Friday, December 23, 2005

yang tercecer dari JiFFest 2005

ada banyak yang kuingat dari JiFFest tahun ini. JiFFest pertamaku. tahun lalu, aku tak menonton satu film pun karena:

1. tidak tahu jakarta
2. tidak ada teman
3. tidak cukup pe de untuk nonton sendirian sampai larut malam (meski beberapa bulan sebelumnya aku nonton final IBL di senayan sampai menjelang mitnait)


ini sedikit yang tercecer dari JiFFest kemarin


1. aku tidak menonton kesepuluh film yang sudah kurencanakan. aku sudah membeli sepuluh tiket. yang terbuang adalah The Three Burials of Melquiades Estrada, karena saat itulah handphoneku kecurian. jadi saat film itu diputar, aku tengah menelpon mas tersayang, adik, iwan, lalu makan nasi gila di warung tenda depan TIM bareng mas alfha, beli dvd dan mencoba menenangkan diri.

lantas Le Grand Voyage dan The President's Barber yang kulepas karena ikut outing kantor. oh sungguh, seandainya bisa memilih dan seandainya JiFFest adalah alasan yang cukup kuat untuk bolos outing, tentunya aku akan lebih memilih JiFFest.


2. aku sedikit miris melihat dvd bajakan film-film JiFFest dijual di tempat pemutaran film. di GBB. dan jujur, aku membeli beberapa. aku membeli film-film yang berkesan untukku, dan film-film yang tak kutonton. tapi aku sempat berpikir, mengapa tak dibuat jeda antara penjualan ini dengan gelaran JiFFest??? atau setidaknya, jangan di satu venue yang sama. namun aku sudah menemukan dvd Dear Frankie di Mal Ambassador dua pekan sebelum JiFFest dibuka. tiket gold member, hanya sepuluh ribu per lembar. namun jelas, orang akan memilih dvd karena harganya hanya tujuh ribu per keping dan kau bisa menontonnya berulang-ulang.


3. JiFFest membuatku pulang cepat dari kantor, namun tiba di kos larut malam. bagaimana tidak? film yang kupilih untuk kutonton di hari kerja rata-rata diputar pukul tujuh malam. selesai pukul sembilan. dan itu berarti, aku akan tiba di kos paling cepat pukul sepuluh. dengan pengecualian pada hari Jum'at, aku tiba tengah malam karena Beautiful Boxer kutonton pada pukul 21.30


4. aku menginginkan adanya JiFFest tahun depan. kapan lagi ada serbuan film-film alternatif bermutu tinggi? kenapa harus puas dengan film pilihan 21 Cineplex kalau aku bisa menonton film yang tak kalah bermutu? Hollywoood bukan patokan. apa salahnya nonton film pakistan? dan aku tak pernah tahu ada film bagus dari thailand. biarlah penonton Indonesia (atau setidaknya, Jakarta) tahu bahwa hollywood bukan pusat film. dan biarkan para khalayak perfilman indonesia belajar tentang bagaimana film bagus itu sebenarnya. jadi suatu saat, aku bisa berteriak, tertawa, dan menangis menonton film anak negeri, sebagaimana aku menonton The Motorcycle Diaries. bukan hanya kisah cinta anak SMU yang naif.


ah sudahlah, tahu apa aku tentang carut marut hiruk pikuk pembuatan film? aku hanya konsumen penikmat hasil jadi film. yang mencoba berkomentar. itu saja.

No comments: