Wednesday, January 04, 2006

Mountain Patrol


Sinopsis:

Ga Yu, seorang jurnalis dari Beijing, ditugasi meliput tentang patroli pegunungan pimpinan Ri Tai di Kekexili usai terbunuhnya seorang anggota patroli tersebut. Awalnya ia bermaksud menguak kisah suakrelawan patroli, pemburuan antelope Tibet, dan desas desus bahwa patroli tersebut bekerjasama dengan pemburu ilegal.


Ga Yu bergabung dengan kelompok patroli dan menyaksikan bagaimana mereka mempertaruhkan nyawa dan bertarung dengan para pemburu liar yang kejam. Patroli itu bertujuan untuk mencegah pembantaian terhadap antelope Tibet yang populasinya kian menyusut (dari sejuta ekor hingga tinggal sepuluh ribu ekor pada tahun 1996).


Pengambilan gambar film ini dilakukan di ketinggian 4600 kaki, dengan kondisi lingkungan yang benar-benar menantang.


Pemain:
Duobuji, Zhang Lei, Qi Liang

Asal:

China/Hongkong


Pendapatku:

TWO THUMBS UP!!!!


satu, ceritanya bagus, ini kisah nyata, ga lazim, dan ini didukung oleh akting pemain yang keren dan lokasi syuting yang (aslinya) emang udah keren. film ini mengangkat isu kepunahan antelope Tibet, yang habitatnya hanya ada di Kekexili. tentang bagaimana mereka diburu demi bulunya yang bernilai tinggi dan ketidakpedulian pemerintah China. pemerintah China sendiri baru menyatakan Kekexili sebagai kawasan dilindungi usai dimuatnya tulisan Ga Yu di media massa.


sebenarnya, aku ga tau harus nulis apa lagi. masih terbayang bagaimana orang-orang itu menempuh perjalanan berhari-hari melintas Kekexili dengan jip butut dan bahan makanan seadanya. mereka kalah jumlah, kalah persenjataan.


bahkan ada yang sakit asma (atau apa ya?) yang sakit dan harus dibawa kembali. sang rekan menyetir berhari-hari tanpa tidur. demi menjaga matanya tetap nyalang, dia mengikat rambutnya ke atap jip.


kedua, sisi baik buruk digambarkan dengan baik. Ritai sempat menjual bulu antelope karena mereka sudah kehabisan uang. tak seorang pun dari mereka yang menerima gaji dalam setahun. mereka patroli tak resmi. orang-orang yang tidak menghendaki kepunahan satwa dan berusaha melindungi tanah mereka dari jarahan sesama.


dan para pemburu, tak melulu digambarkan kejam. ada sih yang sangar, berusaha menyuap Ritai, tapi akhirnya membunuh Ritai. saat truk berisi tawanan pemburu terperosok, mereka bersama-sama mendorong truk itu hingga keluar dari lumpur. sama-sama terjebak di lingkungan yang tak menguntungkan membuat mereka senasib sepenanggungan.


ketiga, film ini membuatku membandingkan Ritai dengan para suku di pedalaman indonesia. mereka menjaga hutan namun seringkali dituding merusak. kenapa pemerintah ga bekerja sama saja dengan mereka?


film yang bagus. dari sudut pandang non-pemerintah. mungkin agak bias. tapi harus diakui, ini film yang luar biasa.


salut

No comments: