Thursday, January 04, 2007

Wisata

berhaji mungkin bisa diibaratkan sebuah perjalanan wisata. kita menabung bertahun-tahun, menghemat sedikit dari penghasilan yang ga seberapa demi bisa menjadi tamu Allah. demi bisa menginjak tanah suci tempat Rasulullah pertama kali menyampaikan wahyu-Nya.

note: ini mengecualikan haji bonus ya...^_^

kebetulan, penyelenggara wisata ini ya pemerintah kita sendiri. meski dengan anak cabang yang namanya biro haji dan sejenisnya. namanya wisata, wajar dong kalo kita tahunya terima beres?

bayangin aja lagi jalan-jalan ikut tour ke Bali ato Singapore. kita ga mau tahu tentang urusan transportasi dan makan. yang kita tahu, kita udah bayar mahal untuk bisa jalan-jalan ke sana. urusan makan dan tetek bengek lain, ya urusan penyelenggara dong.

para jamaah haji itu, saat di tanah air, mereka sudah dipingpong ke sana sini sekedar untuk mengurus surat ini itu, dan mungkin ada amplop yang harus diberikan supaya urusan lancar. mereka rela mengeluarkan dana yang mungkin jumlahnya cukup untuk biaya kuliah anak atau beli sapi atau mulai usaha baru demi bisa menyentuh Ka'bah. mereka datang ke tanah suci demi sebuah ibadah bernama Haji....mereka tamu Allah. tamu Tuhan....

tapi perlakuan pada mereka seperti pada pengungsi. tamu Tuhan kelaparan. hanya karena ada yang berusaha berhemat 50 Riyal per jamaah. dengan kurs Rp 2300 per riyal, para jamaah diminta berhemat Rp 115 ribu...padahal mereka dah bayar paling ga 25 juta.

dan bisa-bisanya si bapak bersyukur korban cuma dua. walah Pak, kalo saya ikutan tur wisata, trus saya kelaparan gara-gara penyelenggara tur lalai, maka hal pertama yang saya lakukan adalah minta duit saya dibalikin dengan ditambah kompensasi kelalaian. mereka dah bayar mahal, dibiarin kelaparan. jamaah mau dididik biar solider sama pengungsi kelaparan ya?

tragedi kelaparan para jamaah haji saat mereka seharusnya dimuliakan, itu bukan cobaan. bukan musibah. itu SKANDAL!!!!

5 comments:

Luky said...

Ironis memang , Justru pada saat para jamaah khusyu' menunaikan ibadah di tanah suci malah harus terpaksa mikirin urusan perut. Sedih, kesel campur gemes, ya begitulah nYam kalo tinggal di "Indonesia tercintah", penuh resiko.

Tks ya nYam atas doanya buat Alya,sekarang udah ceria lagi dan ud mampir ke blog aku.

Anonymous said...

Aku agak gak enak nulis blog tentang ini nyam, denger2 anaknya juga ada di UK...

nYam said...

@Luky: mungkin pemerintah mo ngajarin solider ama yang lagi ketimpa banyak musibah di tanah air...biar ga lupa kampung halaman gitu ;)

@Anonym: maksute???

ibunyaima said...

Itu memang yg bikin tempra, nYam! Orang pada enak aja bilang "cobaan", "takdir", .. dan segala pencatutan nama Tuhan lainnya.

Padahal.. kalo gak pakai usaha, ya namanya bukan cobaan atau takdir.. tapi LALAI. Salah manusia, bukan maunya Tuhan. Enak aja nyatut nama Tuhan untuk kelalaian mereka :(

mel@ said...

iya tu... nyebelin... mana pak denya aku sekarang yang naik haji... pas kena kloter yang kelaparan itu...
bikin khawatir keluarga kita aja... habis kan udah tua gitu... 65 tahun disuruh puasa 2 hari... ga mikir apa... sebel...
cuma gara-gara 115 rebu... emang ntar bakal dikembaliin ke jamaah gitu?... ga yakin de...