Saturday, June 11, 2011

Sesulit Itukah?

Untuk jujur?

Waktu pertama baca berita tentang aksi contek massal (gugling sendiri beritanya ya, buanyak...di TV juga ada), aseli kaget. Lebih kaget lagi pas tahu contekan itu udah dilatih. Rasanya sedih, nyesek, marah, kecewa.

Mungkin bakal ada yang bilang, kan toleran, kasihan temen-temennya kalo pada ga lulus. But still, mencontek itu salah. Apa gunanya lulus tapi dengan cara curang? Di satu blog yang sedkit banyak memaklumi aksi pencontekan, si penulis mengatakan pendidikan anak SD lebih rumit dari anak SMA. Ya memang benar, karena di masa SD anak belajar nilai-nilai dasar kehidupan. Kalau waktu SD dia belajar bahwa "mencontek itu boleh yang penting tujuan tercapai", karakter macam apa yang terbentuk saat SMA nanti?

Tolong dibedakan, toleransi dan tolong menolong itu beda dengan kecurangan. Memang tidak bisa menilai manusia hanya dari angka di selembar ijazah. Tapi kita bisa menilai mereka dari kejujurannya.

Kita menuai apa yang kita semai. Kalau yang disemai adalah kecurangan, ya jangan kaget kalau dua atau tiga puluh tahun lagi kita menuai kehancuran.

Orangtua saya keduanya juga guru. Ayahku jadi guru SD selama lebih dari 30 tahun, sebelum sekarang jadi pengawas. Ibuku jadi guru SMA sampe sekarang. Dan mereka mengakui mengajar anak SD memang berat. Mereka masih anak-anak. Ada yang puinter, ada yang yah you know lah....Tapi itu bukan pembenaran untuk kecurangan.

Konon, guru itu singkatan dari digugu dan ditiru. Kalau guru menyuruh melakukan kecurangan, lantas siapa yang bisa kami tiru dalam hal kejujuran?

Kejujuran itu sikap mental. Nggak peduli dia miskin atau kaya, pintar atau bodoh.

Mungkin saya terlalu idealis. Mungkin memang sok suci. Mungkin terlalu menganggap berat masalah ini. Tapi kalau waktu SD mereka sudah gampang menyerah untuk curang saat UN, gimana lagi waktu mereka menghadapi tantangan yang lebih berat? Apa segitu ga yakinnya para murid dengan kemampuannya sendiri? Apa guru dan sekolah ga percaya dengan kemampuan muridnya sendiri hingga memilih jalan pintas?

3 comments:

wongacid said...

setuju gw mba sama opini loe. so much wrong with the education system within our contry currently. highly regret it. :(

Agus M Ramdan said...

Menurut pendapat saya Orang jurur itu tidak berkorelasi dengan orang suci.

Saat ini saya belum lihat kurikulum SD sekarang karan waktu saya SD cukup menyenangkan tidak terlau banyak tekanan dipenuhi dengan materi pendidikan yang isisnya teori yang membosankan.

Tapi karana mungkin besok lusa anak-anak kami akan masuk SD terpaksa deh mulai bulan depan harus mempelajari pelajaran SD kembali.

Waktu saya SD pun sebenarnya pernah di minta guru untuk memberikan cotekan pada yang lain tapi saya tidak nurut. Mungkin mereka takut kalau anak-anak didik mereka tidak dapat menjawab jawaban ujian. Maklulah sekolah dasar di desa terpecil fasilitasnya sangat kurang.

Agus M Ramdan said...

Untuk menambah tentang system pendidikan saya lebih setuju dengan belanda (http://indonesia-blogger.com/post/201004250203/sistem-pendidikan-di-belanda.html). Dengan system tersebut mereka dapat mengarahkan anak didik sesuai dengan minat dan bukan hanya berdasarkan nilai. Tapi bila ingin masuk ke jenjang WO (Universitas) atau HBO (Politeknik) memang dibutuhkan kemampuan akademik yang lebih baik. Tapi tidak semua siswa "dipaksa" menempuh jalur tersebut kejuruan.