Thursday, October 12, 2006

pre-wedding syndrome

setelah lebih dari 24 tahun menduduki kursi ketua umum Partai Jomblo Indonesia *fitnahan ga mutu pada diri sendiri*, tiba-tiba sepuluh bulan lalu meng-iya-kan lamaran seseorang. bisa dibilang, sepuluh bulan terakhir isinya rencana rencana rencana untuk menikah menikah menikah. kalo dari gaya pacarannya, biasa aja. ketemuan seminggu sekali, dan dalam waktu-waktu tertentu malah ketemuan cuma sebulan sekali *jablaaaiii*

tapi aku benar-benar menikmati kejombloan selama bertahun-tahun, dan seingatku tak sekalipun ngiri meski teman-temanku sibuk pacaran. dunia terlalu indah untuk bete hanya karena jomblo.

kadang aku mikir, bisa gitu jadi istri+ibu yang baik hebat? sanggup gitu menghabiskan sisa umur sama satu orang itu? bisa gitu berdiam diri di rumah kalo suatu saat keadaan memaksaku berhenti kerja? dan sejuta pikiran lain.

selama ini aku menganggap diriku PASTI bisa. kalau Ummi-ku sanggup mengajar di tiga sekolah sekaligus, dari pagi sampe sore, dan masih sanggup kuliah S-1 lagi, sambil tetep jadi istri+ibu+kakak+adik+manajer urusan persawahan+entah apa lagi, mustinya aku juga bisa dong. masa kalah sama Ummi sendiri?

tapi tadi pagi, sepertinya bukan sejuta pikiran itu yang bikin aku be-te. membayangkan diriku yang terbiasa pergi ke mana-mana sesuka hati tanpa perlu izin, dan mendadak harus izin pada suami...rasanya aneh. inget bahwa untuk ikutan kegiatan apa aja harus izin. belum lagi soal milih baju. ditambah lagi inget sebentar lagi berakhirlah acara debat-panjang-ga-mutu-tentang-bagaimana-dunia bersama windx. inget musti ninggalin kos tercintah berikut empat penghuni gila dan satu nenek sihir di dalamnya. inget kalo tahun ini adalah tahun terakhir Ayah bayarin zakat fitrah-ku [FYI, soal ini Ayah strict banget: zakat fitrahku hanya boleh dibayarin Ayah ato suamiku!].

jadi benar-benar ragu-ragu............

I love Fath, so much. kalimat witing trisno jalaran soko kulino benar-benar berlaku dalam hubungan kami. tapi kadang keraguan itu masih muncul, apakah bersama dia adalah harga yang layak atas hal-hal yang mungkin takkan pernah kujalani lagi?

mungkin aku terlalu pesimis. mungkin pendapatku tentang pernikahan empat tahun lalu muncul lagi: pernikahan itu mengekang. mungkin aku takut. pengecut.

tapi mungkin juga, aku sekedar kena pre-wedding syndrome yang terlalu dini.

6 comments:

Irma said...

Punya suami banyak juga enak nya kok Nyam. Salah satunya klo safar ada mahrom yang menemani, ada bodyguard.
Keluyuran? siapa bilang ga bisa. Aku pernah (apa sering yah?) keluyuran sampe lewat tengah malam, tentu saja bareng masTham :D

MaIDeN said...

Pernikahan itu bukan mengekang tapi membebaskan ...

nYam said...

@Mbak Irma: iyup, tapi bete kmaren lebih karena mendadak terkena serangan ga-siap -mundur-dari-posisi-ketua-partai-jomblo ^_^

@Maiden: i know.....tapi kayanya dia bakal mau deh diajakin nonton final basket sampe malam banget he he he....those good old days

woro said...

ya... namanya jg sindrom. ntar jg ilang sendiri klo dah ngejalanin (katanya lohh... hehehe). namanya jg memasuki sesuatu yg baru pasti ada rasa was-was. sering2 shalat ajah ya... good luck!
mmuuuaaahhh!

windx said...

gak papa. jabatan ketua serahkan saja padaku. kapan kita serah terima jabatan?

Nurul said...

wah..wah...yang lagi kena sindrom... :*