Thursday, April 29, 2010

Tata Bahasa


Satu hal yang sering bikin aku gemes kalo denger celoteh Ankaa itu adalah, ga peduli dia lagi marah atau rewel atau nangis kaya apa juga, struktur kalimatnya tuh tetep benar. EYD lah pokoknya. Meski pengucapannya masih cadel, tapi udah tepat.

Dan hal itu bikin susah mendebat. Sigh.

Reformasi Lulus

Ini pertanyaan yang muncul setelah lihat tayangan TV tentang betapa stres-nya anak-anak yang nggak lulus UN SMU.

Kenapa sih pemerintah nggak mempertimbangkan untuk balik lagi pake sistem kelulusan jaman pra-(so-called) reformasi?

NEM hanya untuk menentukan bisa nggak si siswa diterima di sekolah tertentu, dalam hal ini sekolah favorit. Tapi nggak menentukan kelulusan. Buat nentuin lulus atau nggak, ya pake STTB yang mencantumkan nilai semua pelajaran.

Mungkin pada alergi dikira pro-jamanbaheula, jadi segala-gala mau direformasi tanpa mikir.

UN perlu, tapi bukan jadi alat menentukan kelulusan. Kan bisa pake referensi dari rapor siswa selama sekolah.

ps: tapi liat siswa yang merayakan lulus sambil mabok, bikin gemes pengen nabok....grrrr....masa kaya gitu bisa lulus sih?

Friday, April 16, 2010

Penghuni Melengos

Note: niat untuk menulis posting ini benernya udah lama. Tapi ditahan-tahan karena pikiran dimana-mana-juga-ada-orang-kayak-gitu. Nah barusan ada pemicunya jadi lah ini.

Di ujung jalan dari rumah (kontrakan) kami, dulunya ada satu rumah dengan luas tanah yang luaaaaasss banget. Menurut keterangan tetangga lain, sebenernya sih itu bukan termasuk kompleks. Istilah kasarnya, itu kampung gitu lah. Nah dulu si empunya rumah (dan tanah), sebut aja Mr A meminta diberi akses jalan lewat kompleks karena kalau nggak, ya dia nggak punya akses jalan lagi. Lha di sisi kiri dia kena kompleks, kanan -utara-selatan kena tanah orang entah siapa. Entah gimana negonya, pokoke jadi aja dia bisa buka akses jalan. Dua akses malah. Dan proses pembukaan ini memang nggak mulus karena banyak warga yang nggak setuju. Yang jelas proses pembukaan akses ini terjadi bertahun-tahun sebelum kami tinggal di sini. Malah mungkin waktu aku masih SMA.

Nah seiring berjalannya waktu, rupanya warga kesel juga sama kelakuan Mr A ini. Dan sama kelakuan tamu-tamunya juga. Akhirnya salah satu jalan akses ditutup sepihak oleh warga. Jadi aksesnya sekarang tinggal satu, yaitu jalan depan rumah kami ini.

Sampe dua tahun pertama kami tinggal di sini, masih satu rumah aja tuh di lahan seluas itu. Awal-awal tinggal di sini, kami masih ngerasain gimana kelakuan tamu-tamu Mr A. Tapi rupanya entah ada apa, yang jelas Mr A butuh duit dan dijuallah sepotong demi sepotong tanahnya. Awalnya dia bikin dua rumah yang kemudian dijual, yang mana sempat rada kisruh juga sama sang pembeli.

Nah puncaknya tahun ini. Somehow Mr A melepas kepemilikan atas seluruh lahannya dan di tanah dia kini berdiri sekitar tujuh rumah, dan masih akan ada dua rumah lagi yang dibangun. Nah mulai deh kisruh sama warga lagi.

Pertama, karena truk pengangkut material bangunan yang nggak berhenti lewat. Dan tau sendiri lah gimana beratnya segala batu, genteng, pasir, dll dll dll itu. Akibatnya gampang ditebak. Jalan rusak. Otomatis pihak RT minta ganti rugi dong atas kerusakan jalan. Mr A menolak karena yang bangun rumah bukan dia tapi Mr Y. Mr Y juga menolak. Nah lo....

