Friday, April 16, 2010

Penghuni Melengos

Note: niat untuk menulis posting ini benernya udah lama. Tapi ditahan-tahan karena pikiran dimana-mana-juga-ada-orang-kayak-gitu. Nah barusan ada pemicunya jadi lah ini.

Di ujung jalan dari rumah (kontrakan) kami, dulunya ada satu rumah dengan luas tanah yang luaaaaasss banget. Menurut keterangan tetangga lain, sebenernya sih itu bukan termasuk kompleks. Istilah kasarnya, itu kampung gitu lah. Nah dulu si empunya rumah (dan tanah), sebut aja Mr A meminta diberi akses jalan lewat kompleks karena kalau nggak, ya dia nggak punya akses jalan lagi. Lha di sisi kiri dia kena kompleks, kanan -utara-selatan kena tanah orang entah siapa. Entah gimana negonya, pokoke jadi aja dia bisa buka akses jalan. Dua akses malah. Dan proses pembukaan ini memang nggak mulus karena banyak warga yang nggak setuju. Yang jelas proses pembukaan akses ini terjadi bertahun-tahun sebelum kami tinggal di sini. Malah mungkin waktu aku masih SMA.

Nah seiring berjalannya waktu, rupanya warga kesel juga sama kelakuan Mr A ini. Dan sama kelakuan tamu-tamunya juga. Akhirnya salah satu jalan akses ditutup sepihak oleh warga. Jadi aksesnya sekarang tinggal satu, yaitu jalan depan rumah kami ini.

Sampe dua tahun pertama kami tinggal di sini, masih satu rumah aja tuh di lahan seluas itu. Awal-awal tinggal di sini, kami masih ngerasain gimana kelakuan tamu-tamu Mr A. Tapi rupanya entah ada apa, yang jelas Mr A butuh duit dan dijuallah sepotong demi sepotong tanahnya. Awalnya dia bikin dua rumah yang kemudian dijual, yang mana sempat rada kisruh juga sama sang pembeli.

Nah puncaknya tahun ini. Somehow Mr A melepas kepemilikan atas seluruh lahannya dan di tanah dia kini berdiri sekitar tujuh rumah, dan masih akan ada dua rumah lagi yang dibangun. Nah mulai deh kisruh sama warga lagi.

Pertama, karena truk pengangkut material bangunan yang nggak berhenti lewat. Dan tau sendiri lah gimana beratnya segala batu, genteng, pasir, dll dll dll itu. Akibatnya gampang ditebak. Jalan rusak. Otomatis pihak RT minta ganti rugi dong atas kerusakan jalan. Mr A menolak karena yang bangun rumah bukan dia tapi Mr Y. Mr Y juga menolak. Nah lo....

Kedua, ada perjanjian (nggak tau apa cuma lisan atau udah tulisan) bahwa lahan Mr A itu sebenarnya bukan bagian dari kompleks, jadi setiap kendaraan yang dimiliki penghuni lahan itu dikenai charge. Cuma sekali aja bayarnya seumur hidup kendaraan itu. Nah pada nggak bayar tuh penghuni-penghuni baru. Udah deh masalah lagi.

Ketiga, dan ini yang paling nyebelin, IMO. Jadi dua penghuni pertama kebetulan udah berumur. Older than my parents, in fact. Mereka ramah-ramah, overall baik lah. Ya kalo pun rada cerewet, anggap lah kaya cerewetnya ortu sendiri he he he.

Nah yang baru pindah ini, masih muda-muda. Semua satu alumni dengan Fath. Tapi tolong ya, sombongnyaah. Boro-boro di jalan say hi gitu, senyum aja nggak. Padahal jalan itu ya kecil aja gitu. Cuma cukup dua mobil, itu juga mepet.

Kapan itu salah satu pengurus RT (yang kebetulan rumahnya persis di depan kami) lagi nyapu jalan. Biasa, kena rontokan daun. Nah penghuni baru itu lewat naik motor. Sopannya kan ya mbok laju motor dipelanin dikit. Ini nggak. Langsung werrr aja ga pake senyum atau permisi. Malah sambil ketawa-ketawa.

