Sunday, February 12, 2006

mereka juga tanggungjawab kita


kapan terakhir kali aku pegang buku UUD Indonesia??? mungkin saat kelas tiga SMU. berarti tujuh tahun silam, atau bahkan lebih. sepanjang kurun itu, ada amandemen dan lain-lain. tapi ada kejadian pagi ini yang membuatku menelusuri wikipedia demi pasal berikut:

Pasal 34:

(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.


kejadian sederhana: aku melihat bocah kecil jadi kondektur bus patas. dan membuatku teringat hal lain.

beberapa hari yang lalu, salah satu bosku bercerita betapa dia merasa tak nyaman saat menerima tagihan makan untuk empat orang: nyaris enam juta rupiah untuk sekali makan. dia mengibaratkan, jika uang itu dipakai untuk beli nasi padang, berapa orang tak mampu yang akan bersama menikmatinya. dan aku tersentak saat mendengar seorang rekanku dengan lugas berkata: mereka kan tanggungjawab negara.


keseimbanganku hilang. aku nyaris tak mempercayai telingaku sendiri. ya, mereka tanggungjawab negara. buktinya: tercantum di undang-undang dasar negara ini.


sudah jelas kan kalau mereka, fakir miskin dan anak terlantar itu dipelihara negara? dan di mana negara saat warga Yahukimo mati kelaparan? di mana negara saat warga Gunung Kidul terpaksa makan gaplek dan berjalan berkilo-kilo demi seliter air bersih? di mana negara saat gelandangan tidur di jalan? di mana negara saat fakir miskin dan anak terlantar justru dimanfaatkan oleh mafia jalanan? di mana negara???


dan di mana nurani kita saat dengan tenang kita berbelanja ratusan ribu rupiah untuk barang yang sebenarnya tak kita butuhkan? di mana nurani kita saat dengan enggan memberi sekeping limaratusan tapi dengan bahagia menyerahkan lima ratus juta demi mobil baru? di mana nurani kita saat dengan cuek membuang sisa makanan sementara ada mata-mata cekung kelaparan di luar sana? di mana nurani kita?


aku rindu sosok Muhammad SAW yang menyerahkan pakaian terbaiknya pada seorang gelandangan. aku rindu sosok Umar bin Khattab yang rela memanggul sekarung gandum di malam buta demi menolong keluarga yang kelaparan.


dan kita???


di negara mana aku tinggal? di planet mana aku berada? kenapa yang kutemui justru wajah-wajah kosong tanpa empati?


negaraku sanggup mengeluarkan anggaran triliunan rupiah untuk BLBI, namun keberatan mengeluarkan beberapa ratus juta untuk membangun kembali rumah-rumah yang roboh di aceh. negara yang munafik. pengecut. banci. mafia. tanpa empati. dan kenapa kemunafikan, kepengecutan, kebancian, kemafiaan, dan ketanpaempatian itu juga menurun hingga ke jiwa rakyatnya??? kenapa?????



orang-orang di jalanan itu, mereka juga manusia. aku sering berandai-andai, jika dahulu terjadi kesalahan peniupan ruh, mungkin saja kan aku sekarang ada di posisi gelandangan???


mereka memang dekil, kere, dan kadang mengganggu pandangan mata. tapi mereka juga manusia. seperti apa pun wujudnya.


membantu mereka bukan hanya saat Ramadhan atau Muharram. karena mereka hidup selama dua belas bulan, bukan hanya dua bulan hidup dan sepuluh bulan mati suri. memberi makan mereka bukan hanya saat kita ulang tahun, karena mereka tidak hanya hidup sehari, tapi juga 365 hari. terimakasih atas zakatmu, tapi bukan berarti kewajibanmu membantu sesama gugur begitu saja. kalau kau memang tak sanggup membantu mereka, tak sanggup menyisihkan lebih banyak lagi, setidaknya jangan sisihkan empatimu. setidaknya tetap sisakan rasa iba di hatimu.


*aku ingin memaki dunia. tempat aku tinggal di dalamnya*

No comments: