Monday, September 24, 2012

Hari Bolos

Pagi tadi, Ankaa mogok sekolah. Alasannya buanya banget. Mulai dari mau main aja di rumah sama Ummi, capek, sampe sedih karena tanamannya layu. Ya wes lah, ngapain juga dipaksa sekolah. Nggak ada yang mewajibkan bocah umur (hampir) lima tahun wajib datang sekolah tiap hari.

Jadi hari ini kami bersenang-senang. Usai mandi, Ankaa membantu saya mengganti tanah di pot tanamannya. Habis itu sarapan, main dakon tiga ronde (Ankaa menang dua), main tali, dan bikin chocochip cookies. Bikin kue ini nggak direncanakan. Tahu-tahu nyadar kalo sudah lama banget saya nggak melibatkan Ankaa dalam bikin kue.

Dan inilah hasilnya. Harusnya pake kismis, tapi saya nggak punya kismis dan Ankaa juga nggak suka. Kismisnya ganti chocochip (ga kreatif banget yah?). Loyangnya kurang jadi saya pake loyang pizza :D

Kata Ankaa, kukisnya enak banget. Buktinya dia langsung ngabisin separo hasil karyanya sendiri (dan satu bikinan saya). Dan itu rekor karena dia bukan penggemar makanan manis :D

Ambil adonan

Lalu dicetak

Mine :)

Hasil karya Ankaa

Saturday, September 22, 2012

Sambilan

Konon, kalau sesuatu dikerjakan karena memang cinta, karena memang minat, dan dikerjakan dengan penuh kesungguhan, Insyaallah hasilnya bagus. Udah mulai kayak motivator karir belom?

Saya selalu penasaran, kenapa sih ketua umum persatuan olahraga di Indonesia rata-rata orang "berpangkat"? Entah si ketum ternyata jendral anu, atau pejabat itu, atau bos itu, atau orang kaya ini. Kok rasanya jarang banget ada persatuan olahraga yang ketum (atau setidaknya pengurus pusat) yang dijabat oleh mantan atlet atau pelatih. Kan yang tahu persis apa dan bagaimana kebutuhan olahraga adalah orang yang memang sehari-hari berkecimpung di dalamnya.

Saya nggak meragukan kesungguhan para "pejabat" itu dalam mengurusi olahraga. Pun saya nggak meragukan kecintaan mereka pada cabang olahraga yang kebetulan mereka urus.

Pikiran saya sederhana saja. Mereka kan sudah punya pekerjaan atau aktivitas utama, apa pun itu. Apakah mereka masih punya cukup waktu, tenaga, dan konsentrasi untuk menjalankan amanah sebagai ketum persatuan olahraga tersebut.

Saya jadi bertanya-tanya, di sela-sela kesibukan dan tanggungjawab yang mereka emban, masihkah ada cukup energi untuk mengurus olahraga? Saya hanya kuatir, kesibukan utama mereka membuat cabang olahraga yang mereka urus jadi sekedar (maaf) sambilan. Atau sekedar memperpanjang CV saja. Or worse, sekedar jadi jabatan politis.

Kalau sesuatu dilakoni secara (sekali lagi, maaf) sambilan, kapan olahraga kita maju? Apa nggak lebih baik jika amanah itu diemban oleh orang yang memang seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan cintanya dicurahkan pada olahraga yang bersangkutan. Orang yang memang punya visi dan impian tentang olahraga yang ia cintai. Orang yang tahu seluk beluk permasalahan dan alternatif solusi.

Iya sih dengan "kepejabatan" (ada nggak sih istilah ini?) yang mereka miliki, mungkin ada kemudahan fasilitas dan ini itu. Tapi apa lantas fasilitas jadi jaminan prestasi? Kalau memang segala kemudahan itu jadi alasan, kok bisa ya urusan tiket ke London 2012 aja riweuh?

Suatu hal yang diurus part-time, hasilnya (sangat mungkin) tidak maksimal.

Saya dan suami mulai patah arang melihat sepakbola Indonesia. Semoga kami nggak patah arang juga melihat bulutangkis Indonesia dan cabang olahraga lainnya.

Oia, mumpung lagi ngomongin olahraga. Saya cuma nonton sekilas pembukaan dan penutupan PON Riau. Dan seketika saya membandingkan dengan London 2012. Iyaa emang nggak apple to apple. Yang saya soroti bukan persiapan (yang amburadul) atau hiburan waktu upacara kok.

Satu hal yang paling berkesan dari closing ceremony London 2012 adalah pidato Sebastian Coe. Singkat, padat, dan nyaris membuat saya berkaca-kaca. Sedangkan waktu nonton pembukaan dan penutupan PON Riau (meski sebentar), saya jadi ngantuk. Panjang dan banyak bener yak sambutannya?

Btw, Sebastian Coe mantan atlet loh. Lihat hasilnya kan?

Friday, September 21, 2012

Hasil Pilkada DKI Putaran 2

...dan Liga Champion Chelsea vs Juventus adalah.....

dua topi. Satu topi dengan lining pink buat Ankaa dan satu lagi dengan lining abu-abu buat kado ultah Gilang, tetangga depan rumah. Topi buat Ankaa dibikin saat pertandingan masuk menit 54 (yes, Chelsea seri di kandang sendiri!). Sedangkan topi Gilang dibikin mulai pertengahan quick count Pilkada DKI. Ketahuan kalo saya ga bisa njahit dengan fokus :D

bucket hat duo

Cerita sedikit. Waktu ke Mayestik, nggak sengaja saya lihat kain motif laut ini. Reflek langsung masuk toko itu. Waktu itu belom tau mau dijadiin apa, pokoknya saya pengen kain ini. Dan inilah hasilnya...

Pola dan tutorial didapat gratis dari sini.

Dan akhirnya, saya punya juga baju baru bikinan sendiri. Ceritanya udah sekilas di sini ya. Sekarang ini baju jadi andalan ke mana-mana :D




Monday, September 17, 2012

Fatwa

Orang miskin emang ga ditarik pajak. Makanya ada yang namanya PTKP.

Jadi para Kiai, dengan segala hormat, orang miskin memang ga ditarik pajak ya.

Tapi tolong Pak Kiai, bikinin fatwa tentang merokok dong. Karena seperti berita ini, justru yang miskin-lah yang jadi konsumen terbesar rokok. Penghasilan yang sudah tidak seberapa, larinya jadi asap racun. Bukan jadi penambah dana pendidikan atau kesehatan keluarga. Kalau penghasilan sudah minim, larinya ke rokok pula, kapan mereka lepas dari jerat kemiskinan?

Sungguh terimakasih atas rekomendasinya. Namanya juga mengingatkan ya. Dan sepengetahuan saya, warga NU itu taat sekali pada kiai-kiai mereka. Misalnya nih, para kiai berfatwa merokok itu haram, sepertinya akan ada banyak sekali mantan perokok-baru. Dan bisa dibayangkan berapa besar dana yang bisa dihemat dan dialokasikan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat.

Tapi saya nggak pernah dengar ada fatwa itu keluar dari Munas. Apa karena peserta juga banyak yang merokok?

Maaf lho kalo saya ada salah kata. Kebetulan keluarga besar saya juga warga NU. Dan sungguh, saya ambil risiko dijitak rame-rame dengan menulis ini :)

Mulai Melangkah

Dua tahun lalu, saya ikut aerobik. Habis badan kok rasanya berat banget karena ga pernah olahraga. Eh ternyata si tempat aerobik tutup dan instrukturnya pindah ke tempat lain. Lumayan jauh pulak dari rumah.

Setelah itu, saya ga rutin olahraga. Satu-satunya olahraga yang saya lakukan ya beres-beres rumah. Capek? Iya. Tapi saya kehilangan otot-otot yang dulu udah sempat terbentuk. Apalagi sebelum menikah, tiap pagi sebelum ke kantor, saya habiskan waktu satu jam untuk olahraga.

Ada teman yang menyarankan bersepeda. Honestly, bersepeda bukan olahraga yang cocok untuk saya. Pertama, lutut kiri saya pernah cedera. Beberapa tahun lalu, saya pernah nabrak orang pake motor. Lutut kiri saya tertimpa motor dan membentur aspal. Kalo saya salah gerak, rasanya ada yang lepas dari tempurung lutut gitu.

Kedua, karena hal pertama tadi, Fath agak keberatan kalo saya bersepeda. Apalagi bawa motor. Katanya membahayakan keselamatan pengguna jalan yang lain.

Ketiga, saya ga punya sepeda.

Baca-baca beberapa blog, terutama blog ini, saya tertarik untuk lari. Dan saya coret. Lari cepat jarak pendek? Hayo. Lari jarak jauh? Nggak. Saya masih sayang lutut kiri ya. Kalau ga terlalu jauh, masih ayo deh lari. Kapan itu pernah jogging di Menteng Park Bintaro. Enak juga.

Tapi coba ajak saya jalan kaki. Mau berapa km sodara? Saya penggemar jalan kaki dan saya berjalan dengan cepat. Yang saya butuhkan cuma alas kaki yang nyaman. Boleh sandal, boleh sepatu flat yang cantik, atau sneakers.

Awal bulan ini saya sudah coba jalan kaki dari Lotte Mall Bintaro sampai kampus STAN. Cuma butuh 10 menit dan itu sudah termasuk tiga kali mampir ke tempat fotokopi untuk nanyain kertas kalkir.

Hari ini saya mulai jalan kaki untuk olahraga. Pak Amin, ojek langganan, datang menjemput Ankaa jam 7.15. Biasanya saya sampai rumah setelah nganter Ankaa tuh jam 7.25. Dan Ankaa baru akan pulang jam 12.30. Saya itung-itung, masih cukup waktu untuk beres-beres rumah sebelum Ankaa pulang.

Hari ini, saya suruh Pak Amin pulang setelah nganter Ankaa. Saya bilang mau jalan kaki aja. Dari rumah, saya udah siap pake sneakers. Dari sekolah Ankaa, saya nyeberang sampe gang Kalimongso, tembus perumahan PJMI, terus ke jalan Bintaro Sektor 3A, lanjut ke kampus STAN. Di kampus, saya lewat jogging track biar bisa sedikit jogging tanpa mengganggu mahasiswa yang lagi mau kuliah. Dari kampus STAN, keluar di Ceger, terus nyampe deh di kompleks rumah. Total waktu yang saya butuhkan cuma 40 menit. Nyampe rumah masih bisa nyapu-ngepel-shalat Dhuha-nyetrika dengan tenang.

Doain saya bisa konsisten ya, demi kaki laiknya Maria Sharapova :D

Friday, September 14, 2012

Holiday Projects


Libur Idul Fitri ini cukup lama, tiga minggu. Niat mulia sejak awal sih, selama liburan saya pengen menggarap semua stok kain yang ada plus bikin kuker. Tapi namanya juga niat, ada yang terlaksana, ada yang nggak.

Kuker jelas nggak dibikin. Pertama, mendadak saya males (padahal semua bahan udah ada). Kedua, dapat kiriman kuker buanyak dari Malang dan dari tetangga. Alasan kedua ini memicu yang pertama juga seh he he he

Kalo stok kain, akhirnya malah kegarap menjelang Ankaa masuk sekolah. Sejauh ini saya sudah menyelesaikan tas burung hantu ini, dua celana panjang dan satu tunik buat Ankaa, satu baju buat saya sendiri, plus satu set tirai.

Maap belom ada foto, ntar menyusul ya.

Dua celana dari bahan corduroy merah, sisa bikin reversible jacket. Saya baru sadar kalo lunturnya si corduroy ternyata permanen. Waktu baru beli tu kain, kan saya cuci kaya biasa. Luntur sih, tapi namanya juga kain merah. Nah setelah si jaket jadi, kok luntur parah? Saking parahnya, kain corduroy bunga-bunga di jaket itu jadi semu pink. Aaaarrrgghhh.....