Fath lebih sebel lagi karena ga sekali dua kali dia mencoba mengangguk menyapa eh malah yang disapa melengos. Lucunya, begitu si penghuni melengos itu tahu kalo Fath satu alumni, trus seniornya dia, trus kantornya di Kanwil Khusus, trus tau kalo Fath PK, langsung besoknya bukan cuma senyum loh. Tapi seketika menghentikan motornya dan menyapa Fath dengan superramah. Padahal baru beberapa hari sebelumnya, aku mencoba menyapa istri penghuni melengos ini. Sampe kering gigi ini saking lamanya senyum, blas ga dibalas.

Bete nggak sih?

Sekarang sudah ada tambahan dua atau tiga keluarga baru yang tinggal di "cluster" itu. Satu pun nggak ada yang pernah nyapa. Cuek aja. Malah kata Bu Bendahara RT, mereka pada belum bayar iuran sampah, padahal udah masuk bulan kedua. Padahal sampah rutin diambil, dibanding daerah di Tangsel lain yang sempat lama banget sampahnya numpuk.

Ekstra sebel lagi karena anak-anak mereka juga setali tiga uang. Masih kecil-kecil gitu, disenyumin aja melengos. Ampun dah.....Padahal, maaf-maaf ya, para penghuni baru yang masih muda-muda itu jilbaber lebar dan ikhwan jenggotan lo. Kok hubungan dengan tetangganya kaya gitu ya? Apa susahnya sih sekedar senyum aja. Gratis kok. Aku nggak tau siapa aja penghuni tambahan yang udah tinggal di situ saking eksklusifnya. Ya maaf kalo akhirnya aku menganggap hablum minallah mereka bagus, tapi hablum minannaas-nya ancur.

Dulu waktu masih kerja, aku sadar kalo nggak bisa terlalu sering gaul sama tetangga karena harus ngantor. Jadi setidaknya senyum lah meski nggak tau itu siapa namanya. Karena yang namanya tetangga, itu kan saudara kita yang paling dekat. Kita boleh punya temen liqo' yang akrab, temen ceting yang sangat erat. Tapi saat membutuhkan bantuan, yang paling dekat biasanya kan tetangga. Nggak perlu ikut majelis ta'lim ibu-ibu kalo emang nggak sempat, tapi paling nggak senyumlah saat ketemu di tukang sayur atau berpapasan di jalan. Aku juga baru belakangan ini ikut ngaji bareng setelah yakin bahwa MT ibu-ibu di sini bebas nggosip.

Ini nih yang bikin ragu-ragu mau melanjutkan negosiasi beli ni rumah. Bukan kenapa-kenapa, membayangkan bertahun-tahun bertetangga dengan orang-orang kaya gitu, kok bikin empet ya?

Seorang tetangga sampe komentar: anak STAN sombong-sombong. Dan ngomongnya depan suamiku. Nah lo, kita kaga ikut-ikut, kena getahnya lagi. Berhubung kami di sini cuma ngontrak, diem aja deh. Sebel sih sebel. Grrrr....

Warga sekitar benernya dah ada yang sebel. Dan aku nggak nyalahin kalo udah mulai ada suara-suara yang mengusulkan penutupan akses jalan yang tinggal satu itu. Para penghuni baru udah dikasih tahu sebelumnya oleh Pak RT bahwa mereka tinggal di tanah yang sampe sekarang masih ada masalah, baik saat pengambilalihan tanah oleh kontraktor rumah mereka maupun saat nego dengan warga. Jadi tolong jangan bikin masalah tambahan. Tapi pemberitahuan itu rupanya nggak mempan. Jadi ya kita lihat saja nanti.

Update: 21 April lalu, jam 13.15 siang, Mr A meninggal dunia.

No comments: