Tuesday, May 01, 2012

Tentang Tuntutan


Sekedar berandai-andai. Misalnya ya, harga BBM jadi dinaikkan. Biasanya harga kebutuhan pokok pun ikut naik. Anggap ini kenaikan pertama. Lantas dalam beberapa bulan, datanglah bulan Ramadhan dan Idul Fitri, yang mana biasanya ada kenaikan harga juga. Anggap ini kenaikan kedua. Jadi dalam pandangan saya sebagai ibu rumahtangga nan dhoif ini, saya akan mengalami dua kali kenaikan harga.

Nah kenyataannya, sekarang harga BBM tidak jadi naik dan rencananya kenaikan akan dibahas lagi enam bulan dari sekarang. Masalahnya, gonjang ganjing isu kenaikan BBM (termasuk sederet demo anarkis yang menyertainya) sudah membuat harga barang naik.kalo ga percaya, boleh tanya tukang sayur yah Kenaikan pertama: check. Trus ntar datang Ramadhan dan Lebaran. Kenaikan kedua: check. Setelah itu, masa enam bulan tiba pas usai Idul Fitri. Sangat mungkin ada kenaikan harga lagi. Kenaikan ketiga: check.

Namanya kenaikan biaya hidup itu nggak bisa dihindari. Sebagai ibu rumahtangga, saya lebih suka mengalami dua kali kenaikan harga ketimbang tiga kali. Apakah ini terlintas dalam benak demonstran anarkis itu? Kayanya nggak. Sepertinya yang ada dalam pikiran mereka hanya satu: pemerintah salah. Kalau pemerintah benar, lihat statement sebelumnya.

Dan barusan saya lihat di TV ada demo May Day. Salah satunya meminta peningkatan kesejahteraan ART, minta ART digaji sesuai peraturan, mungkin dalam hal ini sesuai UMR.

Pertama, setahu saya tidak semua pengguna jasa ART itu kaya raya. Ada di antara mereka yang harus memanfaatkan jasa ART karena memang harus. Kalau suami istri ga bekerja, maka penghasilan ga cukup buat menghidupi keluarga. Kayanya dalam kasus seperti ini, menggaji ART sesuai UMR adalah hil yang mustahal.

Kedua, sekedar cerita dikit. Dulu waktu masih punya ART, saya pernah ngobrol sama ART saya, si Eka. Kebetulan waktu itu pas lagi ada demo minta peningkatan kesejahteraan ART juga. Saya bilang gini:
Mbak Eka, gpp sih digaji sesuai UMR. Jadi sama kaya buruh pabrik. Tapi kan buruh harus bayar tempat tinggal, ga tidur di pabrik. Terus makan sama transport juga bayar sendiri. Nah ART kalau mau disamain kaya gitu, ya kalau tidur di rumah majikan, harus bayar. Makan juga bayar. Sabun sampo, beli sendiri. Dan tiap enam bulan ada evaluasi, kalau kerja ga becus, ya dipecat :D Ibarat kata, mecahin piring tiga kali, babay gudbay deh.

Nah kalau Mbak Eka sekarang, makan ya sama kaya yang kita makan. Ga usah bayar kos. Sabun sampo ya udah ditanggung. Malah kalau pinter ngatur keuangan, tabungannya bisa lebih gede ketimbang buruh pabrik yang digaji UMR.

Don’t get me wrong. Majikan nggak boleh memperlakukan ART sakwenak udele dewe. ART juga harus dikasih jam istirahat memadai dan jaminan kesehatan kala ia sakit. Makan minum juga jangan dibedain. Mosok ART disuruh masak daging tapi dia cuma kebagian tempe dan ikan asin?

Majikan dan ART itu sama-sama membutuhkan. IMHO, ga usah lah pake demo segala macam kalau sekedar pengen kesejahteraannya diperhatikan. Dan tolong itu yang demo, mbok ya sadar kalau ga semua majikan itu kaya raya sampai bisa menggaji ART sesuai kemauan.

Kalau ada yang kurang berkenan, sampaikan saja sama majikan. Kalau majikannya tetep cuek bebek dan sakwenak udele dewe, ya tinggalin aja. Kayanya hari gini, lebih sulit cari majikan berkualitas ketimbang ART berkualitas.

No comments: