Posts

Balada PJJ

Sudah berapa lama PJJ? Lamaaaa. Banget.  Kayanya udah hampir setahun. Baru saja selesai FGD dengan pihak sekolah Ankaa terkait wacana sekolah tatap muka dengan sederet protokolnya. Mulai dari SOP antar jemput, pakaian, jumlah siswa, sampai urusan ke toilet.  Dari perbincangan di chat room, banyak yang masih keberatan jika harus sekolah tatap muka. Me? Kalau SOP sekolah tatap muka buanyak banget dan ribet sampai memberatkan guru dan siswa, rasanya lebih baik fokus membenahi PJJ deh. What's the point masuk sekolah sekitar 2,5 jam sebulan dua kali dengan prokes sebanyak itu? Mending tetap di rumah kan?  Belum lagi kalo mempertimbangkan resiko kesehatan. Iya sih ini baru wacana, belum tahu dimulai kapan. Masih harus percobaan dulu. Tapi dalam wacana ini, di percobaan ini, yang jadi taruhan adalah kesehatan dan NYAWA siswa, guru, dan keluarga. Siapa bisa jamin semua yang terlibat taat prokes 100%? Ga ada.  Seharusnya beberapa bulan lalu Khalid dapat terapi dan check up rutin. Tapi kondi

Awal Baru

Semalam Ankaa bertanya, apakah benar merayakan tahun baru itu dilarang? Saya balik bertanya, menurut Kakak, apa sih bedanya malam tahun baru dengan malam lainnya? Sama saja. Cuma beda tahun. And this is what I told her. Saya ga merayakan tahun baru. Males aja begadang apalagi ganggu lingkungan dengan main petasan.  Tapi saya menggunakan awal tahun untuk kilas balik progress setahun terakhir. Apakah target tercapai? Apakah makin baik atau justru makin buruk? Alhamdulillah terlepas dari pandemi, kami baik2 saja. Ini udah nikmat banget. Ankaa lulus SD dengan prestasi membanggakan. Khalid alhamdulillah dapat SD tujuan dan kasih kejutan dengan rekues khitan mendadak.  Nikmat terbesar: ini tahun pertama sejak 2014 di mana saya tidak lari-lari ke IGD dan megangin Khalid saat tindakan. Ini tahun pertama sejak 2014 dengan jumlah kunjungan RS paling minim. insyaAllah ke depannya juga tidak ada lagi lari-lari ke IGD. Beberapa target pribadi saya malah tercapai jauh lebih awal dari perkiraan.  Ren

Klub Keluarga Mata Empat

Per 17 Desember lalu, kami resmi jadi anggota klub keluarga mata empat setelah Khalid pakai kacamata. Udah gitu langsung gede pulak. Minus 3 silinder 0,75. Kok bisa ga ketahuan? 1. Mamahnya telat cek padahal dari waktu TK A, pihak sekolah udah ngingetin untuk cek sebelum anak2 belajar kenal huruf. Kepending ina ini inu plus pandemi. (Ngaku salah deh) 2. Selama pandemi kan bener2 jarang keluar. Bocahnya juga jarang nonton TV atau main gadget. Seringnya kalo ga main dino/lego/sejenis, ya baca. Dan itu kan dekat jadi ga berasa kalo pandangan jarak jauhnya kabur. Ketahuannya justru karena Khalid ga bisa baca subtitle DVD.  Terus setelah pakai kacamata, ketahuan deh kalo bocah ini benernya udah bisa baca jam. Cuma selama ini salah terus karena ga bisa melihat posisi jarum jam.  Kalau dari penjelasan Budok, ada faktor genetik (saya dan Paksu sama2 pake kacamata sebelum 18 tahun), usia yang masih masa pertumbuhan, lifestyle, dan nutrisi. Meski ya kalo gen mata minus udah ada, mau dijejelin wo

Here We Go Again

 Bismillahirrahmanirrahim Apa kabar blog? Rasanya sudah satu milenia berlalu sejak blog ini terakhir diperbarui. So what's new? Pertama, saya menulis ini saat suasana pandemi di Indonesia hampir mencapai peringatan pertama. Kami tetap di rumah, anak-anak melakukan pembelajaran jarak jauh, dan hampir semua aspek hidup kami beradaptasi dengan kondisi baru.  Hampir? ya. Sebagai orang yang lebih suka ndekem di rumah, anjuran untuk tetap di rumah bisa saya jalani dengan cukup baik, IMO. Semua kebutuhan saya dapatkan secara online lewat pesan WA atau marketplace. Di titik ini saya merasa sangat bersyukur. Anak-anak juga bisa diminta tetap di rumah atau mau pakai masker jika harus ke luar rumah.  Karena masih LDM dengan Paksu, kami sempat tidak bertemu hampir empat bulan lamanya. Sekarang sudah mending bisa lah sebulan sekali dengan tetap pakai masker dan rapid test ulang sesampainya di sini. Kedua, kayanya terakhir ngisi blog ini tentang review Wonder. Dulu baru ada Ankaa, sekarang ada K

Slippery When Wet

Ada orang yang seperti lantai baru dipel. Berkilau indah namun licin. Kamu harus hati-hati melangkah. Salah sedikit, jatuhnya sakit.

Review: Wonder (2017)

You can’t blend in when you were born to stand out. Disclaimer: I’m not a big fan of movie adaptation. I hate almost all movie adaptation.  I read the book first.  In real life, I am Isabel Pullman.  Beberapa bulan silam, saya membeli buku Wonder (R.J.Palacio) dengan alasan sepele. Kalau nanti filmnya dirilis, cover buku keburu jadi poster film. Sesuka-sukanya saya sama Mbak Julia, kayanya nggak deh kalau harus punya buku dengan sampul bergambar wajah Mbak Ju. Serius. Saya sampe batal beli The Fault in Our Stars gegara sampul di toko buku mendadak jadi Shaylene Woodley.  And I loves the book . Jadi saat filmnya keluar, jadi penasaran bakal dibikin kaya apa nih buku? Baiklah. First of all , ada banyak scene yang membuat saya berseru (dalam hati, tentu): “Woi itu kalimat milik si A. Kok diucapkan si B?” Atau “Perasaan urutan kejadiannya gini deh.”  Setelah lima menit pertama, saya memutuskan untuk menonton dengan lebih santai. Saya menonton dengan mengabaika

Banana And Me

Saya punya hubungan butuh-tapi-eneg sama buah bernama pisang. Jujur aja, pisang bukan buah kesukaan saya. Masuk dalam daftar sepuluh buah favorit pun tidak. Ibarat kata nih, misalnya lagi di pasar buah dan boleh masukin buah apa saja, kayanya saya ga bakal ambil pisang :D Masalahnya, saya ga bisa minum obat berwujud pil/tablet/kapsul tanpa bantuan pisang. Yak, silakan ketawa. Yes this is me, a 32 years old woman who can't even swallow the smallest pill without banana. As per now, the only pill I could swallow without banana is Promag :D Makanya saya males banget kalo lagi sakit dan harus minum obat berwujud pil/tablet/kapsul. Boleh deh dikasih sirup pahit, asal bukan tiga jenis itu. Lha pake pisang aja masih suka rada-rada mau muntah, apalagi ga pake. Pernah sih saya coba pake roti, nasi, atau apa lah itu. Gagal. Eugh :( Pekan lalu, saat tahu saya positif hamil, pikiran pertama saya adalah bakal ketemu pisang tiap hari selama sembilan bulan. Vitamin bo, asam folat dan rekan