Thursday, July 05, 2007

sedotan


tahu minuman kemasan dalam kotak kan? macam susu UHT, teh kotak, atau minuman rasa buah. biasanya minuman semacam ini udah disertai sedotan. jadi tinggal lepas sedotan, buka, trus minum deh. si sedotan juga biasanya yang berulir. panjangnya juga sudah diatur sesuai ukuran kemasan, jadi konsumen ga perlu repot mengira-ngira berapa dalam sedotan harus masuk.

ada beberapa toko (biasanya swalayan) yang melepas sedotan itu dari kemasan. mungkin karena ga ingin konsumen minum sebelum bayar. jadi silakan bayar dulu, lalu sedotan akan diberikan setelah bayar.

ga masalah sih, asal sedotan yang diberikan kemudian memang sedotan yang diperuntukkan bagi minuman itu. para produsen minuman kemasan tentunya udah merancang sedemikian rupa supaya sedotan yang disertakan memang sesuai dengan minuman (dan kemasannya) yang mereka produksi. sedotan untuk kemasan kecil tentunya lebih pendek ketimbang untuk kemasan besar. sedotan untuk minuman dengan bubble-bubble di dalamnya tentunya lebih "ndud" ketimbang sedotan untuk air mineral.

aku sering beli susu UHT dan beberapa kali sedotannya sudah dipisah. sayangnya (atau sialnya?) sedotan pengganti itu bukan sedotan default, tapi udah diganti dengan sedotan untuk air mineral. iya sih, fungsinya sama. tapi tingkat kenyamanannya kan beda. berhubung sedotan air mineral lebih pendek, jadi ujung sedotan yang tersisa di luar sedikit sekali. apalagi kalau beli yang ukuran 250 ml. sedotannya bahkan lebih pendek ketimbang kemasannya. lah aku disuruh minum pake apa? semalam tu, sampe menjungkir balik kemasan susu demi beberapa teguk yang masih tersisa. rugi dong beli 250 ml tapi cuma bisa minum ga sampe 200 ml?

jadi mikir, itu toko-toko yang seenaknya melepas sedotan dan tidak menggantinya dengan sedotan yang sepadan, apa emang ga menghargai riset produsen ya? ga mikir bahwa untuk hal seremeh sedotan, itu adalah hasil riset yang butuh waktu dan dana. mungkin bagi mereka, yang penting ga ada konsumen minum sebelum bayar. yang penting ga rugi. toh masih dikasih sedotan. perkara sedotan itu cocok ato ga, sebodo amat. perkara setelah itu konsumen kesulitan karena sedotan yang ga sesuai, sebodo amat.

ya sama aja dengan motor-motor yang tetap melintas (sambil ngebut) di trotoar, meski tahu trotoar itu untuk pejalan kaki. iya sih, trotoarnya gede dan bisa dilalui motor. tapi kan bukan peruntukannya. dan kenyamanan plus keamanan pejalan kaki juga terganggu. trotoar tidak didesain untuk kendaraan.

sama juga dengan orang yang menggunakan toilet duduk dengan cara jongkok sampe dudukan toiletnya retak. iya sih, fungsinya memang buat BAB dan BAK. tapi kenyamanan+kesehatan pengguna toilet lain terganggu. emang enak lagi kebelet trus ilfil gara-gara ada sisa tanah di dudukan toilet? toilet duduk tidak didesain untuk diinjak. mungkin para pengelola gedung atau mall bisa mulai berpikir untuk menyediakan toilet jongkok, mengingat ga semua orang Indonesia bisa dan terbiasa menggunakan toilet duduk. plus selalu sediakan air tentunya (ingat di satu mall yang bener-bener kering, sampe basuh aja pake tisu.....huh)

dan ga jauh beda dengan orang yang mungkin karena kelebihan uang dan nafsu modifikasinya tinggi, lantas mengotak atik lampu kendaraan. entah dengan modifikasi lampu sign supaya bisa kedap kedip kanan kiri berganti-ganti tiap beberapa detik, terus menerus meski dia tidak hendak belok ke mana-mana. entah dengan mengganti warna lampu kendaraan dari merah atau kuning jadi ijo ato ungu. itu warna lampu kan udah ada konvensinya. produsen merancang lampu itu juga pake riset. kalau seenaknya diganti, kan bisa jadi membahayakan pengguna jalan lainnya. tapi ya mungkin mereka ga peduli, yang penting modifikasi :D

mungkin sama juga sama cagub yang dah tau belum waktunya kampanye, tapi iklan pilihlah si X udah bertebaran di TV dan jalanan. kecian kan KPUD, udah merancang jadwal tapi diinjek-injek, dilanggar, ga ditaati xixixi

kok dari sedotan, nyambung ke kampanye ya? kayanya ga nyambung deh

foto sedotan diculik dari sini

2 comments:

Nooralislam said...

Ini aku komenrtarin dech..
kasihan ga ada yang komen... :p
habis mau komen apa juga bingung.. beritanya kemana2...

Jadi enakanya "Ayo benahi Jakarta" atau "Jakarta untuk Semua"..? "Oranye" atau "Orangnye"..?

Luky said...

he.he..he..masih beruntung lu dikasih sedotan. Kalo kita gak ngeh ..bisa-bisa gak dikasih sedotannya..he.he..he.


Dulu pernah beli susu kaleng buat Alya - 900 gram 2 kaleng, disitu emang tutup plastiknya dilepas (untuk menghindari pencuri susu) ...karena buru-buru, gak perhatiin lagi. Sampe rumah ternyata oh ternyata mereka kelupaan ngasih tutup plastiknya.....oalah beli 2 kaleng susu aja mesti bolak balik..he.hehe..