Kedua, ada perjanjian (nggak tau apa cuma lisan atau udah tulisan) bahwa lahan Mr A itu sebenarnya bukan bagian dari kompleks, jadi setiap kendaraan yang dimiliki penghuni lahan itu dikenai charge. Cuma sekali aja bayarnya seumur hidup kendaraan itu. Nah pada nggak bayar tuh penghuni-penghuni baru. Udah deh masalah lagi.

Ketiga, dan ini yang paling nyebelin, IMO. Jadi dua penghuni pertama kebetulan udah berumur. Older than my parents, in fact. Mereka ramah-ramah, overall baik lah. Ya kalo pun rada cerewet, anggap lah kaya cerewetnya ortu sendiri he he he.

Nah yang baru pindah ini, masih muda-muda. Semua satu alumni dengan Fath. Tapi tolong ya, sombongnyaah. Boro-boro di jalan say hi gitu, senyum aja nggak. Padahal jalan itu ya kecil aja gitu. Cuma cukup dua mobil, itu juga mepet.

Kapan itu salah satu pengurus RT (yang kebetulan rumahnya persis di depan kami) lagi nyapu jalan. Biasa, kena rontokan daun. Nah penghuni baru itu lewat naik motor. Sopannya kan ya mbok laju motor dipelanin dikit. Ini nggak. Langsung werrr aja ga pake senyum atau permisi. Malah sambil ketawa-ketawa.

Fath lebih sebel lagi karena ga sekali dua kali dia mencoba mengangguk menyapa eh malah yang disapa melengos. Lucunya, begitu si penghuni melengos itu tahu kalo Fath satu alumni, trus seniornya dia, trus kantornya di Kanwil Khusus, trus tau kalo Fath PK, langsung besoknya bukan cuma senyum loh. Tapi seketika menghentikan motornya dan menyapa Fath dengan superramah. Padahal baru beberapa hari sebelumnya, aku mencoba menyapa istri penghuni melengos ini. Sampe kering gigi ini saking lamanya senyum, blas ga dibalas.

Bete nggak sih?

Sekarang sudah ada tambahan dua atau tiga keluarga baru yang tinggal di "cluster" itu. Satu pun nggak ada yang pernah nyapa. Cuek aja. Malah kata Bu Bendahara RT, mereka pada belum bayar iuran sampah, padahal udah masuk bulan kedua. Padahal sampah rutin diambil, dibanding daerah di Tangsel lain yang sempat lama banget sampahnya numpuk.

Ekstra sebel lagi karena anak-anak mereka juga setali tiga uang. Masih kecil-kecil gitu, disenyumin aja melengos. Ampun dah.....Padahal, maaf-maaf ya, para penghuni baru yang masih muda-muda itu jilbaber lebar dan ikhwan jenggotan lo. Kok hubungan dengan tetangganya kaya gitu ya? Apa susahnya sih sekedar senyum aja. Gratis kok. Aku nggak tau siapa aja penghuni tambahan yang udah tinggal di situ saking eksklusifnya. Ya maaf kalo akhirnya aku menganggap hablum minallah mereka bagus, tapi hablum minannaas-nya ancur.

Dulu waktu masih kerja, aku sadar kalo nggak bisa terlalu sering gaul sama tetangga karena harus ngantor. Jadi setidaknya senyum lah meski nggak tau itu siapa namanya. Karena yang namanya tetangga, itu kan saudara kita yang paling dekat. Kita boleh punya temen liqo' yang akrab, temen ceting yang sangat erat. Tapi saat membutuhkan bantuan, yang paling dekat biasanya kan tetangga. Nggak perlu ikut majelis ta'lim ibu-ibu kalo emang nggak sempat, tapi paling nggak senyumlah saat ketemu di tukang sayur atau berpapasan di jalan. Aku juga baru belakangan ini ikut ngaji bareng setelah yakin bahwa MT ibu-ibu di sini bebas nggosip.

Ini nih yang bikin ragu-ragu mau melanjutkan negosiasi beli ni rumah. Bukan kenapa-kenapa, membayangkan bertahun-tahun bertetangga dengan orang-orang kaya gitu, kok bikin empet ya?

