Friday, February 26, 2010

Demi Hamtaro

Tahu roti Hamtaro-nya Breadtalk ga? Roti coklat isi krim. Kalo kata Ankaa, roti yang ada matanya. Ini item wajib tiap kali ke BP. Padahal yang dimakan ya cuma matanya itu. Paling banter abis 3/4 roti, itu juga dicicil. Selebihnya jadi rejeki Abi-Ummi.

Kapan itu pernah mau beli, eh si Hamtaro ga ada. Waduh udah terlanjur janji pulak, udah ngajak si nduk milih ini itu. Lirik-lirik ke arah dapurnya Breadtalk, eh ada si Hamtaro lagi nongkrong. Udah siap ditaro di etalase. Ya namanya demi anak, aku rayu dikit lah si mbak-mbak Breadtalknya, minta izin ngambil Hamtaro yang masih di loyang depan dapur. Kata si mbak sih ga boleh, tapi pas banget ada ibu-ibu langsung ngambil beberapa roti lain yang ada di loyang depan dapur situ. Ya wes, mau gimana lagi. Ikut deh "menjarah" he he he. Si mbak pun tak berdaya. Maap ya mbak......

Wiken kemaren, kejadian lagi tuh. Malah lebih apes lagi, di depan dapur pun ga ada Hamtaro. Modal pasang muka tebel, aku nanyain si Hamtaro ke petugas yang lagi bawa roti ke arah etalase. Si mas-mas petugas nanya ke temennya, dan dapet jawaban:
Belum jadi
Duh langsung lemes. Mana Ankaa udah menatap penuh harap pulak. Tapi dasar masih rejekinya Ankaa, kita dapet loh. Rupanya si roti udah jadi cuma belum diisi krim dan dipasangin mata thok. Salah satu staf dapur (yang kayanya udah senior), langsung nyuruh temennya nyiapin SATU biji Hamtaro. Si Hamtaro diisi krim, dipasangin mata, ditaburi gula bubuk, dan ditaro di baki. Khusus buat Ankaa.

Dan kami ga beli roti yang lain he he he......Makasih ya Breadtalk. Puas deh ama layanannya :D

Moga-moga ni roti laris manis tanjung kimpul, biar ga didiscontinue :D

1 comment:

James said...

Makan Roti Koq Tambah O ‘On

Kemarin ini saya tertawa terkekeh-kekeh karena ada orang berkata: Anak saya, saya makanin roti tiap hari, koq nggak tambah pintar, tapi tambah O’On (Bloon).

Inilah perkataan Sue Dengate mengenai pemakaian pengawet roti supaya roti bisa awet lebih dari 2 hari yg saya quote dari artikel “Bread for success”:

Author and food intolerance counsellor Sue Dengate has researched calcium propionate, commonly known as preservative 282 in bread.
"I think parents should know that there is a preservative in what we regard as a healthy food that is eaten several times a day by most children that can affect behaviours and learning disabilities," Ms Dengate said.
Preservative 282 is a mould inhibitor that is added to bread.
"Most people think that additives are tested before approval," Ms Dengate said. "Well I've got news for you, they are not tested for effects in children's learning and behaviour."
The latest research suggests preservative 282 may cause permanent changes to the brain in rats, along with long-lasting defects in learning abilities.
"All we can say is if it's causing permanent damage in brains of rats what's it doing to the brains of our children?" Ms Dengate said.

Hasil dari penelitian di Malaysia terdapat sekitar 92% roti yang beredar (termasuk roti merek terkenal) menggunakan pengawet lebih banyak sampai 5x dari jumlah yang diijinkan oleh undang-undang. Bagaimana dengan roti yang ada di Indonesia? Informasi yang saya peroleh juga sangat memprihatinkan. (mungkin teman-teman ada yang bisa sharing).

Di Indonesia makanan basah seperti mie basah, bakso basah, tahu basah, roti, dll, mengandung terlalu banyak pengawet. Dan karena mau murah mereka memakai pengawet yang bukan food grade. Padahal kebanyakan pengawet dihubungkan dengan penyakit ADD hiperaktive. Dan Bread Improver yang terlalu banyak untuk supaya roti dapat mengembang besar sekali bisa menimbulkan kanker (Source Wikipedia: Bread Improver)

Memang, sebagian anak kecil dan orang dewasa bisa tahan terhadap pengawet ini, tetapi sebagian lagi tidak tahan dan tambah O ‘ On / bloon. Masalah-nya bagaimana kalau anak kita sendiri yang O On alias bloon.
Kemarin ini di sekolah untuk anak kurang mampu, aku lihat anak cewek umur 5 tahun cakep, tapi kalau diperhatikan lagi anak kecil ini terkena penyakit ADD hiperactive(Jadi kerja-nya goyang melulu). Kasihan sekali, ya !!

Setelah perang selama ber-tahun2 terhadap perusahaan roti yg masih memakai pengawet roti, akhirnya perusahaan2 roti di luar negeri sudah mulai menghilangkan pengawet dari roti buatan-nya.
Bagaimana di Indonesia? Bisakah produsen roti di Indonesia semua-nya jujur berkata bahwa mereka tidak memakai pengawet, padahal mereka memberi pengawet se-banyak-banyak-nya pada roti? Beranikah kita sebagai konsumen roti meminta roti yang lebih sehat?

Sambil menuntut produsen roti untuk membuat roti yang lebih sehat, kita sebenar-nya bisa ber-alih pada rice cake (roti beras panggang) sebagai pengganti roti, seperti "N_asiKriuk Debbie atau Sun Rice dari Australia untuk menyelingi makan roti. Rice cake ini kering dan tak ber-pengawet, sehingga kadar pengawet dalam tubuh & otak yang kita dapat dari makanan lain tidak terlalu menumpuk. Di luar negeri-pun rice cake atau roti beras panggang ini sudah popular dan menjadi pilihan yang lebih sehat.

Kelebihan dari roti beras panggang sebagai pengganti roti yang lebih sehat antara lain:
- Karena kering, tidak perlu pengawet.
- Karena dari beras, rendah kalori-nya.
- Proses pembuatannya tidak menggunakan pengembang (bread improver) dan pemutih.
Dengan banyak-nya masalah obesitas, Amerika pun sekarang ber-alih ke produk2 yang terbuat dari beras dan ber-bentuk kering, spt rice crispy atau rice cereal.

Terima kasih.

Roti Beras Panggang N_asiKriuk Debbie atau Sun Rice bisa anda dapatkan di supermarket Rezeki, Nano-Pluit dan All Fresh.