseli cocok deh kerja di DepKeu.


It's just so him. 

Delapan tahun lalu, saya terima pesan friendster (masih ada ga sih?) dari teman seangkatan yang tidak saya kenal waktu SMP. Siapa sangka sekarang dia jadi abinya Ankaa. Manusia rapi jali, penuh pertimbangan, dan taat peraturan married sama saya yang berantakan dan impulsif. Sekarang dia sedikit ketularan berantakan dan saya ketularan rapi (meski masih slebor juga).

I love you, hubby. Ga terasa ya udah delapan tahun kita kenalan :P