Thursday, March 23, 2006

sembari hujan

story 1:

pagi ini, aku menunggu bus di halte dekat tempat tinggalku. di sebelahku berdiri perempuan berusia sekitar 30-an. menilik helm yang dibawanya, kuperkirakan ia menunggu jemputan.


kira-kira 15 menit setelah aku duduk, handphone si ibu berdering. dan terjadilah pertengkaran kecil. berdasarkan dialog yang kudengar, sepertinya si ibu diturunkan di halte, kemudian si suami pergi dengan janji akan menjemput, tapi malah lupa di mana istrinya menunggu. tapi yang membuatku tercengang adalah maki-maki si ibu pada sang suami. kurang lebih seperti ini nih:

ibu: bego banget sih kamu!!! dasar goblok!!! sapa suruh tunggu di k******n!!! kelewatan kamu, keterlaluan kamu, bisa lupa di mana nurunin istri sendiri!!! dasar bego...........


dan sederet makian lain. hujan mulai reda. tapi mendadak hati saya bergemuruh.



story 2:

karena menyadari ketololanku yang maksa nunggu bus 41, akhirnya aku naik bus sampai lampu merah kuningan lalu oper kopaja. toh tujuan utama ke gambir dulu. banyak jalan menuju gambir kan??? aku naik bus apa pun yang meneriakkan kata KOMDAK. dan alhamdulillah, kondekturnya sopan. dia meminta ongkos dengan sopan, menanyakan turun di mana (meski jauh-dekat ongkos sama saja), mengelap bangku yang basah karena hujan, dan minta permisi saat lewat untuk menagih ongkos.


gemuruh hatiku mereda seketika.



pagi yang sama. hujan yang sama. dingin yang sama.


aku membayangkan perasaan suami si ibu tadi. dia bawa motor, hujan, macet pula. yah salah dia juga sih kok bisa lupa istrinya di-drop di mana? konyol juga. tapi dia menelepon istrinya untuk menanyakan posisi dan dibalas dengan kalimat: kamu keterlaluan, dasar bego!!!

sakit hati ga seh??? bukankah akan jauh lebih baik jika si ibu menanyakan di mana posisi suaminya, dan mengatakan di mana posisinya sekarang. lalu meminta si suami segera menjemput sembari mengingatkan agar berhati-hati. setelah suami jemput, baru deh minta dia ga melakukan kesalahan serupa.


teori sih emang gampang ya. aku hanya bisa berharap, jika suatu saat kejadian yang sama menimpaku, aku bisa menahan lidah untuk tidak memaki fath begitu rupa. masih ada cara lain yang jauh lebih baik.


pagi yang sama. hujan yang sama. dingin yang sama.


tapi senyum ramah kondektur tadi benar-benar menenangkan.



pagi yang sama. hujan yang sama. dingin yang sama. namun tetesannya meninggalkan bekas yang berbeda.

2 comments:

Joanie Mack said...

Well, nggak seharusnya memaki gitu, IMHO, gimana pun suaminya itu kan punya perasaan. Bersuara dingin pun udah bisa bikin sang suami sedih. Tapiiiiii...mungkin sedang moody *lirik beberapa posting sebelum ini* atau gengsi karena lagi marahan. Tapi ya tetap bukan pembenaran...

Larva said...

...pria dijajah wanita sejak dahulu kala...