Thursday, February 12, 2009

Manja? Ga Juga

Kemarin pagi, tahu-tahu Fath telpon. Nyuruh aku segera ke rumah Mas Sigit karena Mbak Yuni, istri Mas Sigit, jatuh dari tangga. Mas Sigitnya sendiri udah otw ke kantor bareng Fath.

Buru-buru aku pakein sepatu Ankaa trus nggendong si eneng menuju rumah Mas Sigit. Uluk salam, kok ga ada jawaban? Haduh segala pikiran buruk udah melintas. Alhamdulillah ga lama Mbak Yuni bukain pintu meski dengan wajah pucat. Begitu masuk, astaghfirullahaladzim, itu baju belepotan darah. Dari wajahnya masih mengalir darah segar.

Sampe sekarang, proses jatuhnya sendiri aku masih kurang paham. Yang jelas Mbak Yuni jatuh selagi menjemur pakaian di lantai dua dan sempat pingsan beberapa saat. Ga tau jatuhnya itu waktu masih di tempat jemur atau waktu turun tangga yang lumayan curam itu.

Aku mengajak Mbak Yuni sesegera mungkin ke RS mengingat darahnya masih mengalir dan kepalanya masih pusing. Tapi dia agak bingung karena putra tunggalnya ga ada yang nungguin dan kami sepakat kalau Ikhsan tidak dibawa ke RS. Kuatirnya ntar malah ga tenang dan lagi RS kan gudangnya penyakit. Untung ga lama kemudian mertua Mbak Yuni datang. Aku buru-buru pulang sambil order taksi, nenenin Ankaa, kasih komando ke Eka, mandi, berangkat lagi.

Di taksi aku lihat kondisi luka sobeknya. Serem euy. Sekali lihat aja ketauan kalo lukanya harus dijahit. Setelah jatuh, Mbak Yuni ga muntah-muntah, jadi semoga ga gegar otak.

Singkat cerita, Mbak Yuni dapat empat jahitan. Dan meski awalnya menolak dirontgen dan CT Scan, hasil rontgen menunjukkan retak di tulang sendi bahu. Hasil CT Scan-nya bagus. Tinggal dirujuk ke dokter spesialis orthopedi buat urusan tulang retak itu.

Melihat kasus Mbak Yuni, aku jadi tambah yakin untuk tidak memberhentikan Eka. Jujur aja, setelah berhenti kerja beberapa bulan lalu, aku sempat kepikiran untuk mandiri tanpa asisten. Tapi Fath berkeras mempertahankan Eka dengan alasan aku mudah kecapean.

Mbak Yuni ga punya asisten. Sehari-hari cuma berdua Ikhsan yang belum lagi tiga tahun usianya. Misalnya nih, kemarin Mbak Yuni pingsan sampe lama atau dalam kondisi ga bisa nelpon Mas Sigit buat kasih tahu kalo jatuh. Apa ga berabe tuh?

Waktu Eka mudik Lebaran, sempat aku membayangkan seandainya tau-tau aku kecapean trus semaput ato apa lah. Gimana Ankaa?

Yah bukannya manja dengan tetap mempertahankan Eka. Selama ini aku bisa ke kamar mandi tanpa Ankaa gedor-gedor pintu kamar mandi ya karena dia anteng sama Eka. Udah cukup aku nahan pipis waktu si Eka mudik gara-gara Ankaa ga mau ditinggal babar blas. Yang jelas, keberadaan Eka sangat berguna kalo aku lagi bad mood. Daripada Ankaa jadi sasaran bad mood, mending dia sama Eka sebentar, aku menenangkan diri *halah*

Kalo posting ini dianggep dalih ibu-ibu manja yang sok ga bisa survive tanpa asisten, monggo. Eka juga ga bakal selamanya ikut kami. Masa dia ga pengen nikah sih xixixi. Yang jelas untuk saat ini, kami butuh asisten. Aku bisa belajar lagi dengan tenang karena tahu Ankaa di rumah bersama orang yang bisa aku percaya. Anggep aja tiga ratus rebu sebulan itu ongkos "menenangkan diri" he he he

Oh tentang Mbak Yuni? Sebelum meninggalkan rumahsakit, dia membisikkan kalimat ini padaku:

Dik, mungkin ini cara Gusti Allah biar aku ga keterusan ragu-ragu antara ngambil asisten atau nggak ya. Dia tahu aku perlu bantuan

3 comments:

woro woro said...

daku dah ngerasain mau pipis aja susah banget waktu lagi berdua ama raihana.

Mama Cise said...

Chise aku bawa ke kamar mandi..dia main air sambil sebelah tanganku pegang dia..abis gimanaaa kebeletttt...

Eka buat aku ajaaaaaa..maksaaa ada ga say hehe...

emaknye Fee said...

wuih uenae masih bisa bayar asisten 300ribu, ditempatku mintanya limaratus jeng, belum lagi label ini dan itunya yg bikin dakyu naek darah duluan, jadi mendingan titip Uti duluw deh...:D..