Seorang tetangga sampe komentar: anak STAN sombong-sombong. Dan ngomongnya depan suamiku. Nah lo, kita kaga ikut-ikut, kena getahnya lagi. Berhubung kami di sini cuma ngontrak, diem aja deh. Sebel sih sebel. Grrrr....

Warga sekitar benernya dah ada yang sebel. Dan aku nggak nyalahin kalo udah mulai ada suara-suara yang mengusulkan penutupan akses jalan yang tinggal satu itu. Para penghuni baru udah dikasih tahu sebelumnya oleh Pak RT bahwa mereka tinggal di tanah yang sampe sekarang masih ada masalah, baik saat pengambilalihan tanah oleh kontraktor rumah mereka maupun saat nego dengan warga. Jadi tolong jangan bikin masalah tambahan. Tapi pemberitahuan itu rupanya nggak mempan. Jadi ya kita lihat saja nanti.

Update: 21 April lalu, jam 13.15 siang, Mr A meninggal dunia.

Sunday, April 11, 2010

Pindah Pindah

Hari pertama: hunting kardus dan nyicil packing. Baru dapat dua kardus isi komik dan sebagian novel.

Yes, kami mau pindahan. Lebih tepatnya mengungsi. Ga jauh-jauh, rumah tetangga depan aja kok.

Awal bulan Maret lalu, mendadak bagian belakang rumah yang dipake nyimpen kayu sama Bu Neni (owner rumah ini) AMBRUK!!! Kena rayap T_T Tukang yang kami panggil langsung ngecek rangka atap dan bilang kalau kuda-kuda atap juga udah dirayapin. Langsung deh ingatan melayang ke rumah duh-sapa-tuh-lupa-namanya-yang-jelas-rumahnya-deket-sini-juga yang ambruk total karena rayap.

Biasanya kalo ni rumah butuh perbaikan minor, i.e. bocor, fiber rusak, plafon bolong, atau apa lah, langsung kami benerin tanpa kasih tahu ke Bu Neni. Bukan karena kebanyakan duit, tapi kami nyewa rumah ini di bawah harga pasar dan lagi kami yang tinggal di sini. Yang ngerasain enak ga enaknya juga kami. Jadi selama range harga perbaikannya masih masuk akal, ya hayu deh tanggung sendiri. Tapi ini rangka atap bo, mana tahan biayanya?

Setelah menghubungi Bu Neni, cari orang untuk renovasi, cek harga ini itu, deal sama Bu Neni, Insyaallah mulai pekan depan renovasi atap rumah bisa dimulai. Dari total biaya, kami menanggung sampai senilai uang kontrak, selebihnya ditanggung Bu Neni. Kompensasinya, tahun depan kami ga perlu lagi bayar kontrak. Ini win-win solution karena kami ga yakin juga bisa ngumpulin duit buat DP rumah tahun ini.

Setelah disurvey sama kontraktor *halah*, semua rangka mau diganti rangka baja ringan, trus kusen jendela kamar juga diganti karena udah habis dirayapin. Alhamdulillah ga perlu ganti genteng. Genteng kan mahal bo. Sebenarnya sih pengennya ganti kusen semua jendela dan pintu plus perbaikan got depan, tapi Bu Neni keberatan :D Ya jalan tengahnya, ganti kusen yang emang mau ga mau harus ganti aja. Tentang got, kami tanggung sendiri dengan pertimbangan kalo rumah ini jadi rejeki kami (dibeli gitu maksudnya), berarti kami udah nyicil renovasi. Tapi kalo ternyata nggak jadi, ya kami udah ninggal kenang-kenangan buat tetangga sekitar dalam wujud got yang bagus lengkap dengan taman kecilnya :D

Sementara rumah diperbaiki, kami mau ga mau harus pindah dong. Iya kalo rumahnya guede gitu, perbaikan bisa separo-separo. Lha ini tipe rumah yang duduk-selonjor-di-pintu-depan-jempol-nongol-di-pintu-belakang :D Mau ga mau harus mengungsi. Sebenernya kata pak kontraktor, bisa sih ga pindah. Ntar plafon diperbaiki terakhir, atasnya kasih terpal. Hueiii....mana mau sayah membiarkan Nduk Ankaa tidur malam beratapkan bintang. Belum debunya, belum bisingnya.