Setelah itu saya putuskan untuk tidak mengkombinasikan kain merah ini dengan apa pun. Sempet sih pengen ngasih applique atau apa lah gitu. Tapi setelah dipikir lagi, daripada udah bikin applique payah-payah trus kelunturan dan saya senewen lagi, mending ga usah deh. Celana dua biji, saya bedain lebar pipanya aja. Yang satu straight, yang satu rada baggy.


si kembar :D

Tuniknya dari bahan linen. Kesannya kaya kain lawas gitu. Love it. Dan waktu bikin tunik ini, saya sadar bahwa kain semeter sudah ga bisa buat baju Ankaa lagi. Bisa sih, cuma pilihan modelnya sangat terbatas atau harus dikombinasi. Ini aja nyaris tak cukup.

tunik pink buat Ankaa

Baju buat saya dari buku pola Jepang oleh-oleh Iva. Waktu ngambil ukuran dan mencocokkan dengan panduan di buku, saya memutuskan pake ukuran M. FYI, saya ga bisa baca huruf kanji. Untungnya ada ilustrasi yang bagus dan saya mengambil ukuran dengan mencocokkan huruf di ilustrasi dengan huruf di tabel ukuran.

Polanya saya jiplak di kertas kalkir dan saya sambung pake kertas koran sesuai panjang baju yang saya mau. Maksudnya biar irit kalkir:D

Pas udah jadi, kok ga selebar yang saya inginkan yah? Sempet kuatir saya salah menjiplak. Ternyata menurut Iva, cewek Jepang emang sukanya baju yang fitted gitu. Jadi kelonggaran bajunya emang sedikit sekali. Jadi pelajaran nih, nanti kalau mau bikin lagi, jiplak yang ukuran L atau LL sekalian.

Selain itu,saya jahit tirai. Udah niat dari kapan tau menjahit tirai buat menggantikan tirai coklat bawaan rumah kontrakan tercinta ini. Waktu ibu saya datang, beliau berbaikhati membayari tiga meter kain sprei buat tirai. Ya benar, saya pakai kain sprei.

Bayangan semula, saya mau tirai garis-garis dikombinasi polkadot. Atau kalau perlu tirai bolak balik. Apesnya, saya datang pas pegawai toko langganan saya lagi istirahat shalat Jum'at. Di toko yang saya datangi, ada kain biru yang mencuri perhatian. Warnanya baby blue, dengan salur-salur dan bunga-bunga kecil. Entah bagaimana, kain ini bikin saya ingat buku Memoirs of A Geisha, terutama bagian ini:

Day after day I watched the swift water of the Kamo River shallows rushing below the workshop; sometimes I threw a petal into it, or a piece of straw, knowing that it would be carried all the way to Osaka before washing out into the sea.

Dan setelah dua hari menjahit (saya menjahit hanya saat Ankaa di sekolah), jadi deh tirainya. Saya pakai stok kancing bungkus untuk mengaitkan. Sedangkan sabuk buat ngiket si tirai (buat kalau siang hari) saya ambil dari sisa kain biru dari baju pelaut. Pokoknya satu-satunya item yang dibeli ya kain tirai-nya. Alhamdulillah sudah punya benang biru muda juga. Tirai saya cuci sebelum bikin lubang kancing. Dan itu ternyata keputusan salah.

Sempat ada buttonholing situation karena ada benang nyangkut di mesin jahit dan ga mau lepas. Akibatnya mesin jahit saya mogok. Berhubung saya rada-rada ngefans ama MacGyver, saya bongkar itu mesin. Biasaya paling banter saya bongkar sampai tempat spool buat membersihkan dan ngasih pelumas. Tapi kali ini saya bongkar lebih jauh lagi. Aseli nekat. Alhamdulillah bisa mengembalikan seperti semula. Kalau diinget-inget, saya nekat bener ya. Mana mbongkarnya tanpa mencabut kabel dari colokan pulak. Cuma tombol off-nya aja saya teken.

Setelah itu saya bikin lubang kancing dengan cara manual, nggak memanfaatkan fitur lubang kancing lagi. Ngebut pulak, karena senja hampir turun dan gorden coklat udah di tempat laundry. Kalau saya gagal, berarti malam itu rumah kami tak bertirai.

Ini hasilnya. Bagaimana? Fath bilang rumah mungil kami jadi lebih cerah. Tirai yang sama juga ada di kamar tidur.

saat ditutup

saat dibuka.