Wednesday, January 24, 2007

sepakbola mi instan

posting yang telaaat....coz baru muncul mood-nya semalam
semalam nonton semifinal Piala AFF antara Malaysia-Singapura. hasil akhir 1-1 (info dari detik coz aku tidur menjelang babak 2 mulai).

rasanya pertandingan kemarin adalah pertandingan sepakbola paling membosankan yang pernah kulihat. lambat, assist ga mutu, tendangan ngaco, serangan gampang kebaca. beda banget sama permainan Indonesia vs Singapura *tu kan aku nasionalis ^_^*

aku jadi bertanya-tanya dalam hati, kok bisa Singapura lolos sementara Indonesia keok? tapi setelah dipikir-pikir lagi, wajar kalo Singapura bisa lolos. mereka punya duit melimpah untuk menarik pemain asing hingga mau di-naturalisasi. ga perlu repot-repot pembinaan udah dapat pemain bagus. mana ada orang Singapura kulit hitam dan bernama Precious? *pas liat nama ini, aku inget nama doggy di novel Silence of the Lamb*

dan lagi, mereka ga ragu buat main kasar ala tarkam dan yakin bakal dibela oleh wasit. masa sepakbola kaya pertandingan karate gitu?

mungkin keberhasilan Singapura itulah yang mengilhami mister Nurdin hingga sempat mencetuskan ide naturalisasi pemain asing. ga repot cari bibit unggul ke pelosok Indonesia yang luasnya entah berapa kali lipat Singapura. ga repot menyelenggarakan kompetisi yang bermutu. ga repot dengan pembenahan manajemen PSSI. cukup ambil pemain, naturalisasi, beres deh. tapi untungnya (konon) ide itu mandeg di tengah jalan.

kalau orientasinya adalah hasil a.k.a kemenangan, mungkin cara itu akan berhasil. kalau orientasinya sekedar Piala AFF kemenangan level Asean, mungkin naturalisasi bisa berhasil. tapi dengan cara itu, lupakan impian menjadi finalis Piala Dunia. buang saja angan muluk itu ke tempat sampah, karena tak satu pun negara finalis Piala Dunia yang memiliki pemain instan macam itu. eh kecuali AS kali yaaa....

mungkin bagi pengurus PSSI, ide kompetisi yang sehat dan bermutu, manajemen yang profesional, pembinaan pemain-pelatih-wasit sejak dini adalah ide yang terlalu sulit. mungkin bagi mereka, yang penting kuantitas, alih-alih kualitas, kemenangan. sama seperti pikiran yang penting kenyang. perkara kenyang itu dari mi instan yang tak bergizi, itu bukan soal. kenapa? karena ga mau repot ngupas bawang, motong tomat, menyiangi sayur, membersihkan ikan demi mendapat makanan bergizi.

sepakbola kita ga bergizi, tapi tetap saja ada yang makan. persis kaya mi instan. entah kapan gizi itu bisa ditingkatkan.

Pukul 3 sore hari
Di jalan yang belum jadi
Aku melihat anak-anak kecil
Telanjang dada telanjang kaki
Asik mengejar bola

Kuhampiri kudekati
Lalu duduk di tanah yang lebih tinggi
Agar lebih jelas lihat dan rasakan
semangat mereka keringat mereka
Dalam memenangkan pernainan

Ramang kecil, Kadir kecil menggiring bola di jalanan
Ruli kecil, Ricky lika-liku jebolkan gawang

Tiang gawang puing-puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita

Yang nampak mata hanya para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita di sini
Di jalan ini

Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola tentu bukan salah mereka

Roni kecil, Heri kecil, gaya samba sodorkan bola
Nobon kecil, Juki kecil, jegal lawan amankan gawang
Cipto kecil, Suwadi kecil, tak tik tuk tak terinjak paku
Yudo kecil, Paslah kecil, terkam bola jatuh menangis

Iwan Fals-Mereka Ada Di Jalan

1 comment:

RidwanFamily said...

mungkin baik pemain maupun pengurus PSSI kebanyakan makan mi instan, jadi otaknya ga dapet makanan bergizi dan menyebabkan akal sehat menguap tak terkendali... heuehehehehe...
-ameera's mum-

ps: ameera & mum sekarang di blog ini, pls apdet.. thanks nYam!