Solusinya ya cari rumah yang bisa dikontrak sebulan saja. Malah ga sampe sebulan ding, perkiraan waktu perbaikan cuma 2 minggu. Apesnya, di sekitar sini ga ada lagi kontrakan bulanan. Pak kontraktor nawarin kami untuk nempatin rumah di cluster yang baru dia bangun. Boleh juga sih, tapi jauh bo. Ntar susah ngawasin tukangnya. Ada rumah deket banget, tinggal koprol tiga kali nyampe. Tapi ga mau bulanan, minta 20 jeti setahun. Hiiii.....duit sape?

Dan memang Allah Maha Besar. Pas lagi kepepet, ada yang nawarin rumahnya untuk ditinggali selama sebulan. Deket banget malah, cuma selisih tiga rumah aja. Sementara kami tinggal di situ, pemiliknya mau pulang kampung. Alhamdulillah.

Jadi sekarang mulai deh sibuk packing. Ga semua barang dibawa karena di rumah tujuan ga ada tempat. Buku-buku, rak buku, sebagian baju, dan beberapa printhilan tetap di rumah lama. Yang jelas tetap dimasukin kardus biar ga rusak atau kena debu. Ntar bakal ditutup terpal biar aman dari hujan. Yang dibawa cuma pecah belah, barang elektronik (takut ketimpa :D), buku dan mainan Ankaa (biar ga rewel), baju kantor Fath dan baju Ankaa. Aku sendiri bawa sekedarnya saja, toh cuma sebulan ini. Ini malah lagi mikir pecah belah ga dibawa, toh di rumah tujuan udah kebanyakan piring :D

Yang jelas, proses renovasi ini bener-bener membuat kami makin bersyukur. Buanyak sekali hal tak terduga yang memudahkan kami. Dapat kontraktor yang baik dengan harga bersahabat, dapat rumah sewa yang murah, dekat, dan lengkap. Belum lagi kiriman ini itu yang suka datang tiba-tiba dan kok ya sama persis dengan yang lagi kami inginkan.

Kapan itu aku sakit, malam-malam pengen banget martabak telur. Ndilalah Iva datang bawa martabak telur. Trus waktu pulang dari rumah Bu Neni buat deal renovasi, mampir minimarket karena pengen biskuit. Tapi biskuit yang aku pengen lagi kosong. Pas buka oleh-oleh dari Bu Neni, Allahu Akbar, isinya biskuit sama persis seperti yang aku pengen. Malah pekan lalu, tahu-tahu Mbak Ira datang cuma buat nganter pizza. Trus waktu ingat baju Ankaa ada yang udah kekecilan, ga sampe 24 jam kemudian ada yang ngirim baju baru. Alhamdulillah, rejeki emang ga kemana yah :D

ps: aku lagi pengen sushi, kira-kira ada yang mau ngirimin ga yah? *ngiler*

Saturday, April 03, 2010

Seragam

Hari Kamis biasanya Fath pakai seragam kantor. Tapi Kamis ini tidak. Fath cerita pada hari terakhir pengumpulan SPT lalu, seorang perempuan pegawai kantor pajak yang mengenakan seragam diteriaki MALING saat turun dari KRL.

Dan kami ingat saat jalan-jalan wiken lalu, tanpa sadar Fath pakai kaos yang dia dapat waktu outbound. Dia dapat banyak lirikan sinis.

Efek paling menyebalkan dari kasus GT terutama dirasakan oleh mereka yang nggak bersalah. Dan aku yakin si GT kayanya nggak mikirin hal ini sebelumnya. Makin parah saat disorot oleh liputan TV plus bumbu-bumbu kalimat dari presenter TV yang berat sebelah. Presenter TV kok nggak netral ya? Sekarang orang-orang banyak yang main pukul rata. Sampe waktu pengajian RT, dengan nada bercanda ada yang minta transferan. Ampun dah....