Friday, May 02, 2008

Nasir

Namanya Nasir. Pedagang singkong keju di halaman TaxSys, persis di depan gerbang kompleks rumah kami. Awalnya beli cemilan sejuta umat itu karena lapar. Tapi aku dan Fath terkesan dengan pelayanan yang diberikan.

Jadi waktu pertama beli, Nasir wanti-wanti agar kami komplain jika ternyata singkong itu kurang empuk. Sebagai ganti "kerugian", dia menjanjikan satu paket singkong keju gratis jika memang kami tidak puas. Alasannya, singkong yang kami beli saat itu agak "salah". Entah di bagian mana salahnya karena setelah dicicip, meski ga empuk-empuk amat, masih yummy kok.

Sejak itu kami jadi pelanggan dagangan Nasir. Dari beberapa kali ngobrol, ketahuan lah kalau dia asli Sidoarjo. Rumah dan pekerjaannya sekarang lenyap ditelan Lumpur Lapindo Bakrie. Setelah terkatung-katung tanpa kepastian dari si pemicu bencana, dia sempat merantau ke Jakarta. Tanpa uang sepeser pun, dia menggelandang di sekitar Stasiun Senen, sebelum akhirnya kembali ke Sidoarjo.

Beruntung, seorang kerabatnya adalah petinggi TaxSys. Sang kerabat memanggilnya kembali ke Jakarta, memberinya modal untuk buka usaha sekaligus menyuruhnya ikut kuliah malam. Beberapa kali Nasir tidak dapat melayani kami karena harus masuk kelas. Sang adik menggantikannya jaga dagangan.

Nasir dan adiknya masih beruntung ada kerabat yang bisa memberi bantuan untuk melanjutkan hidup. Mereka juga beruntung karena tak putus asa meski rumah dan kenangannya berubah jadi lautan lumpur. Mereka juga beruntung tidak terjerumus ke lembah hitam, sebagaimana yang terjadi pada beberapa gadis korban lumpur yang berakhir di Dolly.

Tapi gimana dengan korban yang lain? Yang mungkin udah keburu depresi begitu lumpur masuk lewat pintu depan tanpa permisi?

Waktu liat berita tentang para korban yang berdemo menuntut supaya pembagian jatah makan gratis tidak dihentikan, aku merasa terbelah dua. Di satu sisi, aku ngenes lihat mereka di pengungsian terus. Bisa dibilang seolah mereka ended up there, tanpa bisa bergerak lagi. Seperti catur, nasib mereka sudah skak mat. Tapi di sisi lain, aku juga mempertanyakan kenapa mereka ga bisa seperti Nasir? Kalo dah sampe pertanyaan ini, sepertinya jawabannya satu: nasib.

Sama-sama jadi korban, tapi nasibnya beda.

Oia, ngomong-ngomong soal "menjaga kualitas", kapan itu Nasir pernah membuang sebaskom penuh (baskomnya guede) singkong siap goreng. Bukan karena ga laku tapi karena si singkong tidak layak jual. Daripada kehilangan pelanggan, mending kehilangan singkong. Gitu kali ya dia mikirnya.

1 comment:

za said...

wah baru tau tuh, kalau ada yang berakhir di Dolly...kirain cuman jadi preman pasar aja...

salam buat Nasir Mbak...:D