Thursday, September 06, 2007

takut

kalau Baby lahir akhir September, berarti tiga minggu lagi kami dah jadi orangtua. aku jadi Ummi. dan aku baru sadar itu sekarang. delapan bulan ini rasanya Baby belum menjadi sesuatu yang nyata. iya perutku makin buncit. iya ada yang nendang dari dalam. iya ada yang gerak-gerak di monitor USG. tapi ya udah itu aja. rasanya belum ada yang berubah. dan aku ga merasa harus berubah. justru Fath yang banyak ngingetin supaya makin jaga perilaku coz ada Baby di perut.

lebih dari itu, aku takut ga bisa sayang ama Baby. weird, huh? ibu macam apa yang takut ga bisa menyayangi anaknya sendiri? aku bukan Fath, yang entah bagaimana punya aura tersendiri hingga bisa akrab dengan semua bayi dan anak kecil. aku mati gaya di depan anak-anak. aku ga ngerti harus bicara dengan cara bagaimana dengan mereka. aku ga tahu harus bercanda dengan cara gimana. kalau mereka melakukan kesalahan, aku ga tahu apakah harus menasehati dengan tegas atau senyum maklum. sering aku coba senyum atau ketawa, eh mereka nangis. tuh kan, brarti senyumanku mengerikan. padahal dah manis ghenee.

kalo liat orang lain becanda ama bayi pake gaya bicara "apa Dek...apa ciii...." ditambah geleng-geleng kepala atau bahasa yang dicadel-cadelkan, honestly, aku menganggap itu aneh. masalahnya, aku merasa lebih aneh lagi kalau bicara dengan anak kecil dengan bahasa biasa. ya kaya bicara ama yang seumur gitu lah.

semalam, kami sowan+pamitan ke tetangga-tetangga. salah satu tetangga punya batita, Khansa namanya. ya aku ngajak Khansa bicara dengan pertanyaan biasa: Khansa mau beli apa di BSD? tanpa cadel-cadelan, tanpa intonasi "keibuan".

aku takut insting keibuanku ga muncul meski Baby dah ada di pelukanku. selama ini aku menganggap anak-anak adalah makhluk lucu tapi tidak untuk diakrabi. mereka lucu saat tertawa, bertanya, atau bermain. dan jadi menyebalkan kalau mulai cranky. sering aku berharap mereka tu balon yang bisa ditiup waktu kita pengen main en bisa dikempesin lagi pas kita lagi sibuk xixixi *kezam*

itu hal yang paling kutakutkan selama berbulan-bulan kehamilan ini. sering aku heran pada diri sendiri, kenapa aku ga seantusias Fath atau ortu kami dalam menyambut Baby. mungkin itu juga kenapa aku ga terlalu panik saat jatuh beberapa waktu lalu. tetep bisa tenang karena yakin Baby baik-baik saja. padahal sapa yang tahu kan?

aku sering mengajak Baby ngobrol. bukan karena itu saran para pakar pendidikan atau usai baca hasil riset tentang kecerdasan anak dll. tapi karena aku ingin menyadarkan diri sendiri: hey, lo bakal jadi ibu. belajar ngobrol dong sama anak. persis seperti latihan teater sebelum pertunjukan dimulai.

sepertinya Baby tahu ketakutanku. saat aku mulai takut atau ragu dengan insting "keibuan" ini, sering dia menendang kencang. aku ga tahu apakah itu tendangan protes karena ibunya meragukan dirinya sendiri ataukah tendangan dukungan untuk meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja.

i feel guilty. aku ngerasa belum memberikan yang terbaik pada Baby selama kehamilan ini. dan aku takut ga bisa memberi yang terbaik saat Baby lahir nanti.

duh, moga-moga ga kena baby blues.

ps: Baby sayang, kalau suatu saat kamu baca ini, percayalah bahwa Ummi sayang banget ama kamu. you may not believe it, but it's true.

3 comments:

mila said...

Hm.. baby blues sih menurutku almost inevitable. Tapi, dengan support dari orang2 terdekat n manajemen stress yang baik, baby blues bakalan LEWAT deh! Sharing, juga sangat membantu mengatasi baby blues. Happy expecting and moga2 safe delivery-nya, sehat ibu n anaknya. Aamiin..

dian said...

hug for niam..don't worry be happy sis, you can do it..so let fight together and then smile as the winner *loe kira lagi liga :D*

Luky said...

Aku tau..dilubuk hatimu yang paling dalam, kamu menyayangi baby yg saat ini masih ada didalam perutmu.

Aku tau...kamu wanita cerdas yang akan tahu bagaimana kamu menghadapi baby mu kelak.

Dan aku tau...kamu akan memberi yang terbaik buat baby yang saat ini sudah tidak sabar ingin ketemu umi tercintanya.

Good Luck Niam...Do the best.