Monday, June 09, 2008

Ankaa Sakit (2)

Stupid mother. That's me.

Aku tahu penyebabnya. Aku tahu cara pencegahannya. Aku tahu gejalanya. Aku tahu rasa sakitnya. Aku bahkan pernah mengalami sendiri.

Tapi tetap saja, aku luput mencegah anakku sendiri kena penyakit yang sama.

Aku cuma bisa curiga curiga curiga. Dan saat benar positif, aku cuma bisa berharap belum terlambat.

Begitu Ankaa sembuh, aku agak heran karena ada perubahan di pola BAK-nya. Pipisnya jadi seicrit-icrit tapi sering. Udah gitu, kalo malam dia jadi sering ngompol, padahal sejak usia 4 bulan, Ankaa udah ga pernah ngompol malam.

Nafsu makannya juga berkurang. Tapi kupikir karena dia baru sembuh dari sakit.

Jum'at lalu, tiba-tiba Fath telpon: Ankaa demam sampai 40,4 C. Aku kaget. Langsung pulang meski jarum jam baru menunjukkan pukul 13.00. Sampai rumah, Ankaa lagi digendong a la kanguru. Demamnya sudah turun jadi 36,5 C setelah dikasih Tempra.

Tiba-tiba, malam hari sekitar jam 22.00, demamnya muncul lagi. Kali ini 39,2 C. Dikasih Tempra malah muntah. Langsung aku telpon taksi, ke RS IMC. Sebenarnya itu bukan pilihan pertama, tapi jaga-jaga kalo Ankaa perlu tindakan lain. Lagipula DSA Ankaa praktek di situ dan berdasarkan informasi dari IMC, DSA nya bisa on call.

Sampe sana, langsung dibawa ke UGD. Diukur suhu, 39,7 C. Eh sama dokternya langsung dikasih Proris stup lewat dubur. Ga pake ngomong apa-apa. Hei, anakku masih bisa nelan obat, ngapain dikasih lewat dubur? Perawatnya cuma bilang karena demam tinggi. Aku cuma bisa melotot karena kejadian itu sangat cepat. Belakangan aku cek, obat yang diberikan berisi ibuprofen yang hanya boleh diberikan pada anak di atas usia 1 tahun.

Udah gitu, aku tanya ke dokter jaga yang sedang menulis resep
nYam: "Dok, anak saya sakit apa?"
Dokter: "Oh, radang tenggorokan. Tuh merah-merah"
nYam: (mbatin: ya iyalah merah...lha anak gw barusan nangis) "Radangnya karena apa? Virus atau bakteri?"
Dokter: "Virus kayanya"
nYam: (mbatin: maksut lo kaya apa neh?) "Itu diresepin apa?"
Dokter: "Oh ini antibiotik, tapi ringan kok Bu"
nYam: "Kalau anak saya sakit karena virus, kenapa diresepkan antibiotik? Bukannya virus ga mempan sama antibiotik?"
Dokter: (diem ga bisa jawab)
nYam: "Trus itu apa lagi Dok? Kok banyak banget obat yang diresepkan?"
Dokter: "Ini puyer bu. Buat demamnya"
nYam: (mbatin: hare ghenee lo kasih puyer?? plis deh)
Keluar dari UGD, aku bilang ke Fath: obat jangan ditebus karena ga masuk akal. Masa dikasih Amoxsan dll yang sekilas aku lihat ada obat penenang juga dalam puyernya. No way. Anak gw ga butuh obat penenang. Makasih Dokter Toni, tapi kami tidak sebodoh yang Anda kira. Mungkin kami ceroboh hingga Ankaa sakit, tapi kami ga segitu begonya sampe mau aja terima puyer isinya ga jelas macam gitu. Emangnya mau bunuh anak sendiri apa?

Sepulang dari IMC, ga henti-hentinya aku menyesali Proris yang keburu masuk itu. Ya Allah, semoga ga ada efek mengerikan dari obat itu.

Besoknya, Ankaa masih demam. Aku telpon dr Astrid, disarankan kalo masih demam 72 jam, cek urin. Tapi aku ga sabar, langsung coba tampung urine Ankaa. Dapet dikit, nyaris ga cukup. Lha petugas di lab aja geleng-geleng.

Sembari menunggu hasil lab, aku telpon ke klinik YOP. Janjian dengan dr Ian. Curiga ISK juga. Begitu hasil lab keluar, aku telpon mengabarkan hasilnya. Ya, positif ISK. Langsung menuju Klinik YOP, diantar Pak Wayan.

Sampe sana, timbang BB Ankaa....OMG...turun lagi. Huiks. Dikasih resep, kali ini mau ga mau emang harus AB. Untung bentuknya sirup, jadi ga repot waktu mau kasih. Akhirnya diputuskan, penyembuhan ISK dulu baru kemudian observasi lagi masalah BB Ankaa. Kemungkinan, ini silent ISK. Itulah kenapa BB Ankaa susah banget naik. Dan mungkin muncul karena daya tahannya masih lemah usah batpil itu.

Alhamdulillah kondisi Ankaa sekarang mulai membaik. Nafsu makan mulai naik. Frekuensi pipis semakin jarang, tetap dalam ambang normal. AB nya diteruskan sampai 7 hari, setelah itu cek urine lagi.

Ini teguran untuk kami. Salahku karena kurang melatih Eka membersihkan Ankaa.

Kemarin, keputusan sudah diambil. Fokusku adalah anakku. Pada Ankaa. Usai pendarahan yang hampir membuatku "lewat", aku berjanji memanfaatkan kesempatan kedua ini sebaik-baiknya. Tapi ternyata tidak. Aku ceroboh.

Kesalahan ini tidak boleh terulang lagi. Langkah besar itu sudah aku ambil pagi ini. Belum keluar keputusan final dari pihak berwenang, tapi aku berharap bisa secepatnya. Sebelum terulang kejadian yang lebih buruk lagi. Ga mudah, tapi bukan berarti aku ga bisa. Insyaallah akan ada jalan.

4 comments:

Nur Rachmawati said...

syafakillah ankaa...

Mommy Alya-Asha said...

Niam sayang, you're not a stupid mother. Kamu adalah salah satu ibu terbaik yang pernah aku temui. Jangan pernah menyesali diri dan keputusanmu ini, ini adalah hal terbaik yang pernah kamu ambil. Aku tahu banget, kamu sudah berusaha memberikan Anka yang terbaik yang kamu mampu, I know it well.

Percayalah darling dibalik ini ujian ini, insyaallah Allah sudah menyimpan rencana yang terindah buat Niam, Fath dan Anka.

Selamat menikmati peran barumu, Aku tau peranmu yang akan datang akan lebih menantang dibanding dengan yang ada sekarang.

Mulai hari hari besok, diujung tidurnya akan selalu tersungging senyum di bibir mungil Anka.

Selamat bertugas mom.

nana said...

smoga cepet sembuh ya Ankaa... :)
bnr kata yg komen diatas mbak, nggak akan ada pngalaman baru kan kalo ada kejadian bgini. paling nggak kita bisa ambil ilmu dan hikmahnya.
btw, aku ikutan milis sehat juga hehehe.. asik nih, kalo ntar dah lahir dedenya bisa share ilmu.. ttg YOP juga, blom tau aku letak persisnya :D tau alamatnya doank
ya, kpn2 bisa share-lah.... :D

Mam said...

Mbak Niam rahimakillah,
maaf mo ngoreksi dikit ibuprofen kt dr.Wati 10 th keatas tp aq cek di mayoclinic malah 12th keatas.maaf linknya ga diikut sertakan .buru2 nih.
Berbshagialah qt dibimbing Allah bs jd keluarga besar milis sehat. Alhamdulillah ....
salam kenal